Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Maukah Kamu Menikah?


__ADS_3

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Nada segera keluar dari kelas dan berjalan menuju ke parkiran. Iya mengambil sepeda motor dan keluar dari gerbang. Namun belum sempat ia keluar sepenuhnya dari gerbang sekolah, seseorang menghentikannya.


"Nada..." Panggil seseorang yang suaranya tidak asing ditelinga Nada. Nada segera menoleh dan melihat Siapa yang memanggilnya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Arsyad semalam benar-benar dilaksanakan. Arsyad sudah menunggu di depan gerbang.


"Mas Arsyad?" Nada segera menurunkan standar sepeda motornya nya dan melihat ke arah Arsyad.


"Ayo ikut denganku" Arsyad keluar dari mobil dan menarik lengan nada dengan lembut. Iya mengajak Nada masuk ke dalam mobilnya.


"Maaf... Sebenarnya mau ke mana dan ada apa? Sepeda motor aku gimana?" Nada pun bertanya dengan ragu-ragu.


"Kamu turun dan bawa sepeda motor Nada" Arsyad mengambil kontak sepeda motor Nada dari tangan gadis di sampingnya itu lalu memberikannya kepada seorang sopir di kursi kemudi.


"Baik Tuan, kemana saya akan membawa motor itu?" sopir Arsyad pun bertanya kembali.


"Kamu bawa ke alamat ini dan tunggu sampai aku dan Nada tiba di sana" Arsyad memberikan secarik kertas kepada sopirnya dan menyuruhnya keluar. Arsyad pindah ke kursi kemudi .


"Nada kamu pindah ke depan" Ucap Arsyad. Dan Nadapun several keluar dari mobil dan masuk league lulu duduk disebelah Arsyad. Sebenarnya dia hanya bingung. Mengapa Arsyad memintanya untuk bertemu. Dan apa sebenarnya yang ingin Ia sampaikan.


"Sebenarnya kita mau ke mana?" Di saat mobil Arsyad sudah melaju, Nada memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Ikut aja ya nanti kamu tahu kok" Arsyad menatap Nada sambil tersenyum. Setelah itu ia fokus pada kemudinya.


"Iya... Sebenarnya ada apa Mas, kenapa harus bicara berdua saja. Dan apa sebenarnya yang mau dibicarakan?" Nada kembali bertanya karena ia merasa penasaran. Arsyad pun hanya tersenyum. Dan tak lama setelah itu ia membelokkan mobilnya ke sebuah taman. Karena cuaca yang begitu panas, apalagi di siang yang terik seperti itu. Arsyad mengajak Nada duduk di sebuah gazebo. Dia pun memanggil seorang pedagang air minum dan membeli beberapa botol minuman.


"Panas ya minum dulu nih" sambil menyodorkan satu botol minuman, Arsyad berkata. Nada hanya memandang ke arah Arsyad dengan tatapan bingung.


"Sebenarnya apa yang ingin Mas Arsyad bicarakan?" Nada bertanya lagi karena merasa tidak sabar. Namun yang didapatkan ada hanyalah sebuah tatapan Intens dari Arsyad.


"Jadi begini Nada... Kamu sekarang kelas 3 kan?" Arsyad memulai pembicaraan nya.


"To the point ya... Aku... Aku ingin... menikahimu" ucap Arsyad dengan ragu-ragu. Nada yang mendengar itu pun sontak membulatkan mata dan bibirnya. Dia terkejut mendengar perkataan Arsyad.


"Mas Arsyad serius? Mas tahu kan arti sebuah pernikahan" Nada berdiri sambil berjalan mendekat kearah danau yang berada di taman itu.


"Nada aku tahu tentang sebuah komitmen. Aku sudah berkomitmen, hati aku sudah benar-benar terpaut kepadamu. Sejak pertama kali aku melihat kamu sampai saat ini. Aku nggak tahu perasaan apa sebenarnya yang aku rasakan setiap mengingat atau melihatmu. Aku sudah mencoba untuk meminta kepada Allah Allah supaya ya tidak terlalu memperdalam perasaan ini. Tapi semakin aku meminta, semakin besar pula perasaanku terhadapmu" Arsyad memberanikan diri menjelaskan apa yang sebenarnya iya rasakan.


"Tapi Mas tahu kan jika aku masih sekolah?" Nada kembali bertanya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya juga dia rasakan. Masalah hancurnya hati Nada dengan keputusan Gus Zidane saja masih meninggalkan luka. Hatinya tergores cukup parah karena Gus Zidan lebih memilih wanita lain dibanding dirinya.


"Aku tahu Nada. Tahu semuanya tentang kamu. Aku nggak bisa berjanji banyak terhadapmu. Aku akan berjuang sekuat hati dan sekuat tenagaku untuk bisa membuatmu bahagia, membimbingmu dan melindungimu. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelum berjumpa denganmu. Entah perasaan apa yang ada di dalam hatiku. Kamu benar-benar berbeda dari wanita lain" Arsyad berkata dengan pelan dan menunduk. Air matanya terlihat menetes. Namun ia mencoba untuk membendungnya agar Nada tidak tahu jika ia menangis untuk dirinya.

__ADS_1


"Aku harap kamu memikirkan semuanya. Mama sama papa pasti akan setuju kalau kamu menerima" Arsyad mencoba berbicara dari hati agar Nada mau mengerti.


"Mas... Kita belum saling mengenal. Kita juga belum tahu bagaimana diri kita masing-masing. Aku belum tahu tentang Mas Arsyad. Mas Arsyad juga belum tahu tentang aku. Bagaimana mungkin mad Arsyad memintaku untuk menikah denganmu sesegera mungkin" Nada berkata namun tidak memandang ke arah Arsyad.


"Aku tahu Nada, tapi... apa kita tidak bisa mengenal setelah kita sudah menikah?" pertanyaan Arsyad membuat Nada menoleh ke lelaki di sampingnya.


"Tapi aku belum bisa. Mas tahu kan keadaan aku yang saat ini masih sekolah. Aku belum siap menjalani semuanya. Menikah itu adalah ibadah yang paling lama. Aku takut tidak bisa menjadi istri yang baik" Nada tidak tahu apa yang harus dia katakan. Arsyad terlalu mendadak.


"Tolong nada, aku benar-benar melihat dirimu dari sisi yang lain. Tapi kalau kamu tidak mau, aku tidak bisa memaksamu. Semua keputusan ada di tangan mu. Tapi aku berharap kita akan berjodoh" Arsyad pun terdiam setelah mengatakan itu.


"Bagaimana mungkin... rasa sakit dari kehilangan Gus Jidan saja Masih Membekas. dan kini tiba-tiba Tuan Arsyad memintaku untuk menjadi istrinya" batin Nada. Iya memikirkan apa yang harus dilakukan.


"Ayo kita kembali" Arsyad menarik lengan Nada dengan Nada hampir terjatuh. Saat akan jatuh ke tanah, Arsyad segera menarik Nada dalam pelukannya. Sejenak pandangan mereka bertemu lalu mereka saling memandang. Dalam diamnya, Arsyad dan Nada larut dalam fikiran masing-masing. Mereka benar-benar tak sadar apa yang merasa lakukan adalah salah.


"Sungguh tampan makhluk ciptaan Allah ini. Apa makanan yang sebenarnya dia makan, hingga dia sangat sempurna" batin Nada dalam diam nya memandang Arsyad.


"Masya Allah, sungguh indah ciptaanmu ya Allah. Apa aku tidak salah menginginkannya sebagai jodohku" Arsyad pun memikirkan hal yang sama. hingga suara seseorang menyadarkan mereka.


"So sweet banget sih" Ucap seseorang dengan memegang kedua pipinya. Arsyad dan Nada segera melepaskan diri. Mereka merasa malu.

__ADS_1


"Maaf Nada... Aku... Aku nggak bermaksud untuk membuat kamu terjatuh" Arsyad meminta maaf. Iya Pun membantu Nada untuk berdiri. Setelah itu dia mengajak Nada ke mobil. Nada pun hanya terdiam. Iya mengikuti Arsyad dan berjalan di belakangnya.


"Kita makan siang dulu ya" Saat sudah mau masuk ke dalam mobil, Arsyad berkata kepada Nada. kemudian Arsyad mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah rumah makan terdekat.


__ADS_2