
Waktu sudah menunjukkan jam 01.45 dini hari. Hana dan Arsyad masih berkutat dengan layar laptop di depannya. Namun usaha mereka kali ini sepertinya membuahkan hasil.
"Jadi ini perawat yang tadi masuk dan menyuntik kakek Wira? " Tanya Arsyad. Hana mengangguk karena tadi memang dirinya mengetahui jika orang yang dimaksud Arsyad ciri-cirinya sama seperti yang berada di foto itu.
"Berarti kejadiannya tidak lama sebelem Arsyad datang ya ma? " Dengan penuh rasa penasaran, Arsyad terus bertanya kepada mamanya.
"Sudah cek ponselnya secara keseluruhan nak? " Hana mengingatkan.
"Belum. ma. Ini Arsyad mau lihat siapa yang barusan telepon" Dengan segera Arsyad mengambil tab yang masih di charger. Lalu mengotak-atik sesuatu. Setelah mengetikkan entah apa di layar ponselnya, keluarlah informasi yang dia inginkan.
"Mah, nona Lies itu siapa? " Tanya Arsyad.
"Coba lihat informasinya" Hana pun melihat, dan dia terkejut setelah tahu siapa wanita itu.
__ADS_1
"Ini... Ini bukanya Alysa? " Gumam Hana sambil memperhatikan foto seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Namun tiba-tiba pintu terbuka.
"Kalian belum tidur? " Daffa dan Haidar datang dan langsung mendekat. Iya segera bertanya apa yang dilakukan istri dan anaknya hingga selarut ini belum tidur.
"Pah, ini... Kontak nama nona Lies sepertinya mama pernah lihat ya? " Tanya Hana. Seketika mata Daffa yang terasa berat menjadi lebih ringan disaat iya mengetahui jika yang saat ini anak dan istrinya bahas benar-benar Alisa.
"Ada apa dengan dia? " Daffa bertanya.
"Papa kenal sama orang ini. Dia Ini pah, orang yang sudah menyuruh pemilik ponsel ini untuk mencelakai kakek Wira" Ucap Arsyad dengan memandang kedua orang tuanya. Daffa hanya bisa mengeryitkan dahinya. Heran dengan apa yang sudah di lakukan Alisa, mantan kekasihnya dulu.
"Ngga pa, papa baca saja semua pesan dan VN dari nona Lies di ponsel ini" Arsyad memberikan ponsel itu kepada papanya.
"Kita istirahat dulu ya. Ini sudah hampir pagi. Kakek juga sudah berhasil diselamatkan" Ucap Daffa sambil menerima ponsel itu.
__ADS_1
"Alhamdulillah" Ucap Hana dan Arsyad bersmaaan.
"Arsyi sudah tidur? " Daffa menanyakan putrinya.
"Sudah dari tadi" Jawab Hana.
"Ayo kita istirahat dulu" Daffa pun meletakkan kembali ponsel yang iya pegang. Lalu mereka masuk ke kamar dimana Arsyi sudah terbuai dalam mimpi indahnya. Terdapat 2 ranjang di kamar itu. Namun Arsyad tak ikut masuk, iya memilih untuk tidur di sofa saja. Sedangkan Haidar memilih menemani adiknya di luar. Sedangkan kakek Wira, iya belum sadar dari pingsnnya karena pengaruh obat yang diberikan sang dokter.
Subuh telah datang, suara adzan berkumandang. Menandakan mentari akan segera menampakkan diri. Haidar sudah bangun sejak tarhim berbunyi tadi.
"Kek, Haidar akan terus berusaha hingga menemukan titik terang dari ini semua" Gumam Haidar di atas sofa. Dipandangnya Arsyad, adik angkat yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya itu.
"Aku akan berusaha untuk mencarinya. Dan mereka akan menerima balasan yang setimpal dari apa yang sudah mereka lakukan" Batin Haidar. Iya tak ingin kehilangan orang-orang yang sudah sangat menjaganya. Menyayangi dengan sepenuh hati. Hingga sebuah ketukan menyadarkan dirinya. Dengan segera Haidar bangkit lalu menuju ke arah pintu. Setelah dibuka, seorang pengawal datang dan memberi tahu.
__ADS_1
"Tuan Haidar, tuan Wira sudah sadar, dan sekarang beliau mencari anda" Ucapnya. Haidar mengangguk lalu dengan cepat berlari menemui kakeknya.