
"Kamu bawa tab aku kan? " Tanya Arsyad kepada Arsyi setelah duduk di sebuah ruang tunggu yang kini terlihat sudah sangat sepi.
"Ini... Arsyi mengambil tablet yang dimaksud saudaranya itu lalu menyerahkannya kepada Arsyad.
"Kamu mau apa? " Tanya Arsyi. Iya tahu jika Arsyad akan melakukan sesuatu.
"Nanti juga kamu tahu. Kamu bawa laptop ngga? " Arsyad malah balik bertanya. Dan Arsyipun hanya menggeleng.
"Kita pulang sekarang. Tab ku sedang lowbat" Arsyad menarik tangan Arsyi lagi.
"Izin dulu sama mama. Nanti kita dicariin" Arsyi dengan cepat menarik lengannya kembali.
"Ayuk cepet" Arsyad segera berjalan kembali ke tempat dimana Daffa dan yang lain berada.
"Mah, kita pulang dulu ya. Mau ambil alat" Arsyad meminta izin kepada Hana terlebih dahulu.
__ADS_1
"Apa ngga bisa besok saja sayang. Ini malam hari lo" Hana yang juga mengkhawatirkan keselamatan anak-anaknya sepertinya tak mengizinkan mereka untuk pergi.
"Tapi ma..." Ucapan Arsyi terpotong ketika Daffa kembali berkata.
"Suruh saja orang untuk kesini. Kalian jangan pergi. Sekalian bawa pengawal untuk berjaga disini. Kita butuh istirahat juga" Ucapan Daffa adalah perintah yang harus dipatuhi. Arsyad dan Arsyida pun mengangguk. Segera setelah itu Arsyad mengeluarkan ponselnya. Dan disaat akan menghubungi seseorang. Iya baru menyadari jika yang dipegangnya bukanlah ponsel miliknya.
"Itu kaya bukan ponsel kamu Syad" Ucap Arsyida.
"Iya Da. Ini bukan ponsel aku" Arsyad membolak-balikkan ponsel yang dipegangnya.
"Sebentar sebentar... Tadi di depan aku ketabrak sama seseorang. Berarti ponsel ku dibawa sama dia" Arsyad bercerita.
"Ceroboh sih. Coba cek. Siapa tahu bisa dihubungi" Arsyi memberi saran. Dan Arsyad mengangguk. Iya mencoba membuka ponsel itu. Namun ternyata ada pola sebagai security nya.
"Ada polanya" Arsyad berkata.
__ADS_1
"Coba aja buka paksa. Siapa tahu orangnya juga belum sadar kalau ponselnya ketuker" Hana ikut berkata kali ini. Dan Arsyad mulai bertindak. Tak lama pun ponsel itu sudah tak terkunci. Banyak pesan masuk. Namun Arsyad menghiraukannya. Iya segera mengetikkan nomor pribadinya untuk dihubungi. Namun panggilannya tiba-tiba terputus karena ada panggilan masuk.
"Nona Lies" Gumam Arsyad membaca nama dibalik layar ponsel yang menghubunginya.
"Coba angkat aja. Siapa tahu itu pemiliknya" Ucap Arsyi. Dan Arshad segera mengangkatnya lalu memencet loudspeaker.
"Ehh... Jangan bodoh ya. Aku sudah membayarmu mahal. Kalau sampai kamu menyeret namaku, maka kamu akan menerima akibatnya. Kalau sampai ada yang tahu siapa yang mencelakai tua bangka itu, maka kamu yang harus menanggung semuanya. Jangan buat aku sia-sia saja membayar kamu. Urus semuanya, kalau tidak, keluargamu yang akan menanggung semuanya" Belum sempat Arsyad berkata atau menyapa, suara wanita di seberang terlepon terdengar begitu marah dan lantang. Dan setelah itu panggilan terputus secara sepihak. Arsyad yang merasa ada yang tidak beres, segera mengecek ponsel itu.
"Arsyi, tab aku mana" Arsyad mendekati adiknya. Dan Arsyi segera memberikan apa yang diminta saudara kembarnya. Iya segera mengotak-atik sesuatu di tab tersebut.
"Beres" Ucap Arsyad.
"Kenapa? " Arsyi bertanya.
"Ngunci dan matiin ponsel ku. Biar ga bisa diakses oleh siapapun" Jawab Arsyad. Iya segera memeriksa ponsel siapa yang kini sedang dibawanya. Satu persatu iya periksa. Hampir 20 menit, akhirnya Arsyad melihat sesuatu yang berhubungan dengan kakek Wira.
__ADS_1