
"Annisa Qodrunnada ? " Panggil Seorang lelaki tampan yang memandang Nada tanpa berkedip. Tatapannya sangat intens. Sehingga Nada pun tak bisa memalingkan muka darinya. Dengan langkah pasti, lelaki itu mendekati Nada. Memandang dengan penuh kekaguman. Tatapan mereka bertemu dan terkunci oleh paras cantik dan tampan dari masing-masing wajah mereka. Hingga sebuah suara membuyarkan lamunan indah Nada dan lelaki itu.
"Arsyad" Teriak Arsyida dari arah lobby. Iya segera mendekat ke arah Nada dan Arsyad. Nada dan Arsyad pun menoleh ke arah sumber suara.
"Dicariin malah disini" Arsyida masih belum memperhatikan Nada yang berdiri disampingnya. Setelah menoleh, iya terkejut karena gadis disampingnya.
"I... Ini... Ini... Gadis yang..." Ucapan Arsyida terhenti begitu saja. Iya menatap Nada dalam-dalam. Mencari kebenaran dari apa yang dilihatnya. Nada yang mengetahui hal itu menjadi bingung.
"Sudah lihatinnya? " Arsyad membubarkan lamunan Arsyida yang memandang ke arah Nada dengan eksprei tidak percaya. Iya menyentil dahi saudara kembarnya itu.
"Arsyad... Kamu menemukannya? " Bisik Arsyida.
"Hmmm... " Arsyad hanya bergumam. Tiba-tiba Vian dan Ardi datang. Mereka yang mengenali Arsyad dan Arsyida pun segera menyapa.
"Tuan muda Arsyad, Nona Arsyida" Ucap Vian. Twin A dan Nada pun menoleh ke arah Vian.
"Tuan muda ada disini, apa yang sedang tuan lakukan" Tanya Vian.
"Bang Vian kenal sama mereka? " Tanya Nada penasaran.
"Tentu saja Nad, ini kan tuan Muda dan nona muda dari keluarga Utama. Salah satu erusahaan perakit senjata yang kita gunakan selama ini. Bukannya kita pernah menceritakan padamu? " Ucap Vian menjelaskan. Nada mengangguk paham.
"Tapi... Darimana tuan Utama bisa tahu nama saya? " Tanya Nada dengan suara pelan. Iya menunduk. Arsyad tersenyum smirk menatap Nada yang menunduk.
"Kita kan pernah bertemu sebelumnya" Jawab Arsyad sambil terus memandangi Nada. Nada yang mendengar itupun segera menoleh kearah Arsyad.
"Kapan? " Nada bertanya lagi.
"Di jalan, pas tas kamu kebuka" Arsyad masih dengan senyumnya, iya menatap Nada yang terlihat mengingat-ingat kapan kejadian itu.
"Yang di dalam mobil disamping saya pas berangkat sekolah itu? " Nada terdengar ragu menanyakan itu.
"Tepat sekali... Kamu..." Belum sempat ucapannya selesai, seseorang memandang twin A.
"Arsyad Arsyi" Ucap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Terlihat iya mendatangi sekumpulan muda-mudi yang tak jauh dari dirinya berdiri.
" Bu Hana..." Ucapan Nada sontak membuat semua orang menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Nada... Sayang kamu ngapain disini? " Tanya Hana saat tahu Nada berada disana. Iya berjalan melewati putra dan putrinya begitu saja.
"Mama kenal sama dia? " Tanya Arsyi juga.
"Jelaslah kenal... Inikan gadis yang sering mama ceritain ke kalian" Jawab Hana enteng sambil tersenyum ke arah Nada. Nada pun menunduk karena merasa malu.
"Ada apa ini kok rame-rame" Daffa mendekat dan bertanya.
"Loh, Nada juga disini? " Semua orang terkejut mendengar pertanyaan dari Daffa.
"Papa juga kenal sama dia" Arsyad pun langsung bertanya.
"Kamu kalah cepat ya sama papa... Hahhaha" Daffa menertawakan putranya.
"Jadi, bu Hana dan pak Daffa ini orang tuanya" Batin Nada.
"Oh iya Nada, kamu kenapa ada disini sayang. Siapa yang sakit? " Tanya Hana penuh perhatian.
"Emm... Anu bu..." Ucapan Nada terhenti. Iya bingung akan menjawab apa.
"Emm, jadi Nada tadi itu nganterin teman buk" Hana merasa ada yang ditutupi.
"Mati aku... Mau jawab apa ini" Batin Anna.
"Jangan takut Nada, jawab saja sejujurnya. Kita sudah tahu siapa kamu" Ucap Hana sambil memberikan selembar kertas kepada Nada. Nada pun menerima dan langsung membacanya. Nada membulatkan mata indahnya. Iya memandang ke arah Hana dan Daffa.
"Baa... Bagai... mana ibu sama bapak tahu? " Tanya Nada terbata-bata. Tiba-tiba Vian meraih kertas di tangan Nada.
"Jadi... Tuan sama nyonya sudah tahu? " Vian pun bertanya. Hana dan Daffa mengangguk sambil tersenyum.
"Jangan khawatir. Semua akan tetap seperti biasa" Daffa berkata dengan serius. Iya menatap kekhawatiran diwajah gadis di depannya itu.
"Pah, mah... Ada apa sebenarnya" Arsyad yang belum mengetahui pun bertanya.
"Jangan katakan disini, saya mohon" Nada berkata dengan lirih dan dengan suara memohon.
"Ini tuan muda" Vian memberikan secarik kertas itu kepada Arsyad. Setelah membaca, iya pun sangat terkejut.
__ADS_1
"Luar biasa. Keindahan dan kelebihanmu memang tidak diragukan lagi" Arsyad berkata dengan pandangan terkunci terhadap Nada. Iya semakin kagum setelah mengetahui siapa Nada sebenarnya.
"Jadi kamu disini karena ada yang terluka? " Tanya Daffa pelan. Nada pun mengangguk.
"Apa ada misi, sehingga salah satu dari kalian harus masuk rumah sakit? " Daffa menyelidik ingin tahu.
"Anu tuan Utama. Tadi Nada diculik oleh geng Tantra. Karena beberapa hari yang lalu Nada membuat cedera anak Tantra. Dan mereka ingin balas dendam" Vian menjelaskan.
"Nada, kamu ngga apa-apa? " Hana memeriksa tubuh Nada dengan khawatir.
"Tidak buk, Nada baik-baik saja. Untung tim dengan cepat bergerak" Nada tersenyum, menghilangkan kekhawatiran diwajah Hana.
"Syukurlah... Kamu harus hati-hati nak" Hana menasehati.
"Sejak kapan? " Arsyad tiba-tiba menarik tangan NAda dan menatapnya dengan tajam.
"A... apa yang sejak kapan tuan? " Nada berdebar membalas tatapan tajam dari lelaki tampan didepannya.
"Sejak kapan mereka menculikmu? " Arsyad bertanya dengan sikap posesifnya.
"Tuan muda, jangan seperti itu. Nada takut jika anda bersikap seperti itu" Vian pun berkata untuk membela Nada.
"Jangan berbicara Vian, aku bertanya pada Nada. Apa kamu juga bernama Nada" Arsyad masih menatap Nada dalam-dalam. Wajah cantik Nada mampu membius hatinya. Serta kewarasannya luntur saat mendengar Nada diculik.
"Lepas kan Nada tuan muda Utama. apa kamu tidak tahu jika Nada ketakutan. Jangan bertindak sesukamu" Hana kali ini bertindak. Batu setelah Hana berkata, Arsyad kembali melepas lengan Nada. Hana pun mendekati Nada.
"Nad, abah sama ummi tahu kamu diculik? " Tanya Hana lembut.
"Astaghfirullahaladzim... Iya. Kenapa aku baru ingat ada abah dan ummi. AKu harus segera kembali. Abah sama ummi pasti sangat khawatir" Nada pun tanpa pamit langsung akan meninggalkan mereka. Namun lagi-lagi tangan Arsyad meraih lengannya. Nada pun berhenti dan kembali.
"Bang Vian, Nada pulang dulu ya, kasihan mereka" Nada berkata dengan panik. Iya tidak bisa berfikir jernih mengingat jika dirumah ada orang-orang yang memikirkan keselamatannya.
"Kalau begitu, ayo abang antar. Kalian jaga disini. Ardi ayo kita antarkan Nada" Vian berkata. Namun lagi-lagi Arsyad bersikap seoalh Nada adalah miliknya.
"Biar aku yang antar Nada. Kalian tetaplah disini" Arsyad berkata dengan dingin. Kembali dengan keterkejutan semua orang. Ada apa dengan Arsyad.
"Hmmm, mah pah... Biar Nada pulang sama kita saja ya. Bang Vian dan yang lain tetap jaga aja disini. Temannya lebih membutuhkan kalian" Ucap Arsyi menetralkan pikiran semua orang. Akhirnya mereka mengangguk setuju.
__ADS_1
"Ya sudah, kalian tetaplah disini. Jaga teman kalian. Biar Nada kita yang antar" Hana pun ikut berkata dengan lembut.
"Bang, aku pulang dulu ya. Jangan lupa kabarin kalau bang Hendra sudah sadar" Nada berkata. Akhirnya Nada ikut dengan keluarga Utama. Dan Vian memandang kepergian mereka semua dengan tatapan nanar.