Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Membuat Panik Arsyad


__ADS_3

"Jadi... Yang sakit bukan kamu tapi seorang anak SMP" tanya Arsyi penasaran.


"Iya non Arsyida. Dan entah kenapa tuan Haidar juga berada disini" Jawab Nada sambil menunduk.


"Apa mungkin aku akan membiarkan kamu mengurus semuanya sendiri? " Tanya Haidar. Arsyi menatap sebentar ke arah Haidar lalu kembali menatap ke arah Nada.


"Tapi kamu berdarah Nada. Kenapa kamu tidak masuk biar sekalian diobati" Ucapan Arsyi membuat Nada terkejut. Sekaligus iya tersenyum menatap wajah cantik yang sedang dalam mode khawatir itu.


"Nona tenang aja, ini darah anak tadi. kepala, tangan serta kakinya emang terluka parah tadi. Aku ngga apa-apa" Jawab Nada tersenyum.


"Sungguh...? " Kekhawatiran membuat Arsyi terlihat sangat bodoh menyikapi keadaan. Bahkan iya mengabaikan Haidar. Entah mengapa iya sangat mengkhawatirkan keadaan Nada.


"Iya nona. Saya tidak apa-apa? " Jawab Nada.


"Syukurlah... Ini darahnya sudah kering. Kenapa kamu tidak ganti baju? Dan satu lagi, kemarin-kemarin kita sudah sering bertemu, jangan panggil nona" Ucap Arsyi.


"Belum sempat gantilah sayang..." Ucap Haidar tiba-tiba.


"Udah kamu jangan terlalu khawatir, Nada tidka apa-apa kan? " Haidar dengan menatap Arsyi. Arsyi hanya menatap sebentar ke arah Haidar. Setelahnya ada ide gila melintas di fikirannya. Dengan cepat iya mengeluarkan ponselnya.


"Nada... Bisa kita bekerja sama? " Tanya Arsyi. Pertanyaan itu membuat Nada dan Haidar mengerutkan kening. Memandang penuh tanda tanya ke arah Arsyi. tiba-tiba Arsyi mendekati Nada dan membisikkan sesuatu.


"Apa ndak keterlaluan kak... Kasihan lo yang dibohongi" Ucap Nada.


"Kamu tenang aja. sekarang kamu bersandar sambil pejamkan mata ya" Arsyi pun berkata.


"Mau apa sih? " Tanya Haidar yang juga merasakan kebingungan. Namun berbeda dengan Nada yanh tak enak menolak permintaan nona muda dari keluarga utama. Iya pun segera bersandar ke kursi dan memejamkan matanya.


'cekrek cekrek cekrek' Suara camera terdengar dari ponsel mahal Arsyi.


"Sudah... Makasih Nada" Ucap Arsyi. Dan saat itu pula iya mengirimkan foto tersebut ke Arsyad.


"Kita tunggu sebentar ya. Bagaimana reaksinya" Ucap Arsyi. Iya punt tersenyum sendiri.


Benar sesuai tebakannya, ponselnya langsung berdering.

__ADS_1


"Keluarga anak SMP" Belum sempat terjawab, seorang dokter keluar dari ruang UGD dan memanggil siapa Orang yang bertanggung jawab atas anak yang saat ini ini di tanganinya. dengan kompak mereka bertiga pun segera berdiri dan menghampiri dokter itu.


" kita bukan keluarga anak itu dok. Tapi kita yang bertanggung jawab atas semuanya" Haidar berkata.


"Bisa ikut ke ruangan saya? " Tanya dokter. Haidar pun mengangangguk.


"Tuan Haidar. Biar saya saja" Nada berjalan dengan cepat. Meninggalkan Haidar dan Arsyi yanh mematung. Namun dengan cepat pula mereka tersadar karena ponsel Arsyi yang berdering. arsyad masih terus memanggil.


"Kamu ngerjain Arsyad? " Tanya Haidar.


"Iya... Kakak jangan bilang ya. Nanti biar Arsyad menemani Nada. Katanya kakak mau ngajak aku kerumah" Arsyi berkata dengan jujur.


"Iya... kamu memang adek, eh salah. Calon istri yang pengertian.


"Aku angkat dulu ya" Arsyi segera mengambil ponselnya dari dalam tas.


"Arsyi... Ada apa sama Nada. Sekarang kalian dimana? " Ucap Arsyad saat panggilannya sudah terhubung. Arsyi sampai menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Rumah sakit Harapan Mulya" Jawab Arsyi singkat. Setelah itu iya mematikan panggilannya.


"Iseng sekali sih sayang" Kata Haidar.


"Hehe... Sekali-kali" Jawab Arsyi sambil terkikik. Merekapun masuk ke ruang dokter. Menemani Nada. Sesampainya di dalam, mereka melihat Nada menerima sebuah map dan siap untuk bertanda tangan.


"Nada..." Haidar memanggil Nada. Nada pun menoleh dan belum jadi menandatangani berkas didepannya.


"Iya... Ada yang bisa saya bantu? " Nada berkata dengan sopan karena tak ingin menghancurkan reputasi dua pewaris kerajaan bisnis itu. Haidar segera mendekat dan meraih berkas didepan Nada. Setelahnya iya membaca berkas tersebut.


"Kamu menyetujui anak itu dioprasi? " Tanya Haidar.


"Anak itu butuh penanganan secepatnya tuan" Nada menjawab dengan pelan.


"Biar aku saja yang bertanda tangan" Haidar meraih boplpoint ditangan Nada.


"Tapi..." Belum sempat menyelesaikan perkataanya, Haidar sudah berkata.

__ADS_1


"Dia juga masih sekolah dok. Biar saya saja yang bertanggungjawab atas semuanya" Haidar menandatangani berkas persetujuan tersebut sambil berkata.


"Iya... Benar sekali tuan. Silahkan. Dan kami akan segera mengambil tindakan" Dokter pun mengangguk setuju. Setelah semua selesai, mereka keluar dari ruangan dokter. Setibanya di depan ruang UGD, beberapa guru datang bersama wanita paruh baya.


"Permisi, apa tadi anda yang membawa anak SMP bernama restu kesini? " Tanya seorang guru dengan wajah khawatir.


"Iya pak, dia yang menolong anak itu" Haidar berkata dengan menunjuk ke arah Nada.


"Dek... Terimakasih. Ini ibu dari anak tadi" Ucap seorang guru yang terlihat namanya di nametag bernama agung pambudi.


"Iya pak. Ini dokter sudah mau melakukan oprasi. Karena luka ditangannya lumayan serius" Jawab Nada dengan tersenyum.


"Ya ampun. Innalillahi... Bagaimana ini bisa terjadi nak? " Tanya Ibu Restu.


"Korban tabrak lari buk. Tapi tenang saja. Pelakunya akan segera ketemu. Adik saya ini memiliki bukti" Entah bagaimana Haidar bisa tahu jika Nada memiliki bukti. Dia mengatakan itu untuk menenangkan ibu Restu. Nada menatap ke arah Haidar. Iya tersenyum.


"Kalau begitu, kami pamit dulu. Ada urusan penting" tiba-tiba Arsyi berkata. Setelah berpamitan, mereka berduapun pergi. Sesuai rencana awal, Haidar mengajak Arsyi ke rumahnya.


Tak lama setelah kepergian Haidar dan Arsyi, kedua guru yang mengantarkan orang tua restu pun juga pamit undur diri.


"Bu... Karena ibu sudah ada disini, maka kami pamit ya. Semoga Restu lekas sembuh" Ucap pak Agung. Dan akhirnya mereka juga pulang. Tinggalah Nada dan ibu Restu.


"Nak, terimakasih banyak sudah menolong Restu. Apa kamu juga terluka. Baju kamu banyak darah dan sudah kering" Ucap ibu itu.


"Sama-sama bu. Ibu tidak usah khawatir, saya baik-baik saja. Ini tadi karna saya memangku Restu, jadi kena tetesan darahnya" Jawab Nada ramah.


"Oh iya, nama kamu siapa? " Tanya ibu Restu lagi.


"Saya Nada bu" Nada tersenyum. Dan tak lama dokter juga datang mendekat.


"Oprasi akan segera dimulai. Keluarga bisa mengurus administrasi" Ucap dokter tersebut. Setelah itu iya masuk ke ruang UGD.


"Mari bu... Kita urus administrasinya dulu" Ucap Nada.


"Tapi nak. Jujur... Ibu tidak memiliki uang banyak untuk biaya Restu dirumah sakit" Ucap ibu itu pelan sambil menunduk. Terlihat air mata menetes. Sesekali terdengar suara sesenggukan.

__ADS_1


"Ibu... Ngga usah khawatir masalah biaya. Ibu tunggu disini ya. Biar saya selesaikan dulu administrasinya" Nada menepuk pundak ibu Restu pelan. Perlahan meninggalkan ibu Restu yang mematung mendengar ucapan Nada. Seakan tak bisa berkata apa-apa.


__ADS_2