
"Om tante" Ucap Haidar. Iya langsung mendekati keduanya. Dengan cepat meraih tangan om dan tantenya dan mencium punggung tangan 2 orang yang dulu pernah bersikap tidak baik terhadapnya dan keluarganya. Namun karena mereka menyesali apa yang telah di perbuat, Haidar sanggup memaafkan keduanya. Itu semua juga berkat didikan Daffa dan Hana. Mereka mendidik anak tak pernah membeda-bedakan antara Haidar dan twin A.
"Haidar... Maaf om dan tante baru bisa datang" Tante Bela berkata.
"Ini Arsyi kan? " Tanyanya begitu melihat seorang gadis cantik di belakang Haidar.
"Tidak apa tante. Arsyi masih disini kok" Haidar tersenyum memandang tantenya.
"Benar-benar cantik. Tidak salah keponakan tante jatuh cinta sama kamu" Tante Haidar mulai memuji Arsyi. Yang dipuji hanya terdiam.
"Tante, om kita masuk dulu ya" Haidar mengajak masuk pengganti orang tuanya itu. Mereka berdua pun mengangguk dan melangkah masuk kedalam rumah.
"Kakek dimana Dar? " Tanya omnya Haidar.
"Kakek baru saja istirahat om. Ada dikamar. Om mau lihat? " Tanya Haidar.
"Tidak... Kasihan kalau diganggu saat istirahat. Biar sampai bangun sendiri saja" Jawab Om Haidar sambil duduk di sofa. Tak lama seorang pelayan datang dengan membawakan minuman.
"Terimakasih" Ucap Bela.
"Sayang... sini duduk disini" Haidar memanggil Arsyi yang masih mematung. Gadis itu segera mendekat dan duduk disamping Haidar. Dimana sofa kosong yang tadi di tepuk oleh lelaki dewasa itu. Terlihat om dan tante Haidar yang memandangi keduanya, tampak begitu serasi.
"Arsyi... Ini tante sama om kakak. Mereka ini pengganti ke dua orang tua kakak yang sudah tidak ada" Haidar mengatakan sambil tersenyum memandang calin istrinya.
"Jadi nak Arsyi, kedatangan kami sebenarnya ingin menanyakan suatu hal kepadamu" Om Haidar kembali berkata.
"Iya silahkan om. Arsyi akan menjawab kalau bisa" Arsyipun berkata pelan. Iya tersenyum. Tiba-tiba tanda panggilan dari kakek Wira berbunyi. Seorang perawat yang berjaga segera berlari menuju kamar kakek. Mendengar itu pun, Haidar segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menuju kamar kakek.
__ADS_1
"Mbak ada apa? " Tanya Haidar penuh kekhawatiran.
"Kakek hanya memanggil seperti biasa tuan. Mungkin lelah berbaring dan ingin duduk" Perawat tersebut berkata dengan sopan.
"Kakek mau keluar? " Tanya Haidar.
"Iya... " Kakek yang baru duduk segera dihampiri oleh Haidar. Setelah itu iya segera memasang kursi roda untuk di duduki sang kakek. Mereka pun keluar.
"Mbak, jaga didekatnya kakek aja ya. Kita keluar. Biar aku yang dorong" Haidar berkata sambil melangkah mendorong maju kursi roda itu.
"Tapi kakek sudah waktunya minum obat tuan" Ucap perawat tersebut.
"Bawa keluar saja" Haidar tak lagi mempedulikan perawat itu setelah berkata.
Sesampainya diluar, Kakek menatap ke arah ke dua anak dan menatunya. Terlihat tatapan kakek yang tidak suka terhadap keduanya.
"Pah, kita..." Ucap tante Haidar. Namun terpotong oleh ucapan Haidar dan kakeknya secara bersamaan.
"Haidar yang menyuruh om dan tante ke sini kek"
"Kalian sudah tak diharapkan lagi disini" Ucap kakek dan Haidar bersamaan. Entah mengapa kakek belum bisa memaafkan anak dan menatunya itu. Karena hanya demi harta, mereka tega membunuh saudara sendiri.
"Pah... Kita tidak pernah berbuat keburukan lagi. kenapa papa masih membenci kita" Ucap om Haidar. Arsyi merasa tak percaya jika kakek akan bersikap seperti itu. Arsyipun tahu, seluk beluk dan awal mula kenapa Haidar menjadi kakak angkatnya. arsida hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh semuanya. tidak ingin mencampuri urusan masing-masing.
" karena saya tidak yakin kalian benar-benar berubah" ucap kakek Wira dengan nada Ketus. dia pun tidak ingin berlama-lama memandang anak dan menantunya itu.
" kakek... Om sama Tante sudah berubah. mungkin mereka juga menyesali apa yang pernah mereka lakukan dulu. Kakek jangan pernah berpikir negatif lagi ya" ha kembali berkata kepada kakeknya.
__ADS_1
"Kamu tahu Haidar. Sekali seseorang melakukan kesalahan, selamanya akan terus berbekas" Jawab kakek Wira.
"Jadi sebaiknya kalian pulang saja. Aku hanya ingin bersama dengan cucuku" Kakek Wira berkata dengan nada dingin.
"Baik lah pa. Kita akan pergi. Jika ada apa-apa tidak usah menghubungi kami" Ucap om Haidar. Dia pun langsung berdiri dan menarik tangan istrinya untuk pergi dari sana.
"Pergilah... Dan diamlah dengan memperbaiki diri kalian. Sembuhkanlah penyakit di hati kalian itu" kakek terdengar marah. Haidar dan Arsyida hanya terdiam. Mereka tak ingin semakin membuat kakek merasa kesal.
Setelah om dan tante Haidar pergi, kakek memandang ke arah cucunya.
"Haidar... Kamu boleh baik dan memaafkan mereka. Tapi kamu juga harus waspada. Kakek tidak yakin mereka bisa berubah secepat itu. Kakek hanya takut mereka merencanakan sesuatu dengan memanfaatkan kebaikanmu" Kakek Haidar merasa jika anak dan menantunya belum benar-benar berubah.
"Iya kek... Haidar mengerti apa maksud kakek" Haidar terdiam setelah berkata seperti itu.
"Kakek boleh minta satu hal sama kalian berdua" Ucap kakek dengan pandangan serius.
"Kakek minta apa. Jika bisa Haidar penuhi, Haidar akan memberikan apa yang kakek minta" Haidar lun bertanya dengan ekspresi yang berubah. Terlihat rauh wajah khawatir dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Iya memandang ke arah Arsyida sebentar, lalu kembali memandang ke arah Kakek.
"Kakek ingin, kalian segera menikah. Kakek takut waktu kakek tidak akan lama lagi" Ucap kakek sambil menundukkan kepala. Iya kembali mengangkat wajahnya. Menatap ke arah Haidar dan Arsyida.
"Kek... Arsyi Insya Allah siap kapan saja kak Haidar mengajak menikah. Kakek jangan berkata seperti itu. Semoga Allah masih memberikan waktu, umur yang panjang kepada kakek. Dan kakek biaa melihat kebahagiaan kak Haidar" Arsyi berkata dengan lemah lembut. Dengan tatapan yang teduh, hati kakek menjadi tenang mendengar itu semua.
"Haidar... Dengar kan? Segera bawa kakek ke orang tua Arsyi" Kakek berkata dengan keyakinan dihatinya"
"Insya Allah kek" Haidar pun menatap Arsyi lalu tersenyum. Keduanya saling melempar senyum disaksikan oleh kakek yang juga merasakan kebahagiaan itu.
"Jaga dan sayangi dia, sebagaimana orang tuanya menyayanginya Haidar. Kakek percaya kamu akan membahagiakan Arsyi" Kata kakek memegang bahu Haidar ketika cucunya itu mendekat.
__ADS_1
"Haidar pasti akan membahagiakan Arsyi kek. Haidar janji, akan selalu membuatnya bahagia" Haidar pun membalas apa yang kakek katakan. Mereka tersenyum. Tak terkecuali gadis cantik yang duduk di sofa itu. Mendengar apa yang dikatakan oleh Haidar, hatinya menghangat. Jiwanya merekah seiring dengan mulai suburnya bunga cinta di dalam hatinya. Entah kenapa ucapan Haidar mampu membuatnya tersenyum. Dan disela-sela kebahagiaan itu, tiba-tiba mereka semua di kejutkan oleh keadaan dua orang.