Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Ikan Cupang Di Kolam Tengah Taman


__ADS_3

Arsyi berjalan mendekati Haidar dan kakek. Iya segera meraih selimut dan menutupi tubuh renta sang kakek.


"Terimakasih" Ucap kakek dan Haidar bersamaan. Karena malu dan tak tahu harus menjawab bagaimana karena gugup, Arsyi hanya mengangguk dan tersenyum. Akhirnya Haidar mengajak Arsyi duduk di sofa kamar kakek. Kamar ini sangat luas dan begitu nyaman.


"Kalian, bawalah kotak itu. Kakek sudah tidak mau menyimpannya. Karena apa yang menjadi keinginan mamamu sudah terpenuhi. Haidar, itu sekarang sudah hak kamu. Simpanlah" Ucap kakek sambil memandang keduanya.


"Baik kek. Kakek istirahatlah, kami akan keluar dulu" Ucap Haidar sopan. Hal itu semakin membuat Arsyi kagum akan ketulusannya. Kasihnya kepada seorang kakek saja tak terbatas. Tanpa sadar Arsyi tersenyum.


"Ayo keluar, biar kakek istirahat. Kakek kalau mau apa-apa panggil ya" Haidar berkata kepada Arsyi, selanjutnya iya berkata kepada gadis di sampingnya. Dasar sifat pendiam Arsyi seperti mamanya. Iya tak banyaj bicara saat bertemu orang baru. Arsyi dan Haidar pun keluar bersama dari kamar kakek sambil membawa kotak itu


Haidar berjalan menuju tangga untuk dapat ke kamarnya. Sambil membawa kotak itu, iya meraih tangan Arsyi.


"Kak, mau kemana? " Ucap Arsyi saat Haidar meraih tangan dan menariknya menuju tangga.


"Ke kamar aku sayang, naruh ini" Haidar menaikkan sedikit kotak itu memperlihatkan kepada Arsyi.


"Aku... Aku disini aja ya" Arsyi merasa gugup. Hal itu disadari oleh Haidar. Iya tersenyum. Dalam hati berniat menggoda Arsyi.


"Yakin kamu ngga mau ikut kakak? " Tanya Haidar berbisik ke dekat telinga. Seketika juga bulu kuduk Arsyi berdiri. Merinding dirasakan oleh sekujur tubuhnya. Iya menggeleng. Pipinya memerah entah karena apa. Yang pasti Arsyi sangat gugup.


"Hahaha" Tiba-tiba Haidar tertawa.


"Ya sudah, kamu tunggu di taman ya. Nanti kakak nyusul kamu kesana. Kakak naruh ini dulu" Ucap Haidar menunjuk sebuah taman kecil disamping rumah. Wajah Arsyi terlihat berbinar memandang taman itu. Iya mengangguk dan tersenyum. Haidar langsung naik ke kamarnya dilantai 2 untuk meletakkan kotak perhiasan itu. Tak ingin berlama-lama dikamar, iya langsung keluar lagi menyusul Arsyi di taman.

__ADS_1


Sesampainya di taman, Haidar melihat Arsyi yang duduk di tepi kolam ikan ******. Iya terlihat tersenyum memandang ikan-ikan ****** tersebut berenang ke sana kemari.


"Sayang" Ucap Haidar berbisik di dekat telinga Arsyi. Perlakuan Haidar membuat Arsyi terdiam, Iya merasakan desiran aneh dalam hatinya. Ditambah Haidar yang saat ini sudah duduk disampingnya. Dekat... Sangat dekat namun tetap saling menjaga jarak.


"Kamu suka sama ikan-ikan ini? " Tanya Haidar dengan memandang lurus ke arah kolam, iya juga memperhatikan ikan-ikan lucu itu berenang kesana kemari.


"Suka kak... Ikan-ikan ini lucu" Jawab Arsyi. Iyapun tak berani menatap Haidar.


"Nanti jika sudah menikah, kamu mau kan tinggal disini. Meskipun kakak belum resmi melamarmu dengan membawa keluarga, tapi kakak sangat berharap pernikahan ini secepatnya dilangsungkan" Haidar mulai membahas tentang pernikahannya. Ditatapnya Arsyi yang menunduk. Iya tersenyum. Merasa kagum dengan sikap pemalu sosok Arsyida. Terlihat Arsyida yang mengangguk.


"Terimakasih sudah menerima aku Arsyi, yang kata kakek adalah bujang lapuk" Dengan tersenyum Haidar berkata.


"Kata kakak bukan bujang lapuk" Arsyi kembali mengingatkan akan candaannya tadi bersama kakeknya.


"Arsyi..." Panggil Haidar pelan. Arsyipun menoleh menatap Haidar disampingnya sesaat, setelahnya iya kembali menatap kolam kecil didepannya.


"Jangan pernah bersikap seperti itu di depan lelaki lain" Ucap Haidar.


"Maksud kakak bagaimana? " Arsyi terlihat bingung, iyapun memandang Haidar dengan penuh tanda tanya.


"Jangan pernah menggigit bibir bawahmu di depan lelaki lain, kamu terlihat sangat menggoda saat seperti itu. Tanpa kamu sadari, jiwa kelelakianku meronta melihatmu seperti itu. Aku ini lelaki dewasa yang normal" Ucap Haidar sambil tersenyum. Arsyi membulatkan kedua mata serta mulutnya.


"Kak Haidar apaan sih" Arsyi terlihat sangat malu mendengar ucapan Haidar.

__ADS_1


"Tanpa kamu sadari, tingkah kamu membuat kakak meronta" Bisik Haidar di telinga Arsyi takut didengar oleh orang lain. Sontak Arsyi mencubit pinggang Haidar.


"Kak... Jangan bahas hal yang tabu" Arsyi pun tak mau menatap kakak angkat yang menjadi calon suaminya itu. Takut setan akan mempengaruhi keduanya.


"Hahaha... Arsyi dengerin kakak. Kakak serius sayang sama kamu. Ngga main-main. Jadi sebelum kamu halal untuk kakak, kakak ngga akan macam-macam sama kamu" Ucap Haidar sambil memegang kedua bahu Arsyi. Arsyi pun hanya terdiam memandangi ke dua tangan Arsyi.


"Lalu ini apa? " Tanya Arsyi menatap tangan Haidar.


"Hahaha... Masa iya cuma pegang gini aja ngga boleh sayang" Haidar terus menggoda Arsyi hingga pipinya memerah.


"Dan ini, kenapa pipimu memerah? Kita ini sudah dari kecil bersama. Kenapa seolah kita baru bertemu? " Haidar mengatakan itu sambil terus menatap Arsyi.


"Kak, sekarang sudah beda keadaanya. Aku bukan adik kecilmu lagi. Kita akan menikah. Dan semakin dekat dengan pernikahan, setan akan semakin gencar mempengaruhi kita" Jelas Arsyi.


"Adek kakak sekarang sudah dewasa ya" Haidar mengacak jilbab Arsyi di kepalanya.


"Kakaaak... Berantakan kan jilbab Arsyi. Dan satu lagi, Arsyi ini sudah 25 tahun, bukan anak 7 tahun lagi" Bibir Arsyi terlihat cemberut.


"Kalau kamu manyun, aku bakal cium kamu sekarang juga" Bisik Haidar sangat pelan. Dan bisikan itu membuat bulu kuduk Arsyi kembali berdiri. Akhirnya iya memilih untuk mundur beberapa langkah memberi jarak kepada dirinya dan Haidar. Namun karena tak berhati-hati, iya menyandung sebuah batu kecil di dekat kakinya. Iya pun hampir saja terjatuh. Jika Haidar tidak segera meraih tangannya, sudah dipastikan Arsyi bakal telentang di tanah berumput itu. Haidar segera menarik tangan Arsyi, dan sontak tubuh gadis 25 tahun itu ikut tertarik ke dalam dekapan Haidar. Terdengar degub jantung Haidar yang sangat keras di telinga Arsyi. Karena tarikan itu membawa Arsyi dalam pelukan di dada bidang Haidar. Seolah merasa nyaman dan tenang, Arsyi mendengar irama detak jantung itu.


"Nyaman banget ya dalam pelukan kakak? " Ucapan Haidar membuyarkan angan Arsyi. Iya segera melepaskan pelukan itu dan mundur beberapa langkah. Wajahnya sudah memerah seperti udang rebus. Iya memilih untuk menunduk.


"Kalau mau dipeluk lagi, kakak mau meluk kamu lebih lama sayang..." Haidar terus menggoda Arsyi, hingga sebuah suara menghentikan keduanya.

__ADS_1


__ADS_2