Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Hukuman


__ADS_3

Di tengah sepinya masjid yang berada di tengah pondok pesantren tersebut, Nada sedang duduk termenung sendiri di sebuah pojokan. Entah apa yang sedang dipintanya kepada sang pencipta. Tiada suara dan tiada isak tangis yang terdengar. hanya sunyi yang berada di antara hiruk pikuknya para santri yang berada di pesantren tersebut. belum ada seorangpun yang memasuki masjid besar itu kecuali nada dan seorang lelaki dewasa berwajah tampan yang sejak tadi mengikuti nada. tak bermaksud buruk kepada gadis Remaja tersebut, lelaki tampan tersebut hanya duduk di balik tembok yang menjadi penghalang.


"😊" Sebuah senyuman tersungging dari bibir manis Nada. Dan hati yang berada di balik tembok tersebut merasa bergetar. seakan senyuman tersebut ditujukan kepadanya. Padahal Nada tersenyum sambil memejamkan mata. Dan entah apa yang sedang bergelayut di dalam pikirannya.


"Aku akan menjagamu" gumam lelaki dibalik tembok dengan lirih seakan hanya dia sendiri yang mampu mendengarnya.


" Ibu... Ayah... Nada sudah bukan anak kecil lagi. Semua persoalan insya Allah bisa Nada selesaikan dengan baik. Tapi... untuk kali ini Kenapa terasa begitu berat. Semoga aku bisa sekuat kalian" gumam Nada sangat Lirih.


"Aku..." Ucapan Nada terputus ketika air matanya mulai menetes. Iya tak menyadari jika seseorang di sebelah sana masih terus memperhatikannya. Siapa dia jika bukan Arsyad. Lelaki yang sudah memuja Nada saat pertama kali bertemu. Melihat air mata Nada, Arsyad segera melangkahkan kaki mendekat. Namun iya tak berani menyapa atau apapun. Iya hanya diam mematung dibelakang Nada beberapa saat. Hingga suara ribut-ribut dari belakang terdengar oleh keduanya.


"Nada... Arsyad... Kalian..." Ucapan Abah Ayub membuat keduanya kebingungan.

__ADS_1


"Abah... Abah, Nada ngga tahu kalau mas Arsyad ada disini. Sungguh Nada ngga tahu abah. Kita ngga ngapa-ngapain" Nada sudah mulai panik. Iya masih ingat dengan peraturan pondok ini bagaimana. Bagi siapapun yang bukan muhrim berduaan, maka hukumannya adalah menikahkan mereka berdua.


"Nada... Abah tahu kehidupanmu di kota, tapi disini, di pesantren ini kita memiliki aturan. Malam ini juga, kalian abah nikahkan" Langkah kaki abah perlahan mundur setelah mengucapkan hal tersebut. Sebuah perkataan yang mampu membuat Nada tertunduk lesu. Iya sudah tak mampu berkata apa-apa lagi. Apa yang dikatakan oleh abah karena melanggar peraturan, adalah sebuah perintah.


Sedangkan Arsyad masih mematung dengan apa yang iya dengar, entah kebahagiaan atau bukan yang iya rasakan saat ini. Iya perlahan berjalan mendekati Nada.


"Jangan mendekat, pergilah" Ucap Nada ketus tanpa memandang ke arah Arsyad.


"Tapi hukuman itu..." Ucap Arsyad yang tiba-tiba terpotong oleh gadis cantik di depannya.


"Kita jelaskan nanti saja. Aku ingin sendiri" Nada masih duduk di tempatnya dengan lemas. Sedangkan Arsyad berbalik arah lalu berlari mengejar abah Ayub dan beberapa orang yang di belakangnya.

__ADS_1


Namun, saat akan mendekat ke arah abah ayub, Arsyad memandang sebuah pemandangan yang tak kalah mengejutkan.


"Arsyi" Gumamnya lalu dengan cepat mendekat.


"Kalian, bersiaplah... Setelah acara akad nikah Zidan, kalian juga akan abah nikahkan" Begitu ucapan yang keluar dari bibir pemilik pesantren tersebut.


"Tidak ada kata untuk mengelak, apapun alasan kalian" Abah Ayub lalu berjalan untuk masuk ke dalam rumahnya. Dan tak berselang lama, Daffa dan Hana mengikuti dari belakang.


"Kyai... Mohon maaf, saya..." Ucapan Daffa dengan cepat terhenti saat melihat abah Ayub mengangkat tangannya, akhirnya Daffa mengikuti abah Ayub masuk kerumah. namun sebelumnya iya berbisik kepada istrinya.


"Sayang, ajak mereka masuk ke rumah tamu, setelah itu kamu panggil Nada di masjid ya. Saya akan mencoba berbicara dengan abah Ayub" Ucap Daffa dan dijawab anggukan oleh Hana. Iyapun segera masuk menyusul abah Ayub.

__ADS_1


__ADS_2