
"Kamu ngapain diam terus dari tadi? " Tanya Arsyad sambil fokus ke kemudinya.
"Ngga apa-apa mas. Pengen cepet sampai rumah, biar cepet istirahat. Aku capek banget lo" Nada berkata dengan tanpa menoleh ke arah pria disampingnya.
"Iya... Sebentar lagi sampai. Sabar ya" Tanpa sadar Arsyad berkata sambil mengusap pucuk kepala Nada. Nada yang menyadari hanya bisa terdiam.
"Maaf" Arsyad meminta maaf karena tindakannya. Beruntung jalanan tidak terlalau macet. Jadi Arsyad bisa tenang dalam mengemudi. Iya mengemudi dengan kecepatan yang sedang. Tak ingin segera sampai apalagi berpisah dengan Nada.
"Hmmm... Nad..." Panggil Arsyad kepada gadia disampingnya.
"Iya, kenapa mas? " Nada pun menoleh dan menatap Arsyad yang sedang fokus ke jalanan. Senyap tak ada jawaban dari pemuda tampan itu. Sesaat kemudian mobil terhenti karena lampu merah. Arsyad menoleh ke samping dan mendapati Nada yang sedang menatap dirinya tanpa berkedip. Arsyad tersenyum memandang wajah ayu yang sangat meneduhkan jiwa itu.
"Nad...? " Panggil Arsyad kembali.
"Eh... Iya. Maaf maaf. Ada apa ya mas? " Jawab Nada dengan tergagap.
__ADS_1
"Sebentar" Arsyad menepikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu keluar. Setelah membukakan pintu untuk Nada, iya menarik lengan gadis itu. Mau tak mau Nada pun keluar melangkah mengikuti Arsyad.
"Mas, apa-apaan sih. Kok berhenti disini. Terus ngapain kita ke taman" Nada protes dengan apa yang dilakukan Arsyad.
"Ikut aja ya, bentar kok. Janji ngga bakalan lama" Aesyad menarik lrngan Nada lalu berjalan dengan pelan menuju kursi di taman. Iya duduk. Lain dengan Nada, iya masih berdiri terdiam sambil memandang ke sembarang arah.
"Duduk sini! " Arsyad menepuk kursi kosong disebelahnya
"Kenapa kesini? Aku capek." Nada dengan malas duduk disamping Arsyad. Sebenarnya bukan rasa lelah yang iya rasakan. Namun rasa sungkan karena hanya berdua dengan Arsyad.
"Aku... Aku mau ngulangin pertanyya aku yang waktu itu" Arsyad betkata dengan tatapan ke depan.
"Kamu mau nikah sama aku? " Tanpa basa-basi Arsyad mengucapkan itu. Seketika bola mata indah Nada membulat mendengarkan perkataan itu.
"Aku tidak main-main dengan ucapanku" Arsyad memandang Nada dengan mata yang terlihat serius.
__ADS_1
"Aa... Aaku... Aku..." Nada tak mampu menjawab apa yang dikatakan oleh Arsyad.
"Aku tahu Nad, kamu masih sekolah. Aku hanya ingin kamu nikah sama aku. Jadi istriku" Arsyad masih kekeh dengan apa yang dia katakan.
"Masalahnya... Aku belum siap mas. Bahkan aku masih berstatus pelajar" Dengan perlahan Nada pun mampu mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Aku ngga nunggu kamu siap. Aku nunggu kamu jawab Iya" Seolah tak ingin kehilangan sosok Nada, Arsyad tetap meminta untuk menikahi nada yang masih sekolah.
"Maaf aku tidak bisa" Nada berdiri dan berjalan meninggalkan Arsyad yang mematung mendengar jawaban itu.
"Duh, kenapa sih mas Arsyad maksa banget. Kan aku masih sekolah. Ngga mikir apa ya dia" Nada menggerutu pelan dengan sedikit perasaan kesal karena Arsyad memaksanya. Iya terus berjalan tanpa menghiraukan Arsyad lagi. Melewati trotoar jalan, Nada menyebrang untuk mencari angkutan. Setelah itu terdengar ponselnya yang berdering.
"Mbak dimana ya, saya di sebrang jalan di depan gedung kesenian" Ucap seseorang dari seberang telepan.
"Sebentar bang, ini masih nyebrang jalan. Saya pakai baju abu-abu" Jawab Nada sambil memegangi ponselnya yang menempel di telinga. Iua mempercepat langkahnya.
__ADS_1
"Pakai jilbab ya mbak? " Tanya seseorang itu lagi.
"Iya, ini aku udah lihat abang. Tunggu" Nada memutuskan panggilannya sepihak lalu mendekat ke arah sopir taxi onlne yang dipesannya. Meninggalkan Arsyad yang sedang merasakan sakitnya penolakan. Meninggalkan Arsyad bersama luka yang tak berdarah.