
Di dalam sebuah mobil yang dikendarai oleh Daffa dan keluarganya, Daffa terlihat terdiam dan tak mengatakan sesuatu apapun. di dalam pikirannya masih bingung menyusun rencana. dan di saat-saat seperti ini, istri maupun anak-anaknya tak ada yang berani mengganggu.
" sayang... Sepertinya kamu dan Arsyad yang harus bertindak kali ini" ucap Dafa kepada istrinya sambil fokus menatap ke depan.
" maksud Mas Daffa apa? " Hana kembali bertanya kepada suaminya.
"kita harus membuat seseorang sadar dengan apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan ketika dia sudah tak memiliki apapun" ucapan Daffa sangat berbelit menurut Hana.
" jadi maksud Papa..." Hana sudah mengerti apa yang ada di pikiran suaminya. Iya bisa mencerna dengan baik setiap perkataan yang dilontarkan oleh Daffa. Daffa yang mengerti akan hal tersebut menoleh, iya menatap istrinya dalam-dalam.
" siap... aku paham maksud Papa" kita akan membuat mereka tersadar setelah apa yang menjadi sandaran mereka telah tiada. Tapi sebelumnya kita harus mencari tahu kebenaran dari semua ini" kali ini Arsya ikut berbicara setelah memahami apa yang dibicarakan oleh orang tuanya.
" lakukanlah dengan baik. jangan sampai hal ini membuat masalah baru kembali di masa yang akan datang" Daffa pun memberi masukan supaya anaknya bertindak dengan hati-hati.
" kita harus bertemu dengan tante Alisa terlebih dahulu" Arsyad berbicara dan mereka semua mengangguk. dan di tengah keramaian hiruk pikuk kota, mereka kembali pulang Rumah Sakit tempat di mana kakek Wira berada.
__ADS_1
Pov Nada
" sulit banget... keamanan kita sudah kembali seperti semula. tapi hal ini tidak menutup kemungkinan jika orang yang sama akan dapat membobol pertahanan yang kita miliki. kita harus lebih berhati-hati lagi" ucapan Fian membuat semua orang yang berada di ruangan itu tertegun. Pasalnya, mereka baru saja menyelesaikan tugas yang rumit. namun masih ada hal yang harus mereka lakukan, yaitu menjaga keamanan sistem supaya tidak diretas oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
" nggak ada makanan apa Nad? Laper banget nih. Haus juga" Hendra berusaha melupakan sejenak masalah yang baru saja mereka bisa atasi.
" sebentar saya ambilkan Bang" jawab nada sembari keluar dari ruangan tersebut menuju ke dapur. tiga orang laki-laki tersebut menyandarkan punggungnya ke sofa karena merasa lelah.
" kira-kira siapa yang sudah melakukan semua itu? " gumam Ardi dengan mata terpejam di atas sofa.
" nih minumannya Bang... untuk makanan tunggu sebentar lagi ya, aku pesan lewat go-jek" ucap nada sambil menurunkan nampan berisi minuman.
" lu emang paling pengertian sih, nggak salah kita pilih tempat di sini" ucap Vian dengan bercanda.
" Ya kali semua ini gratis, semua harus bayar" nada menggerakkan bibirnya merangkai sebuah kata yang membuat ketika orang lelaki yang sedang duduk di sofa itu menoleh kepadanya.
__ADS_1
" Tumben lu perhitungan Nad... gua nggak salah dengar kan apa yang lu ucapin barusan? " Ardi yang sejak tadi memejamkan mata karena memikirkan siapa yang telah berhasil membobol keamanan sistem yang mereka buat, kini dia menoleh menatap gadis cantik di depannya.
" Bercanda kali Bang... Abang mah baperan banget jadi cowok... Hahaha" setelah mengucapkan kata tersebut Nada kembali ke dapur untuk mengambil sesuatu.
Tak lama setelah meninggalkan ruang tamu, Nada kembali dengan membawa beberapa toples cemilan. Iya tahu timnya yang saat ini berusaha menyelamatkan sistem tersebut merasakan lelah dan pusing akibat pekerjaan yang tidak ada habisnya.
" Bang, aku kenapa jadi mikirin sesuatu ya. Aku jadi suuzon nih sama Kalian bertiga" Nada yang duduk di satu kursi kosong di antara beberapa kursi tersebut memulai pembicaraan yang serius.
" Elu apa-apaan sih... Kalau kita nih yang ngelakuin ngapain juga kita tadi ngabarin kamu. Terus ngapain kita harus lelah-lelah bekerja di tempat kamu menyelesaikan semua masalah ini? " Ardi berkata. dan suaranya membuat Nada kembali terdiam.
" Iya sih... Tapi aku udah ngerasa kalau keamanan di sistem kita itu benar-benar aman. Kode yang kita gunakan Ya hanya kita sendiri yang tahu. Gimana coba caranya biar aku nggak suudzon sama kalian hahaha hahaha" Nada yang sejak tadi mencoba menahan tawanya kini melepaskan semuanya. Niat hatinya ia ingin berpura-pura menuduh ketiga orang di depannya.
" Ih elu mah... Kita lagi lapar juga... Tadi Kalau aku benar-benar baper aku bener-bener marah loh. Dan kamu tahu kalau aku marah itu kayak apa ya" Hendra yang merasakan lapar ternyata sudah mengambil satu toples camilan dan memasukkannya ke dalam mulut satu persatu. Tak lama setelah itu, sepeda motor berdiri tepat di depan rumah nada. Nada yang mengetahui hal tersebut segera berlari keluar dan mengambil pesanannya. Setelah membayar Ia pun kembali masuk dan menyerahkan makanan tersebut kepada Vian, Ardi dan Hendra.
" tunggu tunggu... tadi Nada bilang kode-kode keamanan itu hanya kita yang tahu. tapi di sisi lain ada yang berhasil meruntuhkan keamanan di sistem kita. berarti ini ada orang dalam yang bermain-main dengan kita" Vian berkata dengan serius.
__ADS_1
" Apa mungkin itu... tuan Voltus? " Ucap Nada pelan. Dan kata terakhirnya membuat semua menatap dirinya tajam.