Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Arsyad Di RS Harapan Mulya


__ADS_3

Tak berselang lama saat Nada pergi, Seorang pemuda tampan datang tergopoh-gopoh. Iya mendekat ke arah UGD. Dan ibu Restu yang masih duduk di kursi merasa jika anak muda itu mencari seseorang. Melihat hanya ada ibu itu di depan UGD, Arsyad menghampirinya.


"Permisi bu... Apa ibu melihat seorang gadis SMA yang di sini? " Saking khawatirnya dia dengan keadaan Nada, Arsyad sampai lupa harus bertanya kepada siapa.


"Maksud anak muda nak Nada? " Ibu itu langsung berkata dengan perasaan takut. Iya langsung tahu karena Nada masih mengenakan seragam SMAnya.


"Iya... Ibu tahu dimana dia sekarang? " Tanya Arsyad.


"Nak Nada sedang mengurus administrasi nak" Jawab ibu itu dengan suara pelan. Kaget bukan main Arsyad mendengar apa yang dikatakan orang itu.


"Maksud itbu bagaimana? Bagaimana mungkin Nada yang sudah tidak berdaya mengurus administrasi sendiri" Arsyad mulai kehilangan kesabarannya.


"Maksudnya bagaimana? Nada itu tidak apa-apa. Yang kenapa-kenapa itu anak saya. Yang menolong Nada" Jawab ibu Restu.


"Hah...😯 Maksudnya bagaimana buk. Bukannya tadi baju Nada banyak darahnya? " Tanya Arsyad. Dan ibu Restu langsung menceritakan semuanya.


"Jadi Nada baik-baik saja? " Arsyad kembali bertanya.


"Iya... sekarang ada di tempat administrasi" Ibu itu mengangguk sambil berkata. Arsyad pun langsung lari mrnyusul Nada.


Nada berjalan ke arah dimana tempat mengurus seluruh administrasi.


"Permisi... Mohon maaf bu. Saya mau mengurus administrasi atas nama Restu. Korban kecelakaan yang mau oprasi" Nada berkata dengan sopan.


"Oh.. Iya sebentar ya dek" Jawab salah satu petugas. Nada hanya menunduk. Menunggu hampir 15 menit, petugas itu memanggil kembali.


"Dek, ini biaya yang harus di bayar. Ini adalah biaya oprasinya. Sedangkan untuk biaya yang lain di bayar nanti sebelum pulang" Ucap petugas itu. Nada segera menerima selembar kertas berisi tulisan angka rupiah. Tertuliskan 18.830.000. Nada ingin mengetes bagaimana kebijakan rumah sakit ini. Dan sepasang mata sambil bersembunyi di balik tiyang, menatap Nada dari kejauhan.


"Ini kalau misalkan belum dibayar bagaimana? " Iseng Nada bertanya.


"Terpaksa oprasi belum bisa kami lakukan dek. Paling tidak harus membayar separo dari biaya oprasi" Jawab petugas itu. Tak ingin membuang waktu, Nada mengeluarkan dompet dengan merk tak terlalu mahal. Mengeluarkan sebuah katu ATM.


"Bayar pakai ini bisa? Daripada saya keluar" Tanya Nada.

__ADS_1


"Bisa saja asal ada uangnya dek" Jawab petugas itu ketus.


"Maaf, apa tidak bisa bicara dengan ramah. Melayani seseorang dengan baik, aku rasa juga menjadi bagian materi dari training sewaktu anda masuk kesini kan? " Nada berkata dengan beraninya.


"Bukan masalah jika saya hanya dipandang sebelah mata. Tapi berfikirlah untuk menjaga perasaan orang lain. Jangan memandang seseorang hanya dari penampilannya saja" Ucap Nada.


"Anak kecil tahu apa sih kamu" Jawab petugas didepannya semakin ketus. Namun Nada sudah mempersiapkan semuanya. Iya mengaktifkan camera di smartwatch nya.


"Kalau anda melihat dari segi besar kecilnya seseorang, anda akan menyesal. Lebih baik perbaikilah sikap anda. Sebelum sesuatu yang tak diinginkan terjadi" Ucap Nada. Petugas tersebut hanya tersenyun sinis, meremehkan Nada.


"Ini pin nya berapa? " Ucap petugas tersebut sangat tidak sopan sambil menyodorkan sebuah alat dengan kasar. Namun saat Nada akan mengambil, Arsyad sudah berhenti di belakangnya.


"Sayaang... Ada apa? " Tanya Arsyad tiba-tiba. Hal tersebut membuat petugas itu melotot terkejut. Arsyad mengedipkan satu matanya memberi tanda kepada Nada.


"Katakan! Kenapa dia sangat tidak sopan kepadamu saat memberikan alat itu? " Tanya Arsyad. Nada pun tak ingin ini menjadi masalah.


"Aa... Anu... Tadi ngga sengaja pas mau ngasihin ini sedikit terjatuh. Bukan tidak sopan" Jawab Nada gugub. Iya tak ingin orang ini mendapat masalah dari Arsyad.


"Kamu fikir mas akan percaya? Mas melihat semuanya. Dia sangat buruk dalam melayani. Dari tadi mas sudah berdiri disana. Memperhatikanmu" Perkataan Arsyad membuat orang tersebut bergidik ngeri.


"Siapapun yang kamu layani, kamu harus bertindak sopan. Apalagi kepada adikku" Ucap Arsyad. Namun Nada juga terlihat sangat takut. Takut jika petugas didepannya dipecat.


"Anu tuan..." perkatannya terhenti ketika Nada berkata.


"Em.. Ini pin nya sudah. Bisa di cek" Ucap Nada mencairkan suasa. Dengan tangan gemetar, petugas administrasi meraih alat itu. Lalu mencabut kartu ATM dan mengembalikannya kepada Nada. Nada langsung menarik tangan Arsyad menjauh dari tempat itu.


"Terimakasih" Ucapnya.


"Tunggu panggilannya" Ucap Arsyad sambil melangkah meninggalkan tempat itu.


Setelah berada jauh dari ruang administrasi, Nada melepaskan tangan Arsyad. Jantungnya seakan melompat dari tempatnya. Namun siapa sangka Arsyad malah menarik tangan Nada. Hingga keduanya duduk.


"Kenapa tidak menghubungiku. Dan kenapa memakai uangmu untuk membayar? " Tanya Arsyad dingin.

__ADS_1


"Maaf... " Hanya itu kata yang diucapkan Nada.


"Kita harus ke tempat ibu itu" Nada memalingkan mukanya dari tatapan Arsyad. Iya berdiri. Arsyad pun mengikuti.


Sesampainya di sana, terlihat ibu Restu yang sedang melamun.


"Bu..." Ucap Nada membuyarkan lamunannya.


"Nada" Entah apa yang dirasakan oleh ibunya Restu. Tiba-tiba dia menangis.


"Ibu ngga usah khawatir masalah biaya. Yang penting do'a ibu untuk kelancaran oprasi Restu" Nada memeluk ibu Restu. Iya juga bisa merasakan sakit diposisi seperti ini. Bayangan kecelakaan ayahnya kembali melintas dalam fikirannya.


"Terimakasih banyak nak. Kalau tidak ada kamu, ibu tidak tahu harus berbuat apa" Ucapnya sambil terisak.


"Tidak masalah bu, Allah sudah mengatur semuanya. Jangan khawatirkan masalah biaya. Ini nomor saya. Kalau ada apa-apa hubungi saya ya bu" Sambil menyodorkan secarik kertas Nada berkata. Arsyad hanya menyaksikan semuanya dengan hati terharu. Hati tulus seorang Nada yang tidak ada duanya.


"Oh iya bu... Saya pulang dulu. Nanti Insya Allah kesini lagi" Ucap Nada sangat sopan. Iya swgera membuka tasnya dan mengeluarkan dompet. Mengambil beberapa lembar uang berwarna merah.


"Ini untuk pegangan ibu" Nada berkata sambil menyodorkan uang tersebut.


"Tidak usah nak, terimakasih. Ibu sudah banyak merepotkanmu" Tolak ibu itu dengan halus.


"Saya yakin, ibu akan membutuhkan uang ini. Hanya sedikit bu" Ucap Nada lagi.


"Ambil lah bu, supaya adik saya senang karena bisa membantu, dan ini ada sedikit tambahan dati saya. Kami nanti akan kembali lagi" Ucap Arsyad. Nada menoleh, Iya melihat Arsyad yang juga memberikan beberapa lembar uang. Karena memang sangat membutuhkan, akhirnya ibu itu menerima.


"Terimakasih... Terimakasih... Ibu berjanji akan menyicil semuanya" Ucapnya dengan terharu.


"Kalau begitu kami pamit dulu ya bu. Semoga oprasinya lancar" Nada berkata. Setelah ibu itu mengangguk. Iya perlahan meninggalkannya seorang diri. Arsyad dan Nada berjalan bersama.


"Kamu bawa motor? " Tanya Arsyad dan Nada pun mengangguk.


"Motormu ditinggal saja ya, biar aku antarkan" Arsyad berkata.

__ADS_1


"Ngga usah mas, aku bisa pulang sendiri" Nada menolak.


"Jangan menolak, aku tahu kamu lelah. Dan aku tidak mau di tolak" Ucap Arsyad sambil meraih tas punggung Nada. Karena tak ingin berdebat, akhirnya Nada setuju. Akhirnya iya pulang di antarkan Arsyad.


__ADS_2