Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Twin A dan Nada


__ADS_3

~Arsyida~


Di dalam sebuah kamar. Arsyida tersenyum memandang ke arah jarinya. Iya tak menyangka jika dirinya akan dipersunting oleh lelaki yang selama ini menjadi kakak angkatnya. Bukan masalah, karena mereka tak memiliki hubungan darah.


" I love you kak haidar" Gumam Arsyida sambil mengelus cincin pemberian Haidar yang sudah terpasang di jarinya. Iya kembali tersenyum mengingat betapa romantisnya Haidar. Saat tengah fokus pada fikirannya, lamunan Arayida terbuyarkan oleh dering ponselnya. Setwlah melihat siapa yang menghubungi, dia semakin tersenyum lebar. Segera diambilnya ponsel itu lalu menggesernya. Terpampanglah wajah pangeran berkereta besi di hadapannya.


"Belum tidur? " Tanya Haidar pelan. Arsyida hanya tersenyum dan menggeleng.


"Ini sudah malam lo. Kakak baru aja selesai bersih-bersih" Ucap Haidar sambil memandangi gadis di layar ponselnya.


"Iya, ini mau tidur" Arsyida menunduk saat menjawab dengan pelan.


"Ya sudah... Tidur dulu. Kakak juga mau istirahat" Hadiar tersenyum memandang Arsyida yang malu-malu. Iya semakin dibuat gemaa dengan tingkah calon iatrinya itu.


"Iya. Selamat malam" Ucap Arsyida.


"Malam... Tidur yang nyenyak ya" goda Haidar. Dan semakin membuat semburat merah dipipi Arsyi. Akhirnya panggilan pun diakhiri. Namun Arsyida masih enggan berpaling dari menatap layar ponselnya. Iya mrmandangi foto yang terpajang disana sebagai wallpaper. Namun tiba-tiba ponselnya mati.


"Yah... Habis lagi baterainya" Arsyida dengan malas bangkit dari tempat tidir dan mencari chargernya. Setelah itu iya kembali merebahkan diri di atas tempat tidur. Saat menoleh, iya tak sengaja melihat jam. Dan ternyata sudah pukul 23.34.


"Ih... Kok ngga ngantuk ya" Gumamnya sendiri. Iya pun segera menarik selimut dan menurupi seluruh tubuhnya. Entah apa yang sedang berjalan di dalam fikirannya. Semua itu membuatnya sulit untuk terlelap.

__ADS_1


~Arsyad~


Dikamarnya juga, Arsyda terlihat sedang memandang foto gadis di ponsel pintarnya. Nada yang menjadi fokus utamanya. Didalam foto itu Nada tampak sangat serius menghadap ke arah layar monitor. Foto itu diambil tanpa sepengetahuan dari pemiliknya. Entah apa yang mendorong Arsyad untuk mencuri-curi foto gadis disampingnya.


"Kok bisa yaa, ada gadis secantik dirimu" Gumam Arsyad sambil mengusap layar ponselnya. diperhatikannya dengan intens foto Nada.


"Aku harus bisa meluluhkan hatimu" Arsyad berkata lagi. Sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, iya mencoba untuk memejamkan matanya. Namun lagi-lagi iya tak bisa.


"Apa aku hubungi Nada aja ya" Gumamnya sambil meraih ponselnya kembali. Segera Arsyad mencari nomor Nada dan ingin melakukan panggilan. namun tiba-tiba iya mengurungkan niatnya.


"Kalau sudah tidur aku bakal mengganggu. Ini kan sudah malam juga" Arsyad mengurungkan niatnya.


"Ah besok saja lah" Arsyad pun kembali meletakkan ponselnya. Lalu membelakanginya. Namun nasib baik tak berpihak kepadanya. Iya pun juga tak bisa tidur.


Sedangkan dirumahnya sendiri yang sudah mulai sepi, Nada merenung dengan merebahkan badannya diatas kasur. Menatap langit-langit di kamarnya. Sudah hampir jam 11 malam, namun dirinya masih disibukkan dengan fikirannya yang terus berkelana jauh. Seakan tak memberi jeda untuk sekedar mengistirahatkan otaknya yang seharian bekerja keras, Nada berusaha melupakan semuanya. Di lain sisi, hatinya terasa meremang dengan perlakuan Arsyad yang semakin aneh.


"Kok aku percaya diri sekali sih" Gumam Nada.


"Tapi... kalau dilihat dari caranya, kok aku ngerasa dia sungguh-sungguh ya" Nada masih berkelahi dengan perasaanya. Mencoba memenangkan antara rasa penasaran dan keyakinan. Bahkan ponsel yang sejak tadi berbunyi pun iya abaikan. Lama-lama Nada tersadar saat mendengar ponselnya sekali lagi berdering. Nada segera mengangkat tangannya mengambil ponsel di meja yang tak jauh dari tempat tidurnya. Lalu melihat siapa yang menghubunginya malam-malam sepert ini. Terlihat sebuah panggilan dari nomor baru. Nada mengerutkan kening menatap layar ponselnya. Iya pun mengangkatnya.


"..." Nada terdiam sejenak mendengarkan suara siapa yang akan menyapanya dari seberang telepon.

__ADS_1


"Halo... Nak. Ini bapak" Nada semakin bingung setelah apa yang dia harapkan terjadi.


"Halo nak... Bapak sedang dalam masalah. Tolongin bapak" Ucap orang itu lagi.


"Maaf, ini bapak siapa ya? " Tanya Nada perlahan.


"Ya ampun, kamu itu... Sama bapak sendiri tanya bapak siapa? " Nada pun masih terdiam, ingin mendengarkan kalimat selanjutnya.


"Ini bapak ban sepeda motornya tiba-tiba meledak. Mana sudah tengah malam. Kamu bisa kesini. Jemput bapak. Ini bapak mau nganterin sepeda motor ke bengkel" Nada masih setia mendengarkan. Awalnya iya percaya. Namun mendengar penjelasan dari orang yang menelponnya, Nada yakin itu hanyalah sebuah modus. Kini Nada masih mendengarkan.


"Haloo, bisa kan kamu kesini. Ini kakak kamu dihubungi ngga bisa. Ngga diangkat" Ucapnya lagi.


"Bapak dimana? " Nada mulai merencanakan sesuatu untuk mengerjai si penelpon.


"Di jalan cakra... Deket sama bengkel. Ini bengkelnya tutup. Bapak mau panggil semoga aja mau. Nanti motornya bapak tinggal, kamu jemput bapak ya. Kasihan kalau malam-malam suruh ngerjain" Ucap si penelpon lagi.


"Iya, Bapak tunggu aja disana" Kata Nada dengan malas.


"Iya, nanti kalau sudah mau sampai hubungi bapak ya" ucapnya meyakinkan.


"Hmmm... Tunggu saja pak" Nada berkata lagi. Setelah itu panggilan berakhir. Nada dengan cepat mematikan ponselnya lalu meletakkan kembali diatas meja. Setelah itu iya menarik sebuah guling dan memeluknya dengan erat.

__ADS_1


"Tunggu aja sampai ada kecoa menggendong drum" Gumam Nada. Iya pun tersenyum simpul. Setelahnya mencoba memejamkan mata. Meraih kedamaian dalam mimpi.


__ADS_2