
Beberapa mobil ambulans datang ke villa milik papa Welly. Semua pengawal Welly terluka parah karena beberapa di antaranya ditembak tepat dikakinya. Petugas kesehatan segera melakukan tugasnya. Mereka membawa yang terluka ke rumah sakit.
"Ingat Tantra... Jika sekali lagi kalian berani mengusik kami, aku tidak akan segan-segan menghancurkanmu. Dan satu lagi, ajari anakmu untuk hidup lebih baik" Vian memperingatkan Tantra. Ayah Welly. Tantra pun mengangguk dan menunduk.
"Iya tuan, kami berjanji tidak akan pernah mengusik kalian lagi. Terutama gadis itu. Maafkan saya nona, maafkan Welly juga" Tantra meminta maaf. Setelah itu mereka pergi menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Hendra.
"Welly, hampir saja kamu menghancurkan hidup kita" Tantra berkata dengan dingin.
"Pah, aku ngga tahu tentang gadis bernama Nada itu. Kemarin aku mencari informasi tentang dia, dia hanyalah seorang gadis biasa tapi sangat berprestasi. Kenapa papa takut dengan laki-laki bernama Vian itu? " Welly berkata dan bertanya karena penasaran. Papanya berdiri dari duduknya, iya perlahan berjalan ke arah jendela dan menatap ke luar. Perlahan iya bercerita.
"Saat itu kamu masih bayi. Papa sudah hampir mati karena sebuah pertarungan. Tertembak tepat di bahu sebelah kiri. Yang melakukan itu adalah tuan Vian. Dia melakukan itu untuk melindungi tuan Voltus. Tuan Voltus itu atasannya. Saat itu papa hampir membunuh tuan Voltus. Tapi Vian datang dengan pistol ditangannya. Merasa tuannya dalam bahaya, Vian menembak bahu papa. Papa kehilangan banyak darah. Dan tuan Vianlah yang membawa papa ke kerumah sakit karena merasa kasihan. Ternyata sampai disana stok darah untuk golongan papa sedang kosong. Dan dengan segala kemudahan dari Tuhan. Tuan Vian mendonorkan darahnya untuk papa. Sejak saat itu, papa berjanji tidak akan menyakiti, mengganggu ataupun mengusik tuan Voltus dan semua kelompoknya. Bahkan sebagai bentuk rasa terimakasih papa, papa akan dengan senang hati membantu mereka. Mereka adalah aset negara Welly. Mereka berada di bawah naugan peretas ternama, Hamba Allah" Papa Welly bercerita, iya mengingat dulu saat dimana dirinya meregang nyawa karena kesalahannya sendiri.
"Tuhan masih sangat baik membiarkan papa hidup"
"kamu jangan pernah mengusik gadis itu lagi, atau hidup kita akan hancur" Tantra memperingatkan putranya.
"Jadi papa takut dengan mereka sekarang? " Welly masih bertanya lagi.
"Iya, mereka bukan tandingan kita. Ilmu beladiri mereka jauh di atas rata-rata. Keahlian menembak mereka juga begitu. Belum pernah melesat, meskipun dari jarak jauh. Mereka adalah beberapa dari sekian banyak yang menjadi prioritas andalan utama negara ini"
"Meskipun papa dan kelompok adalah satu geng mafia terbesar di negara ini. Kita tetap tidak bisa menandingi kehebatan mereka. Mereka akan dengan mudah mengendus semua gerak-gerik kita" Tantra menjelaskan kepada putranya.
__ADS_1
"Papa takut, jika gadis itu adalah salah satu diantara mereka"
"Kamu tahu Utama grub? Mereka adalah salah satu perusahaan terbesar yang menggelontorkan beberapa senjata canggih ke mereka. Utama Grub bekerja sama dengan perusahaan perakit senjata diluar negeri. Dengan system yang mereka miliki, Utama grub mampu menjadi pemasok senjata legal di negara ini. Mereka terus memantau kepada siapa saja senjata itu jatuh. Sedangkan kita mendapatkan semua senjata dari usaha ilegal. Kamu paham maksud papa? " Tanya Tantra kepada putranya yang sudah berada disampingnya sejak tadi.
"Kalau Nada adalah salah satu dari mereka... Kenapa Nada masih sekolah pa. Dia masih kelas 12 saat ini" Tanya Welly.
"Seorang aset negara tidak memandang umur. Kamu pernah mendengar kan, seorang yang berusia belia namun kegeniusannya diatas rata-rata? Jika Nada sudah memenuhi kriteria itu, siapa tahu. Tapi jangan khawatir, jika kita tidak mengusik mereka, mereka tidak akan mengganggu kita. Kita harus menutup kasus yang terjadi malam ini, jangan pernah mengungkitnya. Apalagi mengungkap jika gadis itu adalah salah satu dari mereka" Tantra menjelaskan supaya putranya lebih mengerti.
"Baik pah... Welly mengerti sekarang" Iya mengangguk dan tersenyum. Melihat papanya saja takut kepada Vian yang melindungi Nada. Welly berniat tidak akan pernah mangganggu Nada lagi. Mereka pun masuk dan beristirahat.
Di dalam perjalanan, Nada terlihat gelisah.
"Ada apa Nada? " Tanya Vian didepannya.
"Sebenarnya 2 orang yang tadi bantuin nona sudah melapor ke kantor polisi. Mereka kembali setelah tidak dapat mengejar mobil Welly" Salah satu pengawal itu mengatakan.
"Tetap saja abah sama ummi pasti cemas kak. Kasihan mereka" Nada masih dalam mode diamnya memikirkan semua hal.
"Sebenarnya, bagaimana Welly bisa sampai menculikmu Nad? " Tanya Vian.
"Beberapa hari yang aku aku menghajar geng Welly disekolah bang. Mereka itu sudah keterlaluan. Selalu menggertak dan membully anak-anak yang lemah. Disekolah, ayah Wely sudah terkenal. Tidak ada satupun yang berani berurusan dengan mereka.
__ADS_1
"Tapi kamu berani? Hebat kamu Nada" Ardi yang duduk disamping Nada pun menyahut.
"Aku ngga mungkin diam lihat kekerasan bang, apalagi itu disekolah" Jawab Nada. Semuanya mengangguk dan tersenyum atas jawaban Nada. Dan mereka pun sudah tiba di sebuah puskesmas. Setelah turun, mereka melihat Hendra di dorong diatas brangkar rumah sakit. Dengan cepat Vian dan yang lain turun menghampiri Hendra yang tak sadarkan diri.
"Apa hal buruk terjadi padanya? " Tanya Vian tiba-tiba.
"Tuan Hendra harus dibawa kerumah sakit. Disini tidak bisa melakukan oprasi. Dirumah sakit alat-alatnya lebih lengkap" Jawab seorang perawat.
"Ayo cepat" Ardi berkata dan mereka pun langsung kembali masuk ke mobil.
"Tolong salah satu, rekayasa lampu merah sepanjang perjalanan ke rumah sakit" Ucap Vian. Nada dan Ardi segera bertindak.
"Pinjam tab nya bang Vian, biar aku bantuin" Nada mengulurkan tangan meminta tablet Vian. Vian pun memberikan. Nada dan Ardi segera melakukan rekayasa terhadap lampu lalu lintas sepanjang perjalanan.
Tak sampai 25 menit, ambulans yang membawa Hendra tepat di rumah sakit terbesar dikota ini. Rumah sakit itu milik Fariz, sepupu Daffa. Tiba dirumah sakit dengan waktu yang singkat karena tidak ada kendala apapun dalam perjalanan. Dengan segera para perawat mendorong Hendra ke ruang UGD. Hendra pun segera mendapatkan penanganan. Sedangkan Nada, Vian, Ardi dan 1 orang pengawal menunggu di luar. Terlihat wajah Nada yang cemas. Memikirkan keselamatan Hendra. Tak henti-hentinya iya berdo'a memohon agar Hendra segera bisa melewati masa kritisnya.
"Nad, Ada panggilan darurat, kamu disini dulu ya" Vian dan Ardi segera menjauh. Nada pun mengangguk.
"Nona, saya ke toilet sebentar ya. Nona jangan kemana-mana, tetaplah disini" Ucap pengawal disampingnya itu. Nada kembali mengangguk.
Beberapa saat Nada menunggu sendirian. Tiba-tiba seorang lelaki tampan yang tak dikenalnya mendatanginya.
__ADS_1
"Annisa Qodrunnada? " Panggil lelaki itu. Nada menoleh dan memperhatikan lelaki itu sebentar. Entah magnet apa yang menarik perhatiannya, Nada memandang lelaki tak dikenalnya itu tanpa berkedip.