
Di dalam perjalanan menuju rumah Utama, Haidar hanya diam sambil memandang keluar jendela mobil. Memperhatikan lalu lalang kendaraan yang melintas. Tak sepatah katapun terucap. Di dalam hatinya, dia merasa sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Arsyida. Dan dia merasa mobil bergerak sangat lambat.
"Kamu bisa lebih cepat lagi. Kenapa berhenti? " Tanya Haidar kepada sopirnya.
"Ini tuan, didepan macet sekali, sepertinya ada kecelakaan" Jawab sang sopir. Akhirnya Haidar pun terdiam.
"Aku turun dulu mau lihat apa yang terjadi" Ucap Haidar.
"Tapi tuan, ini cuaca sangat panas. Lebih baik tuan Haidar menunggu saja disini" Jawab sang sopir.
"Tak mengapa. Kamu tunggu sampai macetnya selesai. Aku juga mau nyari minum" Haidar berkata namun tangannya sudah bergerak membuka pintu mobil. Akhirnya iya melangkah berjalan maju menuju kerumunan didepan sana. Saat sudah semakin dekat, terlihat seorang gadis sedang membantu seorang anak laki-laki yang menggunakan pakaian seragam SMP. Terlihat gadis itu membantu mengobati luka anak yang tertabrak. Entah apa yang menabraknya, yang pasti anak SMP itu bersimbah darah dibagian kepalanya. Sambil berteriak meminta bantuan untuk segera memanggilkan ambulans. Terlihat juga sebuah sepeda motor terparkir di belakangnya. Haidar segera menerobos kerumunan dan melihat lebih dekat. Dan ternyata gadis itu adalah Nada.
"Tolong.. Siapapun panggilkan ambulans. Kasihan dia" Teriak Nada. Dan terlihat seseorang menghubungi Ambulans.
"Dek... Bertahanlah. Aku akan membalut lukamu dulu sebelum ambulans datang" Ucap Nada dengan cekatan menyemprotkan alkohol ke luka lelaki SMP tadi. Tak memperdulikan baju seragam putih abu-abunya sendiri terkena darah anak itu. Tak menunggu lama, Haidar pun mendekati Nada.
"Nada... Apa yang terjadi? " Tanya Haidar. Sontak suara bariton Haidar membuat Nada mendongakkan kepala.
"Tuan Haidar. Ini... anak ini ketabrak mobil. Dan mobilnya kabur. Tadi kejadiannya pas banget di depanku" Jawab Nada dengan tangan yang sibuk membalut luka anak tadi.
"Ambulans datang... Ambulans datang" Teriak seseorang. Dan semua yang disana minggir memberi jalan untuk ambulans.
"Dek bertahanlah..." Nada segera bangkit saat beberapa petugas kesehatan datang. Iya segera memberi jalan untuk para petugas nakes. Dengan segera tubuh anak kecil itu dibawa masuk ke dalam ambulans.
"Kamu ikutlah dengan kami" Ucap seorang petugas. Nada pun segera mengangguk. Iya segera berlari ke arah sepeda motornya. Dengan cepat melajukan sepeda motornya mengikuti ambulans.
"Nada..." Suara panggilan Haidar tak iya hiraukan. Iya terus memutar gas sepeda motor. Haidar pun segera kembali ke mobilnya.
__ADS_1
"Cepatlah... Macetnya sudah agak renggang, kita ke rumah sakit harapan mulya" Haidar berkata dengan nafas ngos-ngosan. Iya tadi sempat membaca dari rumah sakit mana ambulans tadi. Jadi tidak akan sulit untuk mencari. Tanpa menjawab, sopir Haidar segera melajukan kendaraanya. Perlahan, padat merayap kendaraan dijalanan siang itu. Dibawah terik sang mentari, terlihat satu persatu orang-orang yang tadi berkerumun membubarkan diri. Dan jalanan kembali renggang. Di dalam mobil, Haidar menghubungi Arsyi, mengabari jika dirinya akan terlambat. Dan memberitahu pula jika dirinya sedang ada di perjalanan menuju rumah sakit mengikuti Nada.
"Arsyi, aku ini sedang dalam perjalanan ke rumah sakit harapan mulya, nanti kamu biar dijemput sama sopirku ya. Aku lagi nyusul Nada ke sana" Ucap Haidar.
"Nada... ? Nada nya Arsyad ya? " Tanya Arsyi.
"Iya. Jangan minta cerita sekarang. Nanti saja kalau sudah di ketemu" Ucap Haidar. Akhirnya Arsyi mengiyakan.
"Aku kesana pakai sopir sini aja kak. Biar cepet" Arsyida berkata.
"Ya sudah Hati-hati ya. Maaf ya sayang" Haidar berkata dengan pelan.
"Iya ngga apa-apa" Arsyi segera mematikan panggilan itu. Setelah mengambil tasnya, iya segera mencari keberadaan orang tuanya.
"Mah... Pah..." Panggil Arsyida saat iya melihat kedua orang tuanya berada din sofa ruang keluarga. Mereka tengah melihat sinetron.
"Ini mah... Kak Haidar nyuruh aku ke tempatnya. Boleh ya? " Tanya Arsyida.
"Oh... Iya. Tapi hati-hati. Harus bisa jaga diri ya" Hana berpesan. Arsyi tidak mengatakan yang sebenarnya karena iya belum tahu apa yang terjadi. Iya berniat akan menceritakan nanti saat pulang.
"Iya mah, pah. Arsyi berangkat dulu" Gadis itu menyalami kedua orang tuanya. Setelah itu iya mencari keberadaan sopir. Begitu sudah ketemu, iya segera mengajak berangkat.
"Ke rumah sakit harapan mulya ya pak" Ucap Arsyi.
"Baik non" jawab sang sopir. Lalu melajukan mobil ke tempat yang dikatakan oleh nona mudanya itu. Mobil melesat menembus jalanan yang padat.
Sesampainya di rumah sakit, terilihat Haudar yang sedang duduk di kurain tunggu di depan UGD. Entah apa yang terjadi. Arsyi segera menghampiri.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum" Ucap Arsyi saat sudah mendekat ke arah Haidar.
"Wa'alaikumsalam wr wb. Arsyi, kamu sudah datang" Ucap Haidar. Arsyi pun segera duduk disamping Haidar.
"Apa yang terjadi kak. Nada dimana sekarang? " Arsyi terlihat tidak sabar. Iya menoleh memperhatikan kanan dan kiri mencari sosok Nada.
"Kakak juga belum tau. Nada belum cerita. Kita aja juga baru nyampai" Jawab Haidar.
"Sekarang Nada nya dimana kak? " Arsyi mulai bertanya-tanya.
"Nyari minum" Jawab Haidar. Namun tiba-tiba sebuah suara membuat mereka menoleh.
"Nona Arsyida" Ucap Nada. Melihat Nada yang bajunya bersimbah darah, Arsyi terkejut.
"Nada... Apa yang terjadi. Kenapa kamu sudah berkeliaran? " Tanya Arsyi. Sedangkan Haidar dan Nada hanya mampu mengerutkan kening.
"Nona... Bukan saya yang sakit, tapi orang lain" Nada tersenyum sambil menjawab.
"Alhamdulillah... Nad, aku kira kamu yang sakit. Makanya aku buru-buru kesini" Arsyi berkata dengan jujur. Iya pun menatap ke arah Haidar meminta penjelasan. Dan Haidar pun balik menatap Nada.
"Nada... Kamu jelaskan ya kenapa bisa semuanya terjadi" Ucap Haidar. Akhirnya Nada pun menceritakan semuanya.
Flashback On.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Nada dengan cepat menuju ke parkiran lalu melajukan sepeda motornya. Menyusuri panasnya kota, iya berhenti membeli bensin disebuah kios kecil. Sembari membeli 1 botol minuman. Setelahnya iya melajukan kembali motornya. Tepat di tengah jalan, lampu berubah menjadi merah. Nada berhenti dipaling depan. Terlihat seorang anak SMP menyebrang. Namun nasib baik tak berpihak kepadanya. Sebuah mobil melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Menerobos lampu lalu lintas yang sedang dalam isyarat berhenti. Alhasil anak yang menyebrang tadi tertabrak. Kepalanya membentur trotoar. Dan mobil itu tak berhenti sama sekali.
"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un" Nada berteriak. Sambil menurunkan standar sepeda motor, iya langsung berlari menghampiri anak yang tergelatak tak jauh darinya. Tidak pingsan, anak tersebut memegangi kepalanya yang berdarah. Dengan cepat Nada membuka tasnya, mengambil kotak P3K. Sambil berteriak meminta tolong supaya ada yang memanggilkan ambulans. Nada memberikan botol air minum yang masih utuh kepada anak itu. Dibantu seorang wanita paruh baya Yang membukakan segel tutup botol itu.
__ADS_1
Flasback Off.