
Di sebuah perjalanan pulang, Haidar bersama dengan Arsyi duduk di kursi penumpang. Sedangkan sopir mengemudi dengan sangat hati-hati.
"Kak, kok bisa tadi ngikutin Nada? " Tanya Arsyi.
"Tadi pas mau jemput kamu jalan macet parah sayang. Terus aku turun. Pas lihat ternyata yang nolongin Nada. Pihak RS meminta Nada untuk ikut. Akhirnya aku nyusul" Jawab Haidar.
"Tapi kayanya seru ya ngerjain Arsyad... Hahaha" Arsyi tertawa pelan. Saudaranya pasti akan sangat berlebihan mengkhawatirkan Nada.
"Kamu iseng sekali lo. Kasihan Arsyad" Haidar berkata. Dan saat itu pula, mobil sudah berbelok ke sebuah rumah mewah. Baru kali ini Arsyida ke sini. Setelah mobil berhenti dihalaman rumah tepat di depan pintu, mereka berduapun turun. Saat masuk, banyak penyambutan dilakukan oleh beberapa pelayan di rumah Arsyad.
"Selamat datang, tuan, nona" Ucap salah satu pelayan, sepertinya kepala pelayan di rumah ini.
"Terimakasih" Arsyida menjawab dengan sopan. Haidar lalu menarik lengan Arsyi dan mengajaknya ke ruang makan.
"Kita makan dulu, kamu belum makan kan? " Tanya Haidar. Dan Arsyi hanya menggeleng.
"Ayo" Beberapa langkah dari mereka, terlihat seorang yang sudah sangat tua duduk di atas kursi roda. Haidar pun mendekat lalu mendorong kursi roda tersebut. Ketiganya melangkah menuju ke ruang makan.
"Sayang, ini kakek" Haidar berkata sambil terus mendorong kursi roda itu. Sesampainya di ruang makan, Arsyi langsung meraih tangan kakek Wira dengan pelan. Iya membungkukkan badan lalu mencium punggung tangan kakek.
"Selamat datang calon cucu menantuku. Kakek harap kamu bisa menjadi istri dari Haidar" Ucap kakek dengan mengusap kepala Arsyi pelan. Arsyi pun mengangguk lalu tersenyum.
"Kakek sudah minum obat? " Tanya Haidar penuh perhatian.
"Sudah, kalian segeralah makan" Suara kakek Wira pelan. Iya memperhatikan cucunya dan calon istri Haidar.
__ADS_1
"Kakek sangat senang bisa bertemu denganmu nona Utama. Bagaimana kabar orang tua mu? " Tanya nya sambil menunggu Haidar mengambilkan makan siangnya.
"Arsyi juga sangat senang bertemu dengan kakek. Alhamdulillah, papa dan mama baik kek" Jawab Arsyi dengan senyum cerah, terlihat sangat manis.
"Mereka benar-benar orang tua paling hebat yang sudah mendidik putra dan putrinya. Tak salah jika kakakmu ini memilihmu sebagai pendampingnya" ucapan kakek Wira terdengar sangat menginginkan Arsyi dan Haidar segera menikah.
"Kek, kita makan dulu ya, ngobrolnya nanti lagi" Haidar pun membuka suara. Dan akhirnya mereka makan bersama.
Setelah acara makan siang selesai, mereka bertiga berjalan menuju ke ruang keluarga. Setelah menghentikan kursi roda kakeknya, Haidar segera duduk disofa, disusul Arsyi yang juga duduk di sofa kosong disampingnya.
Akhirnya Arsyi sedikit bisa melepas rasa canggungnya. Iya tersenyum memandang Haidar dan kakeknya.
"Arsyi... Sebenarnya, kakek yang meminta Haidar untuk mengajakmu kesini" Ucap kakek mengawali pembicaraan. Arsyi hanya mengangguk dan tersenyum.
"Bi... Bisa bawa kesini" Ucap kakek kepada seorang pelayan. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang sambil membawa sebuah kota bbeludru berwarna merah berukuran cukup besar.
"Haidar... Arsyi, ini adalah sebuah kotak perhiasan. Ini adalah milik mama Kamu" Ucap sang kakek.
"Dulu... Sewaktu mama mu masih hidup, iya memiliki sebuah angan. Bahwa beberapa perhiasan itu kelak akan diberikan kepada istri Haidar. Namun karena sebuah kejadian harus menyebabkan mereka pergi untuk selamanya, kakeklah yang akan menggantikan orang tuamu untuk memberikan ini" Ucap kakek sambil membuka kotak itu. Diambilnya salah satu kalung yang sangat indah. Bertuliskan nama Haidar.
"Ini adalah salah satu kalung yang sengaja dibuat oleh papamu, Kalung permata hijau bertuliskan nama Haidar. Tak akan ada yang bisa memilikinya selain Haidar dan orang yang dipilihnya. Kakek Wira memperhatikan sebentar kalung itu, setelahnya iya mengulurkan kepada Haidar untuk mengambilnya.
"Kakek menjaga semua ini untuk cucu kakek. Karena ini memang hak Haidar" Kakek kembali bercerita.
"Coba pasangkan pada Arsyi" Kakek meminta kepada Haidar. Haidar pun memakaikan kalung itu ke leher Arsyi. Meskipun berhijab, tapi karena kalung itu lumayan panjang, mudah saja memasangkannya.
__ADS_1
"Sempurna..." Ucap kakek.
"Ini, sebuah gelang yang juga dibuat spesial. pakaikan juga" Ucap kakek lagi. Haidar hanya menurut.
"Maaf kek, apa tidak berlebihan untuk Arsyi. Ini adalah barang istimewa dari mama kak Haidar" Arsyi mengatakan dengan pelan.
"Tidak... Itu semua sudah haknya Haidar. Semua itu juga akan menjadi milikmu. Kakek tahu, kamupun akan mampu untuk membeli semua ini. Tapi terimalah sebagai rasa syukur kakek yang akan memiliki cucu sepertimu" Jawab kakek.
"Dan kalian, harus sehera menikah. Kakek tidak ingin Haidar menjadi bujang lapuk" Kakek berkata menggoda cucunya.
"Kek,bukan bujang lapuk, cuma masih menunggu yang tepat, tapi meskipun begitu aku masih sangat tampan kek" Jawab Haidar dengan penuh percaya diri.
"Hanya Arsyi yang mau sama kamu, itupun mungkin karena kamu paksa kan? " Kakek tetap menggoda cucunya. Arsyi hanya tersenyum menanggapi 2 lelaki beda generasi itu.
"Sayang... Jangan dengerin kakek ya. Biasa kakek sudah lama menjomblo" Ucap Haidar dengan santainya. Terlihat tatapan kakek menajam ke arahnya. Setelahnya mereka saling diam. 1 detik... 2 detik... 3 Detik.
"Hahahaha..." Cucu dan kakek tersebut tertawa bersama. Arsyi yang mengira kakeknya akan marah karena dikatai menjomblo hanya bisa diam. Dan akhirnya bernafas lega karena mereka hanya bercanda.
"Sudah sudah... Kakek kalau tertawa sama Haidar pasti tidak akan ada habisnya. Haidar, kamu simpan ini" Kakek memberikan kotak perhiasan itu.
"Kakek mau istirahat dulu lelah duduk terus" Ucap kakek. Haidar yang mendengar kakeknya ingin beristirahat regera bangkit dari tempat tidur lalu mendorong kursi roda kakek.
"Sayang, tolong bawakan kotak itu ya, ayuk ikut aku nganterin kakek ke kamarnya" Ucap Haidar mengajak Arsyi. Arsyi mengangguk dan berdiri meraih kotak tersebut. Mereka pun berjalan ke kamar bersama.
Sesampainya dikamar, Arsyi melihat sesuatu yang sangat berbeda. Kamar kakek sangat luas, terdapat jendela yang langsung bisa menatap ke arah luar. Ada taman kecil di depannya. Kolam ikan. Bukan ikan mahal, hanya ikan ******.
__ADS_1
"Kamar kakek sengaja aku buat senyaman mungkin sayang, biar kakek tidak jenuh. Dan ikan ****** ini, adalah ikan kesukaan kakek. Sudah sangat lama sampai beranak pinak menjadi sangat banyak" Ucap Haidar menjelaskan.
"Iya, Arsyi paham" Arsyi memandang ke arah dimana kolam itu berada. Tampaklah ikan-ikan tersebut berenang dan berkejaran satu sama lain. Bentuknya yang sangat indah membuat pemandangan menjadi lebih hidup. Arsyipun langsung sangat menyukainya. Iya kembali menatap ke arah Haidar, terlihatlah calon suaminya itu sedang mengangkat kakek dan menidurkan diatas tempat tidur. Arsyi pun tersenyum.