
Pandangan Arsyad tertuju tajam pada sebuah foto yang sedang dipegang oleh Haidar. Iya berusaha mengingat-ingat siapa wanita yang berada di dalam foto tersebut. Beberapa saat kemudian, ingatan Arsyad kembali pada beberapa masa silam. Iya teringat pada sebuah kejadian, di mana semua keluarganya diikat untuk berpura-pura telah ditaklukkan oleh lawan. ingatan Itu semakin kembali dalam pikirannya ketika ia melihat seseorang menampar papanya.
"Apa dia Alisa yang dulu pernah berbuat tidak baik kepada keluargaku? " gumam Arsyad di dalam hatinya dan berusaha mengingat-ingat Siapa wanita yang ada di foto tersebut.
" kalau bener, Terus apa hubungannya dengan kakek Wira. kakek juga tidak mengenal dia dengan baik. apa ini semua ada hubungannya dengan tante Bella dan Om Yudha?" Arsyad masih bertanya-tanya di dalam hatinya.
" Arsyad... Arsyad kamu nggak apa-apa? " sedangkan Haidar berusaha membuyarkan lamunan Arsyad yang sudah sejak tadi memikirkan kejadian masa lalu.
__ADS_1
" Kak, papa... kita harus tanya sama papa Masalah ini. kemungkinan besar Papa bisa membantu dengan petunjuk foto yang telah orang itu berikan. kita ke tempat Papa sekarang! " haidad merasakan bingung dengan apa yang dikatakan oleh adiknya.
" Kakek kita ke tempat Papa dulu ya. Arsyad Mau memastikan bahwa Papa mengenal orang ini" setelah mendapat anggukan jadi kakek Wira, Arsyad dan Haidar segera keluar kamar yang ditempati kakeknya. Setibanya di luar, Haidar memberi pesan kepada seorang penjaga.
" kecuali dokter dan suster yang benar-benar bekerja dan aku tunjuk kemarin, jangan ada yang boleh masuk ke ruangan kakek. Aku mau keluar sebentar jaga kakek baik-baik" ucap Haidar kepada seseorang yang bertugas menjaga ruangan kakek. Mereka pun mengangguk hormat kepada Haidar dan Arsyad. setelahnya, kedua pemuda tampan itu pun berjalan dengan cepat menuju ke arah parkiran mobil.
" Kamu yakin papa kenal sama perempuan ini? " pertanyaan Haidar sontak membuat Arsyad menoleh kepadanya.
__ADS_1
Pov Nada
Di rumah yang biasanya sepi, sekarang ada beberapa orang yang menemani Nada. siang ini, Abah Ayub dan Umi Nafi sedang duduk di sofa ruang tamu rumah Nada. Mereka menunggu Nada pulang sekolah.
" Sebenarnya... Umi ingin mengajak Nada untuk kembali ke Ponorogo. tapi sepertinya dia baik-baik saja di sini" sambil duduk di samping Abah, Umi mengutarakan maksudnya.
" Sepertinya Nada sudah punya kehidupan yang lebih baik di sini umi. Tapi kalau nggak ingin mencoba, jadi Coba saja" Abah Ayub memberikan masukan.
__ADS_1
" Apa sebaiknya kita pikirkan kembali akan menjadi niat Umi saat ini bah. Nada bentar lagi juga lulus sekolah. kasihan kalau harus mengurus surat pindah. Dan sekarang juga tidak mudah" Umi Nafi berpikir jika apa yang ia inginkan kemungkinan tidak akan membuat Nada setuju. Jadi mereka berdua memutuskan untuk mengurungkan niat mengajak Nada kembali ke kota Reog.
" Istri abah ini memang benar-benar luar biasa. Tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada siapapun" ucap Abah ayub sambil mengusap kepala istrinya. Dan hal tersebut membuat Umi terasa panas di pipinya. Dia tersenyum sambil memandang suaminya yang saat ini sudah tidak muda lagi namun masih tetap perhatian. bahkan lebih dari dulu.