
Di tengah-tengah kesibukan yang mereka lakukan, seorang kurir datang mengantarkan makanan. Sebuah pesanan atas nama Nada telah sampai. Nada pun segera keluar dan membayarnya.
"Waduh neng, ngga ada kembalian. Maaf dari pagi saya baru dapat orderan ini" Ucap kurir tersebut.
"Sebentar ya bang, tunggu disini" Nada pun kembali masuk dalam rumah. Dan tak lama setelah itu dia kembali lagi.
"Ini Bang uangnya" Nada memberikan uang tersebut.
"Tapi neng, saya benar-benar tidak ada kembalian" Kurir tersebut terlihat bingung. Melihat itu, Nada pun tersenyum.
"Kalau transfer saja boleh? Minta nomor rekeningnya, atau kalau punya aplikasinya tinggal scan aja" Nada mengeluarkan ponselnya.
"Ada neng, ini" Kurir tersebut mengeluarkan ponselnya dan langsung membuka aplikasi. Nada segera menyecan barcodenya. Setelah itu notifikasi masuk.
"Terimakasih neng" Ucap kurir tersebut sambil memeriksa jumlah uang yang masuk. Seketika kurir tersebut membelalak kaget karena jumlah uang yang ditransfer oleh Nada.
"Neng... Ini kebanyakan 0 nya 1" Kurir tersebut gemetar sambil menunjukkan Nominal uang yang telah ditransfer oleh Nada. Nada pun tersenyum memandangnya.
"Nggak apa-apa Pak. Mungkin itu sudah menjadi rezeki bapak. Terima kasih" Nada segera meninggalkan kurir tersebut dan masuk ke dalam rumah. Nada mengintip dari balik jendela, kurir tersebut terlihat bersujud dan meneteskan air mata. Nada pun dengan tersenyum memandang penuh haru ke arahnya.
"Terima kasih ya Allah sungguh engkau memberikan memberikan semua yang kami butuhkan bukan yang kami inginkan" Kurir tersebut mengusap air matanya dan memandang ke arah pintu rumah Nada yang sudah tertutup. Sekali lagi ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih entah didengarkan atau tidak. Setelahnya ia segera menyalakan sepeda motornya lalu meninggalkan rumah Nada ia segera pergi menuju ke rumah sakit.
Flash back on
"Bagaimana pak, sudah dapat uang atau belum untuk biaya rumah sakit arsila? " Tanya seorang wanita paruh baya yang berada di depan restoran tempat Nada dan Arsyad makan siang. Dan hal tersebut bertepatan di saat Nada yang akan pulang dari makan siang. Iya mendengarkan seorang wanita paruh baya berbicara dengan suaminya. Suaminya yang merupakan seorang yang sopir ojek online menunduk dengan wajah yang sedih.
"Maaf Bu... Bapak dari pagi juga belum mendapatkan orderan. Sungguh sepi" Lelaki tersebut berkata dengan pelan. Terlihat air mata yang menetes. Seketika Nada mengeluarkan ponselnya dan memotret plat nomor sepeda motor lelaki tersebut. Setelahnya dia pulang diantar oleh Arsyad.
Nada Hampir lupa dengan apa yang ingin dilakukan. Sesaat setelah ada panggilan dari Vian dan timnya, iya teringat hal tersebut. Kembali ia mencari tahu tentang orang tersebut. Pertama yang dilakukan adalah meretas data dengan menggunakan plat nomor yang telah dia miliki. Begitu dapat, sebenarnya Nada ingin Langsung transfer sejumlah uang kepadanya. Namun ia merasa sungkan. Akhirnya ia memilih untuk memesan makanan.
Flashback off.
"Nada... Kamu ngapain? " Panggilan Ardi membuyarkan lamunan Nada.
__ADS_1
"Enggak itu tadi anu, anu... Ini Nada ngambil pesenan makanan dari kurir" Nada Menjawab dengan gelagapan.
"Kita makan dulu... Nanti kita lanjut kerja lagi" Nada segera menyiapkan apa yang ingin dihidangkan untuk tamu.
~Arsyad~
"Sudah hampir setengah empat, pekerjaan sudah selesai. Ayo Arsy... Kita ke rumah nada" Arsyad segera bangkit dan memakai jasnya kembali. Arsyida pun dengan cepat berdiri dan mengikuti saudara kembarnya.
"Kamu yakin mau ke sana? " Tanya Arsyida saat mereka sedang berjalan memasuki lift.
"Yakin... Karena kamu nemenin. Kalau kamu ngga nemenin jadi ngga yakin" Arsyad menjawab sambil menekan tombol lift. Setelahnya mereka pun masuk. Perlahan lift bergerak turun.
"Emang mau ngapain kesana? " Arsyida bertanya lagi.
"Tadi orang-orang ku bilang kalau nada kedatangan tamu 4 orang laki-laki semua. Jadi aku cuma mau mastiin aja. Siapa mereka" Tak terasa mereka telah sampai di lobby kantor. Sebuah mobil telah menunggu mereka untuk mengantarkan ke mana mereka pergi. Twin A segera naik.
"Kita ke rumah Nada lagi" Arsyad berkata kepada sopirnya.
Di dalam perjalanan, tiba-tiba ponsel Arsyad dan Arsyida berbunyi. Arsyad menerima pesan balasan dari Nada, sedangkan Arsyida mendapatkan panggilan dari Haidar.
"Assalamu"alaikum. Kak" Jawab Arsyida.
"Masih di kantor? " Haidar bertanya dari seberang telepon.
"Ini lagi di jalan Kak. mau ikut Arsyad" Arsyida pun menjawab dengan melirik ke arah Arsyad.
"Mau ke mana?" tanya Haidar ambil mengalihkan ke video call.
"Kok pindah... Kenapa kak? " Arsyida tampak menutupi wajahnya dengan hijab.
"Halalin dulu woi... Nanti baru mesra-mesraan" Tiba-tiba mengambil alih ponsel arsyida.
"Aku mah tinggal selangkah lagi nyampe. Lah situ? " Haidar terdengar sedikit mengejek.
__ADS_1
"Hahaha... Enggak lucu" Arsyad kembali pada ponselnya.
"Oh ya mau ke mana? " Haidar yang sejak tadi belum mendapatkan jawaban masih terus bertanya.
"Ke mana aja boleh..." Arsyad menjulurkan lidah ke depan ponsel arsyida.
"Aku nggak ngijinin kalau nggak mau bilang mau kemana" Kali ini Haidar berkata dengan serius.
"Dih... suka-suka aku dong Kak mau ke mana udah gede ini. Lagian Arsyida juga adik aku. Jadi suka-suka aku dong ngajak dia ke mana... hahaha" Arsyad semakin senang menggoda kakak sulungnya.
"Mau ke mana sih dek? " Haidar masih terus bertanya.
"Mau ke rumahnya Nada" langsung menjawab tanpa menunggu kakaknya.
" Mau ngapain? " Haidar semakin penasaran dengan kedua adiknya.
"Mengejar dan memperjuangkan cinta" Persija pun berkata seolah-olah sedang membaca puisi.
"Hati-hati... Udah bilang mama sama papa apa belum?" Haidar bertanya seolah mereka masih kecil.
"Udah kok... Udah Kakak lanjut kerja aja dulu. Nanti aku kabarin kalau udah pulang" Arsyida berkata kepada Haidar.
"Matiin dulu ya Kak, kita chattingan aja" Sambil mengatakan itu, Arsyida mematikan panggilan. Selanjutnya mereka pun melanjutkan ke rumah Nada.
Di rumah Nada, Nada dan timnya sedang menikmati makan siang yang tertunda, kecuali Nada yang dua kali makan. Mereka makan dengan lahap karena benar-benar merasakan lapar. Dan saat sedang asyik menikmati makanan. Sebuah mobil berhenti di halaman rumahnya. Setelah memperhatikan siapa pemilik mobil tersebut, Nada jadi gelagapan karena ternyata yang datang adalah Arsyad dan Arsyida. Tim nada pun memandang yang dengan wajah penuh tanya.
"Itu bukannya tuan muda Utama" tanya Tuan Voltus.
"Iya .. Dan Itu Nona muda dari keluarga utama. Kamu ada perlu sama mereka da? " Vian bertanya sambil menelisik wajah Nada yang terlihat memerah.
"Anu... Enggak bang. Tapi aku emang kenal sama mereka. Mungkin mereka mau bermain saja kesini atau sekedar mampir" Nada menjawab dengan pelan. Setelah itu dua orang lelaki dan perempuan yang memiliki wajah bak Pinang dibelah dua mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
' tok tok tok'" Assalamualaikum" Semua yang di dalam menjawab salam dari Arsyad dan Arsyida. Nada segera bangkit dari duduknya dan membukakan pintu untuk kedua tamu tak diundang itu.
__ADS_1