
Perjalanan dari Bandara Juanda ternyata memakan waktu hampir 2 jam. Mereka belum terlalu paham tentang jalan yang mereka akan lewati. Perlahan rasa kantuk menyerang kepada rombongan Daffa yang berada di dalam mobil tersebut. Pelan-pelan Nada menyandarkan kepalanya kesandaran kursi yang berada di belakangnya. Tak menunggu waktu lama, Nada tertidur di samping Hana. sedangkan dari samping Hanna juga, Arsyad memperhatikan nada yang telah memejamkan matanya.
" Mama lelah? Tidur aja Mah, ini aku lihat di GPS waktu kita untuk ke Ponorogo sekitar 1,5 jam lagi. Mama bisa istirahat dulu. Nanti kalau sudah sampai disana kita bisa fress.
"Iya, ini mama ngantuk banget" Hanna tersenyum mendengar perhatian dari putranya. akhirnya Hana pun menyandarkan kepalanya juga ke belakang.
" yah mereka juga tidur" Gundam Arsyad ketika menoleh ke belakang dan mendapati kedua saudaranya telah terlelap. kembali ia memandangi gadis cantik yang telah tertidur pulas Di samping mamanya. Namun sayang sekali karena nada menghadap ke arah jendela dan mengenakan masker.
" Lihatin apa sih serius banget kayaknya" ucapan Daffa mampu membuat Arsyad terdiam dan kembali memandang ke depan. Iya Pun menghadap ke jendela memperhatikan jalanan yang ia lewati. Dia Lelaki yang berada di kursi depan yaitu papa dan juga seorang sopir masih terjaga. Arsyad menoleh ke arah Nada. semuanya masih tertidur dengan pulas. namun ketika melewati sebuah lubang, Arsyad memandang Nada yang terlihat mengusap kepalanya karena telah terbentuk dengan kaca jendela mobil dengan mata terpejam. Tak ingin sesuatu terjadi kepada gadis cantik itu, Arsyad mengambil jasnya lalu dibuatnya untuk sandaran Nada agar tidak terbentur kembali. Sambil meletakkan jas itu dibawa kepala Nada, Arsyad sedikit menolehkan kepala Nada ke arahnya. Begitu selesai Ia pun tersenyum dan kembali ke tempat duduknya seperti semula.
Dan disaat sudah kembali dengan senyuman yang merekah di bibirnya, sebuah tatapan tajam seolah menusuk dirinya.
" Beraninya kamu ya" ucapan dingin Daffa membuat Arsyad nyengir kuda.
" Sekali lagi Kamu berani seperti itu, Papa tinggalin kamu di sini" Daffa berkata dengan pelan takut mengganggu istri dan anaknya yang sedang beristirahat. Setelah itu ya kembali menatap ke arah depan. Akhirnya dengan sedikit rasa bersalah, Arsyad kembali memandang keluar jendela dan menikmati pemandangan alam selama di dalam perjalanan. Hingga sebuah rasa kantuk menyerangnya, Dan akhirnya ia pun ikut tertidur juga.
" Apa yang harus aku lakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi" Guman Daffa di saat Arsyad sudah tertidur. Dia memandang ke belakang, diperhatikanlah kedua Putra dan putrinya yang berada di kursi paling belakang. Ternyata di tengah-tengah mereka berada sebuah tas besar yang memisahkan. Daffa pun tersenyum melihatnya. Dan pandangannya tertuju kepada Arsyad. diperhatikannya putra bungsu yang telah lahir 25 tahun yang lalu. Setelahnya ia memandang ke arah Nada yang masih tertidur juga.
__ADS_1
" Kalau hal ini bisa menjauhkan kalian dari hal-hal yang tidak diinginkan, maka papa akan melakukan yang terbaik untuk kalian" seperti memantapkan hati akan apa apa yang akan ia rencanakan, dapat tersenyum sembari menoleh ke arah depan. Ucapannya dalam hati tak akan didengar oleh orang-orang yang berada di sekitarnya termasuk seorang sopir di sampingnya dan keluarga yang berada di belakangnya. Mungkin karena merasa lelah dan mengantuk, akhirnya Dafa pun ikut menyandarkan kepalanya, dan perlahan Ia pun ikut memejamkan mata.
" Tuan... Tuan... Mohon maaf, kita sudah sampai ditujuan tuan" Merasa ada yang memanggil Dan menyentuh lengannya, Daffa segera terbangun. Iya mengumpulkan seluruh ingatannya. dengan segera ia bangkit dari sandarannya dan berusaha untuk sadar 100%. setelahnya ia pun mulai berbicara.
" kita sudah sampai ya" ucap Dafa.
" Iya Tuan kita sudah sampai di tempat tujuan. Dan ini adalah pondok pesantren yang dimaksud oleh tuan dan nyonya" jawab sang sopir dengan sangat sopan. karena mendengar orang-orang yang berbicara, akhirnya satu persatu keluarga Daffa yang tertidur pun menjadi bangun. begitu pula dengan Nada.
" Kita sudah sampai ya pak? " tanya Hana yang baru bangun.
" Benar nyonya dan ini adalah tempat tujuan kita" jawab sopir lagi. Dan di saat yang bersamaan, beberapa orang dari pesantren keluar menghampiri mobil yang ditumpangi Daffa. Dengan segera Daffa pun turun dan menyalami Abah Ayub beserta yang lain. Disusul oleh anak dan istrinya, Daffa dipersilahkan masuk.
"Iya yai, terimakasih" Balas Daffa.
"Sungguh sebuah kehormatan untuk keluarga kami tuan dan nyonya audah bersedia hadir" Abah Ayub mengatakan jika semua adalah kehormatan terbesar untuknya.
"Abah Yai jangan berlebihan. Sudah seharusnya kami datang kemari. Dan sebuah kehormatan besar pula karena sudah mengundang keluarga kami" Balas Daffa tak kalah ramah. Sehingga pembicaraan mereka di depan gerbang itu menyita perhatian publik. Berapa pasang mata yang memandang kearah keluarga Daffa. Mereka terlihat begitu mengagumi.
__ADS_1
"Annisa ... Ummi yakin kalau kamu pasti akan datang. Tuan Daffa, nyonya Hanna. Terimakasih sudah membawa Annisa kesini" Ucap ummi Nafi terlihat kebahagiaan terpancar dari sorot matanya.
"Nada berangkat sendiri ummi. Kita hanya kebetulan saja bertemu dengannya di bandara" Jawab Daffa.
"Mari mari... Masuk dulu. Kita istirahat dulu" Ummi Nafi mengajak tamunya untuk segera masuk.
"Kang, mbak, tolong bawakan semua barang-barang tamu ya. Taruh di rumah tamu" Ummi Nafi berkata dengan sopan kepada beberapa santri ndalem. Akhirnya setelah semuanya masuk, beberapa santri ndalem pun mengangkat semua barang milik Daffa dan yang lain.
"Monggo, silahkan... Hanya seperti ini saja adanya" Setelah semuanya duduk, Abah Ayub mempersilahkan. Dan mereka akhirnya larut dalam sebuah perbincangan yang tak tentu arah. Entah apa yang mereka fikirkan.
"Karena acara akadnya masih besok pagi, saya harap keluarga tuan Daffa menginap disini saja. Kami sudah mempersiapkan tempat untuk semuanya. Dan karena ini sudah habis Dzuhur, kita sholat berjama'ah dulu setelah itu tuan Daffa bisa beristirahat" Abah Ayub mengatakan maksudnya.
"Terimakasih untuk semuanya abah Yai. Kami benar-benar merasa terhormat sekali. Terimakasih" Balas Daffa. Setelah adzan berkumandang, mereka semua berjalan menuju masjid dan melaksanakan sholat dzuhur berjama'ah. Begitu sholat berjama'ah disertai dengan dzikir singkat dan do'a selesai, Abah Ayub menyuruh salah satu santri ndalem untuk mengantarkan keluarga Daffa menuju rumah khusus tamu di pesantren tersebut.
"Kang, tolong antarkan keluarga tuan Daffa ke rumah tamu ya" Titah abah Ayub.
"Sendiko abah" Jawab santri ndalem tersebut. Dan Daffa pun tersenyum melihat hal tersebut.
__ADS_1
"Annisa... Kamu tinggal disini sebentar ya nduk" Tiba-tiba ummi Nafi menghentikan langkah Nada. Dan membuat semua orang menoleh kepadanya.