
Perjalanan dari bandara Juanda menuju ke kota Reog Ponorogo masih memakan waktu kurang lebih 3 jam. Alhasil Nada yang semulanya ingin naik taksi online terpaksa harus ikut naik mobil yang ditumpangi oleh keluarga Daffa. Sebuah mobil Alphard yang kini tengah dalam perjalanan menuju ke kediaman Abah Ayub. Sedangkan Nada terdiam merasa tak enak hati kepada keluarga Daffa yang memberinya tumpangan secara gratis.
" Ibu sama bapak. Terima kasih ya sudah memberi Nada tumpangan" Nada yang berucap sedemikian rupa membuat Hana yang berada di sampingnya menoleh lalu tersenyum.
" Sama-sama... Emangnya kamu tahu di mana kediaman Abah Ayub" pertanyaan Hana dijawab gelengan oleh Nada. Pasalnya iya benar-benar tidak mengingat secara detail di mana letak kediamannya dulu.
" Kamu ada kan alamatnya? " Hana masih tetap bertanya.
"Hemmm... Anu bu, saya cuma berbekal alamat yang tertera di undangan saja. Tidak banyak yang saya ingat tentang kota kelahiran saya ini" jawab Nada sambil mengeluarkan sebuah undangan yang berada di dalam tasnya. Dan semua orang yang berada di mobil itu tersenyum memandang dirinya.
"Karena kita juga belum tahu, makanya kita ingin kamu jadi petunjuk jalan" Hana mebgelus pucuk kepala Nada sambil tersenyum. Sedangkan Arsyad yang berada disamping mamanya memandang Nada tanpa berkedip.
"Matanya tolong dikondisikan. Bukan muhrim lihat-lihat sampek mau keluar kaya gitu" tiba-tiba Arsyida yang duduk di kursi belakang berceloteh.
__ADS_1
" Takut ada yang memandang selain aku" ucap Arsyad asal.
" Sembarangan kamu" cubitan Hana membuat Arsyad meringis kesakitan.
" Hahaha... cubit aja mah sampai gosong juga nggak apa-apa. Mau macam-macam dia" sontak perlakuan Hana membuat Arsyida dan yang lain tertawa.
" Nada kalau kamu digodain sama Arsyad Hajar saja dia. Biar tahu rasa" Arsyida sengaja memprovokasi Nada supaya ikut membuat Arsyad terpojok. namun nada hanya menjawab dengan senyuman.
" Nada coba lihat" sambil berkata arsyida pun mendekat ke arah Nada. dipandangnya wajah gadis yang berada di depannya.
" Kelakuan kamu nih. Lihat mukanya jadi merah kayak kepiting rebus" Arsyida kembali menggoda Nada. Namun yang digoda hanya diam dan tersenyum tanpa membalas sepatah kata pun.
" Nggak papa lah merah, hatinya juga merah kayak aku" Arsyad pun kembali menggoda Nada hingga mendapat sebuah Cubitan yang membuatnya meringis kesakitan. Terlihat sedikit merah di lengannya akibat cubitan dari Hana.
__ADS_1
" Sayang jangan dengerin mereka berdua ya. Mereka berdua memang kayak gitu seperti anak kecil saja. Nggak ada akurnya kalau lagi bersama dari dulu" Hana pun merangkul pundak Nada dan ada hanya tersenyum menanggapi semuanya.
"Mah, habis di tempat abah Ayub, Arsyad nanti sekalian Arsyad sama Nada ya" Ucapan Arsyad membuat semua orang menoleh kepadanya. Dan tak lepas dari kejahilan Arsyida pula.
"Lu kaga sedang demam kan Syad? " Tanya Arsyida menyentuh dahi saudara kembarnya.
"Kak Haidar, tolong ajarin sopan santun ya ke istrinya" Arsyad sedikit kesal karena Arsyi terus saja memprovokasinya.
"Belum istri, masih calon... Jangan disamakan" Tiba-tiba ucapan Daffa membuat suasana di dalam mobil menjadi hening.
"Sekalian aja pah nanti, kan di pesantren abah Ayub bisa nikahin. Arsyi sama kak Haidar, Arsyad sama Nada, terus... Siapa yang mau nikah, gus Zidan sama calon istrinya" Ucap Arsyad panjang lebar. Dan semua membuat orang memandang ke arahnya kembali. Tatapan tajam Nada membuat Arsyad terdiam.
"Sekali lagi bicarain pernikahan, aku tidak akan segan-segan membuat anda menyesal tuan muda" Ucapan Nada dingin dan mempu membuat Arsyad menoleh serta menatapnya. Pandangan mereka bertemu. Beberapa detik kemudian, lamunan Arsyad terbuyarkan oleh sebuah pukulan di pundaknya, cubitan di lengannya serta sebuah kain hitam menutupi seluruh mukanya. Dan setelah itu, akhirnya mereka tertawa bersama keras sekali. Dan kendaraan yang mereka tumpangi pun terus melaju menuju arah kota tujuan.
__ADS_1