
Di dalam ruangan khusus keluarga utama, Arsyad sedang sibuk berjibaku dengan laptop dan tabletnya. Iya mencari informasi dan bukti sebanyak-banyaknya untuk menghadapi musuh. Telah banyak yang iya tahu, ponsel orang yang menabraknya telah memberikan banyak titik terang. Termasuk apa siapa saja dalang diantara semua kerusuhan yang terjadi di keluarga Mandala. Haidar telah menyerahkan semua kepada adik angkatnya itu.
"Kalau begitu, mereka adalah satu organiaasi terselubung yang memanfaatkan ilmunya untuk melakukan hal yang tidak benar. Termasuk memasulkan identitas dan nomor pegawai rumah sakit. Dari data-data ini menjelaskan, berarti rumah sakit ini juga sudah pernah menjadi sasaran mereka. Itulah sebabnya banyak kasus yang tak bisa diselesaikan" Arsyad menganalisa semuanya. Tidak hanya tentang kakek Wira yang menjadi tuan pemilik keluarga Mandala. Namun semua kejanggalan di rumah sakit yang pernah terjadi sebelumnya.
"Ada beberapa nama, dan mereka termasuk di dalamnya. Aku harus minta bantuan mama" Arsyad berbicara sendiri lalu dengan segera menghubungi mamanya. Setelah panggilan terhubung, iya segera mengutarakan maksudnya.
"Asslamu'alaikum... Iya nak, ada apa? " Ucap Hana dari seberang telepon saat tahu panggilan dari putranya.
"Mama sibuk atau ngga ya? " Arsyad berkata.
"Ini masih di kantor sama papa. Papamu mau meeting" Jawab Hana.
"Mama bisa bantu Arsyad. Arsyad sedang butuh bantuan mama" Arsyad berkata dengan pelan.
"Tapi nanti saja setelah meetingnya selesai" Imbuh Arsyad. Iya tahu mamanya pasti akan terus berada di samping papanya untuk membantu pekerjaan.
__ADS_1
"Oke, nanti setelah meetingnya selesai, mama kesana" Jawab Hana.
"Siap mah, terimakasih" Arsyad pun terdengar sangat senang mendengar jawaban itu. Setelah telepon dimatikan, iya segera kembali fokus ke layar laptopnya.
Di ruangan kakek Wira, Haidar dan Arsyi duduk berdampingan. Menjaga kakek supaya tak ada orang yang bisa menjahatinya lagi. Meskipun di luar sudah ada beberapa pengawal yang bertugas, namun iya ingin memastikan sendiri kakeknya lebih detail.
"Arsyi... Kalau capek kakak anterin pulang aja ya" Haidar merasa tak tega melihat Arsyi yang terlihat lelah, iya pun menawarkan untuk mengantarkan calon istrinya pulang.
"Kak... Arsyi ngga akan pulang kalau kakak masih ada disini" Jawab Arsyi pelan, takut menganggu kakek.
"Jangan terlalu dipandang dalam-dalam. Belum waktunya" Suara sang kakek dari atas brankar didepan mereka sangat mengejutkan 2 insan yang sedang dimabuk cinta itu.
"Kakek" Ucap Haidar dan Arsyi bersamaan.
"Insya Allah kakek akan segera sembuh. Ini hanya karena tubuh kakek yang sudah renta, jadi sedikit memperlambat proses penyembuhan" sambik tersenyum kakek menjawab.
__ADS_1
"Siapa yang bilang kakek sudah tua, kakeh tetap terlihat gagah, masih sama seperti dulu" Haidar merasa jika kakeknya sudah lebih baik dari sebelumnya. Dalam hati iya mengucapkan rasa syukur yang tak henti.
"Arsyi..." Panggil Kakek.
"Iya kek, ini Arsyi di sini" Arsyipun fokus menatap kakek Wira.
"Kamu harus lebih sabar menghadapi Haidar ya. Jadilah istrinya agar dia tidak rapuh, sama seperti saat ayah dan ibunya pergi" Ucapan kakek membuat kedua insyan di sebelahnya menunduk.
"Haidar..." Ucap sang kakek sambil menatap cucunya dalam-dalam.
"Iya kek, Haidar juga disini" Haidar pun menjawab sang kakek, walaupun dalam hatinya kembali terasa kebas sebab teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu.
"Kamu sudah bersama orang yang tepat menurut pandangan kakek. Mereka akan selalu menjagamu sebagai anaknya, bukan menantu. Kamu akan tetap menjadi bagian dari keluarga utama selamanya. Jaga mereka" Pesan kakek kepada Haidar.
"Haidar akan selalu menjaga apa yang seharusnya Haidar jaga kek. Haidar..." Belum sempat iya menyelesaikan ucapannya, pintu sudah terbuka, datanglah Arsyad dan juga Hana, lalu menghampiri Haidar dan yang lain.
__ADS_1