
"Vian... Oe. Udah ngga kelihatan itu" Ardi menepuk bahu Vian yang memandang kepergian keluarga Daffa.
"Aku masih bingung. Darimana keluarga Utama mengetahui identitas Nada? " Tanya Vian.
"Kamu ngga tahu, mata mereka ada dimana-mana? " Ardi berkata dengan lirih. Vian pun menghela nafas dalam dalam, sebelum akhirnya dia duduk bersama dengan yang lain.
"Jangan khawatir, selama ini keluarga Utama selalu membantu kita. Tidak mungkin keselamatan Nada terancam saat bersama mereka" Ardi mencoba berbicara. Dan Vian pun mengangguk. Dan sebenarnya yang difikirkan Vian bukanlah hal itu.
~Nada~
Di dalam mobil keluarga Daffa, Nada kembali memikirkan keluarga abah Ayub.
"Emmm... Nada. Bagaimana bisa kamu diculik? " Tanya Arsyad yang duduk di sebelah Nada namun terhalang oleh Arsyida di antara mereka.
"Kamu kenal sama Tantra Nad? " Tanya Arsyida.
"Emm.. Jawab dulu pertanyaanku Nad" Arsyad berkata dengan tegas. Membuat Arsyida menoleh ke arahnya.
"Ehh, iya. Jadi mungkin Welly itu merasa dendam sama saya mas. Beberapa hari yang lalu, saya lihat Welly and the geng sedang membully seorang anak. Aku misahin. Mereka malah marah-marah. Karena mungkin ngga terima aku membuat cidera tangan Welly" Jawab Nada dengan jantung berdebar sangat kencang. Arsyad terus memperhatikan Nada.
"Matanya biasa aja kali Syad, ngga usah gitu lihatin gadis cantik" Arsyida menepuk pipi Arsyad pelan hingga saudara kembarnya itu menoleh. Terlihat Nada yang tersenyum.
"Terus kamu kapan jawab pertanyaan aku? " Ucap Arsyida lagi.
"Maaf, sebenarnya saya ngga kenal sama mereka" Jawab Nada.
"Mereka melakukan pembullyan? "Tanya Daffa.
"Iya pak, Rengga tidak berani melawan. Katanya disekolah itu Welly dan gengnya suka semena-mena sama anak yang lain. Hanya karena ayah welly ditakuti banyak orang. Tidak ada satupun diantara guru dan murid yang berani ikut campur. Jadi mereka seenaknya sendiri" Nada mengatakan hal tersebut. Terlihat Daffa yang mencengkeram setir dengan kencang. Nada pun tidak tahu jika sekolah itu adalah milik keluarga Daffa.
"Kenapa kamu berani? " Arsyad menoleh ke arah Nada dengan kepala di belakang punggung Arsyida. Tatapan mereka sangat dekat.
"Aa.. Aanu..." Nada tidak melanjutkan ucapannya karena Arsyida sudah terlebih dahulu memundurkan tubuhnya. Jadi iya menjepit kepala Arsyda dibelakang punggungnya. Arsyad langsung menarik kepalanya kembali duduk tegak.
__ADS_1
"Makanya jangan seenaknya juga. Bukan muhrim" Ketus Arsyida. Nada pun tersenyum. Hampir saja dia tertawa.
"Arsyad Arsyad... Sudah tahu pemisahnya kaya gitu, masih aja nekat nerobos" Gumam Daffa sambil tertawa saat iya melirik anak-anaknya dari kaca spion.
"Nad, kita nikah aja ya. Biar ngga ada pemisah diantara kita" Ucap Arsyad. Spontan Daffa menginjak rem dengan mendadak.
'Ciiiitttt..." Mobil pun terhenti.
"Daffa langsung menatap tajam ke arah Arsyad. melihat
"Hehe... Papah" Arsyad nyengir. Melihat tatapan papanya.
"Masa ada orang ngajak nikah kaya gitu. Ngga sopan banget" Ucap Arsyida.
"Oh iya, emang Nada mau diajak nikah kaya gitu" Arsyida berkata lagi. Nada hanya tersenyum.
"Kamu mikirin apa Nada? " Tanya Hana dari kursi depan.
"Hmmm, anu buk Hana... Nada bingung nanti mau bilang apa sama abah dan ummi" Jawab Nada.
"Jawab aja mereka salah sasaran" Arsyad menyahut lagi. Kali ini Nada tersenyum ke arah Arsyad. Memperlihatkan kedua lesung pipinya.
"Ya Allah, lindungilah dan kuatkanlah iman hambamu ini" Ucap Arsyad sambil terus memperhatikan Nada.
"Bilangnya minta dilindungi, nyatanya dia sendiri yang mau dilindungi" Sindir Arsyida kepada saudara kembarnya.
"Nada... Kamu itu manusia biasa atau bukan sih? Cantik mu diatas rata-rata. Arsyida ini cantik, tapi kamu lebih cantik dari dia" Ucap Arsyad dengan tatapan terpukau. Semua penumpang mobil menggelengkan kepala melihat dan mendegarkan Arsyad.
"Nada, kita sama-sama cantik. Ngga heran banyak yang suka sama kita" Jawab Arsyida tiba-tiba. Nada bingung harus menjawab bagainana. Iya pun tersenyum lalu menunduk.
Setelah perjalanan hampir 1 jam, mereka tiba dirumah Nada. Terlihat lampu yang masih menyala terang.
"Pasti abah dan ummi tidak bisa tidur" Ucap Nada sambil berusaha membuka pintu mobil. Namun aktifitasnya terhenti karena Arsyad memegang lengan baju Nada. Sedangkan Hana dan Daffa sudah turun.
__ADS_1
"Mas, ada apa? Tolong lepasin lengan baju Nada" Ucap Nada.
"Aku ngga akan macam-macam. Ini... Lap dulu bekas air mata kamu" Arsyad menarik 1 lembar kertas tissue dan memberikan kepada Nada. Nada pun menerima dan dengan segera mengelap wajahnya. Arsyida yang melihat kejadian langka inipun membulatkan mata dan bibirnya.
"Sudah... Kalau sudah ayo turun. Mama sama papa sudah nunggu" Arsyida membuyarkan lamunan saudara kembarnya. Akhirnya setelah Nada selesai mengelap wajahnya, Arsyad melepaskan lengn baju yang dipegangnya. Mereka pun turun secara bergantian.
Belum sempat keluarga Daffa mengetuk gerbang, pintu rumah sudah dibuka. Dn keluarlah gus Zidan dan kang Ali.
"Siapa gus? " Tanya kang Ali.
"Itu bu Hana, Itu Nada juga" Jawab gus Zidan kemudian.
"Panggil abah sama ummi ya" Gus Zidan segera berjalan mendekat ke arah Nada. Sedangkan kang Ali mesuk memanggil abah Ayub dan ummi Nafi.
"Nada..." Ucap gus Zidan dengan wajah sumringah dan tersenyum cerah. Iya perlahan membuka pintu gerbang. Semua yang mengantarkan Nada tersenyum. Terlihat wajah kusut gus Zidan setelah iya mendekat serta cahaya lampu yang menerangi wajahnya.
"Nada, kamu ngga apa-apa? " Gus Zidan mendekati Nada. Iya terlihat bahagia karena Nada sudah kembali. Belum surut rasa bahagianya. Abah dan ummi juga keluar dengan wajah sumringah. Terlihat mata ummi Nafi yang sembab, sepertinya habis menangis.
"Nada... Sayang kamu ngga apa-apa? " Ummi Nafi memeluk Nada dan berkata dengan air mata yang menetes.
"Alhamdulillah ummi, Nada tidak kurang suatu apapun" Jawab Nada tersenyum. Iya merasa bersalah karena membuat panik semua orang.
"Mari masuk dulu" Ummi Nafi mengajak masuk, iya menggandeng Nada. Dan dibelakangnya semua orang mengikuti. Terlihat gus Zidan dan Tuan muda Arsyad yang saling memandang. Mereka Entah memikirkan apa di dalam fikirannya. Suara Arsyida dan kang Ali yang berad di depan mereka lagi-lagi membuyarkan pandangan mereka.
"Mari masuk" Kang Ali mempersilahkan. Dan mereka semua masuk. Mereka duduk di sofa ruang tamu.
"Nada, apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa kamu bisa bareng sama tuan Daffa? " Tanya umi Nafi.
"Tadi itu, mereka salah sasaran bu nyai. Mereka menculik Nada yang dikira anak yang sudah mereka incar. Karena merasa Nada bukan targetnya. Mereka melepaskan Nada. Dan kebetulan kami tadi ketemu Nada. Jadi kita antarkan saja sekalian" Tuan Daffa berkata. Iya tahu Nada tidak mungkin bisa berkata dengan baik.
"Tuan Daffa, terima kasih sudah mengantarkan Nada" Abah Ayub berkata dengan sopan. Tiba-tiba kang Ali datang dengan beberapa teh hangat.
"Ini diminum dulu ya. Cuacanya sedang dingin" Ucap kang Ali. Mereka pun tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Nada sudah kembali. Kita tadi sangat khawatir dengan keselamatanmu nduk" Ummi Nafi lagi-lagi memeluk Nada dengan penuh rasa kasih sayang.