Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Tamu Dari Ponorogo


__ADS_3

Nada terbangun saat mendengar sayup-sayup suara orang berbicara di depan rumahnya. Bukan tanpa sebab, 2 orang yang sedang berbicara itu, sepertinya Nada mengenali dari suaranya. Iya perlahan bangun, setelah duduk sebentar, iya bangkit dan berjalan menuju jendela. Di bukanya jendela itu sedikit demi bisa melihat siapa yang berada di depan. Seketikan kedua netra Nada membulat sempurna.


"Abah... Gus Zidan... Kenapa mereka bisa ada disini" Gumam Nada sendiri. Dengan cepat iya berlari menuju ranjang, setelah mendapatkan apa yang iya cari-cari, dengan segera Nada menyambar jilbabnya. Dengan secepat kilat iya mengenakannya. Setelah menalikan tali jilbab tersebut, Nada segera keluar.


'Ceklek' Pintu terbuka, dan tepat di atas kursi teras, abah dan gus Zidan menoleh. Menatap gadis cantik yangbsedang menatap mereka dengan senyuman.


"Abah... Gus Zidan... Bagaimana bisa sepagi ini sudah berada disini" Nada bertanya sambil mendekat, lalu meraih tangan abah lalu mencium punggung rangan sudah sudah berkeriput terawbut sambil menunduk penuh ta'dzim. Abah pun tak kalah terharu, iya mengusap kepala Nada dengan lembut.


"Abah, Mlebet rumiyen (Masuk dulu). Gus Zidan, monggo (Mari)" Nada pun mempersilahkan orang yang pernah mengasuhnya dulu.


"Abah kalian gus Zidan, badhe tindak mriki tenopo mbote maringi pawarto rumiyen" (Abah dengan gus Zidan, mau kesini kenapa tidak memberi kabar terlebih dahulu" Ucap Nada.

__ADS_1


"Kados biasane nduk, abah enten undangan ten mriki" " (Seperti biasa nduk, abah ada undangan disini)" Jawab Abah. Nada hanya tersenyum.


"Bah, kulo badhe subuhan rumiyen njeh. Sekedap( Bah, saya sholat subuh dulu ya sebentar)" Ucap Nada karena memang ini waktu masih menunjukkan pukul 04.25 pagi.


"Oh, iya nduk iya" Jawab abah, Nada segera kembali masuk ke kamarnya. Dan tak ada 10 menit, Nada sudah kembali sambil membawakan kopi panas untuk tamunya.


"Ngapunten njeh bah, gus Zidan. Dangu (Maaf ya bah, gus Zidan. Lama)" Ucap Nada.


"Ngapunten bah, tindak dateng mriki wau nitih nopo? kok ten ngajeng mboten enten kendaraan ( maaf bah, ke sini tadi naik apa? Kok di depan tidak ada kendaraan" Tanya Nada setelah menurunkan 2 gelas kopi panas yang baru dibuatnya.


"Lah, sekarang pada kemana? " Nada masih terus bertanya.

__ADS_1


"Katanya tadi mau ke toko beli sesuatu. Karena abah sudah caprk dan pegel-pegel abah minta diturunkan dulu. Mungkin nanti sebentar lagi mereka datang" Abah pun menjawab dengan lemah lembut. Dan mereka terus berbicara sambil menunggu ummi dan yang lain datang.


Di Rumah sakit.


Keadaan dirumah sakit semakin terlihat hening. Tepatnya diruangan kakek Wira. Semua berkumpul disana kecuali Daffa dan Hana. Setelah mengetahui bahwa kakek Wira sudah sadar, setelah menjenguk kembali, Daffa dan Hana izin untuk pulang karena harus mengurus perusahaan.


"Kek..." Ucap Haidar, iya memandang lemah ke arah sang kakek yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.


"Iya, jangan terlalu memikirkan kakek Haidar. Kakek sudah baikan" Jawab kakek tak ingin cucunya terus merasa khawatir. Tiba-tiba terdengar suara dering. Dan ternyata milik Arsyad.


"Maaf, aku keluar dulu ya" Arsyad segera keluar dengan cepat. Segera dirogohnya tab yang berbunyi tersebut. Setelah dilihat, beberapa informasi penting telah masuk ke emailnya.

__ADS_1


"Oke, saatnya kita bekerja keras" Arsyad bergumam sendiri. Setelah itu, iya kembali masuk.


"Kak... Aku keruangan sana dulu ya" Arsyad meminta izin supaya tak dicari. Setelah Haidar mengangguk, iya keluar lagi.


__ADS_2