
Saat sedang makan malam bersama, Nada terlihat malu-malu namun Ia tetap bersikap biasa. Arsyad memperhatikannya sambil tersenyum namun tak terlihat. Diperhatikannya Nada dengan begitu dalam. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Nada pun segera bangkit dan berjalan menuju ke pintu. Setelah membuka pintu Ia pun merasa bingung.
"Maaf... Cari siapa ya?" Tanya nada dengan ekspresi bingung. Karena ia tidak mengenali seorang lelaki dewasa yang berdiri di depannya. Iya bertanya namun lelaki itu malah tersenyum.
"Perkenalkan, saya Haidar. Saya kesini untuk menyusul keluarga Tuan Daffa" Haidar tersenyum sambil memandang ke arah nada. Nada pun juga merasa bingung.
"Oh mari silakan masuk" Nada mempersilahkan masuk tamunya itu, lalu mengajaknya ke meja makan.
"Assalamualaikum... Pah mah" Haidar segera menyalami Hana dan Daffa. Hana pun merasa terkejut karena Iya tidak memberitahu jika dirinya beserta keluarga ada di rumah Nada. dan satu lagi yang membuat Hana terkejut, Sejak kapan Haidar pulang dari Korea.
"Waalaikumsalam..." Semua menjawab salam Haidar dan membalas uluran tangannya.
" Haidar... Kapan kamu datang. Kenapa tidak mengabari kami dulu" Bapak angkat Haidar bicara saat melihat Putra sulungnya yang tiba-tiba datang.
"Ini baru datang dari bandara Pah. Haidar langsung menuju kesini" Jawab Haidar.
"Tunggu-tunggu... Dari mana kamu tahu kalau kita ada di sini!? " Hana pun bertanya dengan penasaran.
"Siapa lagi Pah yang ngasih tahu kalau bukan dia" Ucap Arsyad sambil melirik ke arah saudara kembar yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Ya sudah Duduk dulu kamu makan dulu Setelah itu kita bicara lagi" Dafa segera menyuruh Haidar untuk duduk. Merekapun makan malam bersama.
Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang tamu dan duduk di sofa di rumah Nada. Setelah berbincang-bincang sekejap, akhirnya keluarga Daffa pun pamit untuk pulang.
"Karena ini sudah malam kita pamit pulang dulu ya Nada" ucap Hana kepada Nada dan keluarga Hana pun akhirnya pamit undur diri. mainan Arsyad terlihat berjalan di paling belakang. Iya Pun membisikan sesuatu kepada nada sambil memegang lengan nada.
" jaga diri, dan baik-baiklah di sini aku akan segera datang kembali" bisik Arsyad lalu berjalan menuju ke arah mobil dan masuk.
"Hati-hati" ucap Nada disaat mobil yang dikendarai Daffa sudah mau berjalan. Dia terlihat melambaikan tangan. Setelah tamunya pergi Nada pun kembali masuk ke dalam rumah. Iya langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di atas tempat tidur.
Sesampainya Daffa dan keluarganya di rumah utama, ada hal yang membuat Daffa dan Hana terkejut.
" mah Pah...?" Panggil Arsyad pelan kepada kedua orangtuanya. Hana dan Daffa menoleh ke arah putranya. Mereka berhenti berjalan.
" Arsyad... Arsyad... Arsyad mau menikahi Nada" Arsya pun berkata dengan terbata-bata. Namun akhirnya ia mempercepat ucapannya. Hana Daffa dan arsyida pun terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Arsyad.
"Arsyad... kamu jangan main-main. Kamu tahu kan ada itu masih sekolah. Bukan Mama sama Papa melarang kamu untuk menikah, tapi kamu harus melihat siapa yang akan kamu nikahi" kali ini Daffa berkata dengan tegas.
" Pah mah... Arsyad enggak mau pacaran. Arsyad serius dengan apa yang Arsyad katakan. Arsyad merasa Nada adalah sosok yang aku cari selama ini" Arsyad pun mengatakan yang sebenarnya. Tentang perasaan yang terpendam selama beberapa hari setelah bertemu nada.
__ADS_1
"Kalau kamu ingin menikah saat ini dengan nada Mama sama Papa belum bisa mengijinkan. Mama sama Bapak belum bisa memberikan kamu Restu. kamu tahu kan nada itu masih sekolah" Dafa mengatakan hal ini.
" Pa bukan begitu..." Ucapan Arsyad terpotong.
" pikirkan sekali lagi Arsyad, ada itu masih sekolah yang masih kelas 3 SMA" Setelah mengatakan itu Daffa masuk ke dalam kamarnya bersama Hana. Arsyad hanya mematung memandangi kepergian orang tuanya.
"Arsyad... Kenapa harus buru-buru. kan Lain waktu bisa mengatakan kepada Mama sama Papa. mungkin saat ini mereka belum bisa berpikir dengan baik. Coba ulangi besok lagi" Arsyida yang sudah berdiri disampingnya, ia mendengar pembicaraan antara Arsyad dan kedua orang tuanya. Iya menepuk bahu saudara kembarnya dengan pelan lalu beranjak meninggalkannya dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Sambil masuk ke dalam kamarnya. Arsyad merenungkan kembali kata-kata mama dan Papanya.
"Bagaimana bisa. Aku sudah menunggu hal ini sejak pertama kali bertemu dengan Nada" Arsyad memegang kepalanya yang terasa mau pecah. Iya berfikir jika papa dan Mamanya akan menyetujui jika dirinya akan menikahi nada dalam waktu dekat. Jujur dari hati yang paling dalam, Arsyad takut jika Nada ada di ambil oleh orang. Nada adalah cinta pertama yang membuat hati Arsyad bergetar.
"Apapun Yang Terjadi, Aku harus bisa menikahi Nada secepat mungkin. aku juga harus meyakinkan semuanya" Arsyad bergumam kepada dirinya sendiri. Dia pun melepas baju dan celananya lalu mengambil handuk sembari masuk ke dalam kamar mandi. Namun tetap saja perkataan mama dan papanya selalu menghantui di setiap hembusan nafasnya. Hingga akhirnya setelah Arsyad keluar dari kamar mandi, Iya mengambil sajadah dan menggunakannya untuk melaksanakan salat malam. Di dalam sujud nya. Iya meneteskan air mata. Entah apa yang membuatnya merasakan hal seperti ini terasa sangat menyiksa batinnya. Setelah selesai salat, Arsyad duduk dan berzikir. Namun bukan berdzikir menyebut asma Allah, Arsyad malah memanggil Nama Nada. Tanpa sadar sudah hampir 10 menit. Setelah menyadari apa yang ia lantunkan, Arsyad segera mengakhirinya dengan mengucapkan istighfar berapa kali. Setelah itu pun dia melepas kopiah dan sarungnya lalu bergegas naik ke atas tempat tidur. Arsyad mengambil ponselnya.
Sedangkan di dalam kamar, nada yang sedari tadi memikirkan ucapan Arsyad dapat memejamkan mata. kata-kata Arsyad untuk menunggunya kembali terngiang di dalam fikirannya. entah apa maksudnya nada tak mengerti akan hal itu.
" Apa maksudnya Coba bicara kayak gitu? Terus kenapa juga kau terlalu memikirkan. mungkin aku terlalu percaya diri Hehehe" nada tersenyum. Iya mengambil ponselnya untuk memeriksa.
" Arsyad... kok dia ngirim pesan lagi sih?" gumam nada sambil membuka ponselnya. terlihat pesan dari Arsyad sekilas. Karena penasaran ia segera membukanya.
" Kalau besok tidak sibuk Aku ingin bertemu. Ada hal penting yang harus aku sampaikan" nada membaca pesan dari Arsyad dengan bingung. Tak lama kemudian satu pesan kembali masuk, dan itu juga dari Arsyad.
__ADS_1
"aku jemput di sekolah" begitulah pesan Arsyad yang kedua.
" ada apa ya, kok tiba-tiba. perasaan aku juga enak" gumam nada, namun dia belum membalas pesan itu.