
"Maaf, kalau tidak salah ini bu Hana ya" Nada takut salah. Iya bertanya dengan pelan saat menyalimi Hana.
"Benar sekali Nada" Ucap Hana sambil mengelus pucuk kepala berhijab Nada dengan lembut.
"Kalian sedang belajar? " Tanya Daffa ramah.
"Iya om. Om ini bukanya tuan Utama kan yan " Ucap Reno.
"Kamu kenal sama om ini Ren? " Tanya salah satu teman disampingnya. Reno mengangguk.
"Tuan Utama ini rekan bisnisnya daddy aku" Ucap Reno. Iya merupakan salah satu anak dari konglomerat, rekan bisnis Daffa.
"Daddy mu siapa anak muda? " Tanya Daffa.
"Henry Atmaja tuan" Jawab Reno. Sepertinya Reno memang sudah terlatih untuk bersosial. Iya merasa tidak takut berhadapan dengan orang-orang penting seperti tuan Utama. Namun iya tetap sopan dalam bertindak.
"Ternyata kamu tan muda Atmaja? " Tanya Daffa.
"Ya begitulah tuan" Reno menjawab dengan tersenyum. Daffa menepuk bahu Reno sebagai perkenalannya.
"Mari bapak, ibuk silahkan duduk" Tutur Nada menunjuk sofa. Teman-teman Nada berbisik. Mereka segera pamit undur diri karena mereka sudah selesai belajarnya.
"Sa, kita pulang dulu ya, nanti kalau ada yang ngga paham lagi, kita ngandelin kamu" Ucap Reno.
"Om, tante... Mari" Ucap anak-anak itu berpamitan.
"makasih ya Sa" Ucap salah satu temannya lagi.
"Sama-sama" Balas Nada. Setelah teman-temanya pergi meninggalkan rumah. Nada masuk kembali menemui Hana dan Daffa.
"Mohon maaf bu, pak" Nada tersenyum sambil menunduk.
"Sebentar, saya bereskan ini dulu ya pak, buk" Ucap Nada membereskan alat untuk belajar tadi. Iya mematikan laptop dan projector. Setelah beres semua. Nada membawanya ke belakang. Sekalian iya membuatkan minuman untuk Hana dan Daffa. Tak lama kemudian Nada kembali dengan nampan di tangannya. Berisi minuman dan beberapa kue basah dan kering. Iya meletakkan semuanya di meja ruang tamu.
"Silahkan bu Hana, pak Daffa. Mohon maaf hanya ada ini" Tutur Nada sopan.
"Kamu tidak perlu repot-repot Nada. Kita tadi cuma mampir" Jawab Nada.
__ADS_1
"tidak apa-apa buk. Memuliakan tamu bukanlah hal yang buruk, malah diwajibkan" Balas Nada dengan tersenyum.
"Sudah, jangan diturunkan semuanya. Kamu disini saja" Ucap Hana lagi. Akhirnya Nada duduk di salah satu sofa didepan Hana dan Daffa.
"Maaf, apa benar bapak sama ibu hanya mampir? " Tanya Nada ragu-ragu.
"Iya, tadi istri saya mengajak untuk mampir ketempat anak yang sudah membantunya" Ucap Daffa.
"Padahal saya sudah sedikit lupa dengan bu Hana" Nada tersenyum sambil menunduk.
"Memang, yang suka menolong dengan tulus itu biasanya akan dengan mudah melupakan. Tapi yang ditolong tidak mungkin lupa kan? " Sahut Hana.
"Ibuk bisa saja" Nada merasa tersipu dengan apa yang diucapkan Nada.
"Mari buk, pak... Dicicipi dulu ini. Dan minumannya di minum" Ucap Nada mengalihkan pembicaraannya. Hana memandang kagum terhadap Nada. Wajah ayu dan senyum manis menambah kesan cantik yang natural. Hana tersenyum. Nada yang tahu itupun menundukkan kepalanya.
"Kamu cantik banget sih" Hana mencubit pipi chuby Nada. Selanjutnya iya mengambil minuman di depannya. Segelas jus jeruk. Daffa yang melihat istrinya memandang gadis didepannya dengan penuh kekaguman menjadi heran. Baru kali ini ada seorang gadis yang menarik perhatian Hana.
"Kuenya enak... Kamu buat sendiri Nad? " Tanya Hana sambil menggigit kue basah ditangannya.
"Ngga buk, Itu beli. Saya ngga bisa buat kue" Jawab Nada.
"Ngga bisa juga" Daffa yang mendengarpun tersenyum geli.
"Oh iya, kata istri saya, kamu tinggal sendiri ya" Daffa bertanya, saat itu pula Nada mengangguk dan menjawab.
"Benar pak. Orang tua saya sudah meninggal. Alhamdulillah saya masih bisa bertahan hidup, walaupun sendiri" Jawab Nada.
"Saya turut berduka atas kepergian orang tua kamu. Tapi saya akui. Kamu adalah anak yang kuat" Ucap Daffa.
"Lalu untuk biaya keseharian sama biasa sekolah kamu bagaimana nak? " Hana bertanya dengan kepedulian di hatinya.
"Mau jawab apa yaa... Ngga mungkin aku bilang kalau kerja jadi peretas" Batin Anna. Iya tak ingin identitasnya diketahui banyak orang.
"Emmm... Anu bu Hana, orang tua saya alhamdulillah meninggalkan tabungan. Jadi saya gunakan untuk keperluan sehari-hari. Sedangkan sekolah, saya tidak membayar sama sekali. Mana mampu saya pak untuk membayar sekolah semahal itu. Saya dapat besiswa. Bapak tahu kan tadi teman saya. Mereka semua anak-anak orang berada" Nada berkata dengan jujur. Tak ada yang di tutupi tentang keadaan dirinya.
"Dan untuk keperluan seperti pembelian buku, saya mengandalkan hadiah dari lomba-lomba yang diadakan sekolah atau dari luar sekolah" Nada menambahkan.
__ADS_1
"Masya Allah.. Kamu benar-benar luar biasa nak" Sahut Hana.
"Tidak sehebat itu bu, tapi saya selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik" Jawab Nada.
"Mari bu, pak. Kuenya dimakan lagi" Nada mempersilahkan. Hana dan Daffa mengangguk dan mengambil satu potong kue lagi.
"Sepertinya kamu bukan asli orang sini ya Da? " Tebak Daffa tentang asal usul Nada.
"Benar sekali pak. Saya bukan asli orang sini. Tapi saya asli jawa. Jawa Timur. Tepatnya di kota Reog, Ponorogo" Jawab Nada.
"Benarkah? " Tanya Hana, Nada pun mengangguk.
"Ponorogo itu jauhkah dari Surabaya? " Tanya Hana lagi.
"Lumayan buk, sekitar 4 jam lagi. Ponorogo adalah sebuah kota kecil di ujung kulon provinsi Jawa Timur. Tepatnya dekat dengan Wonogiri.
"Yang ada pondok pesantren Gontor Darussalam kan? " Tanya Hana lagi.
"Benar sekali bu" Hana membenarkan ucapan wanita paruh baya di depannya itu.
"Terlahir di kota santri, dan sekarang hidup di ibukota, kamu memang benar-benar beruntung Nad" Tutur Hana.
"Apa kamu juga lulusan pesantren? " Tanya Daffa.
"Alhamdulillah pak, dari kecil saya hidup dipesantren, karena ibu dan bapak tinggal di pondok sebagai abdi ndalem. Namun saat saya lahir, Allah lebih sayang kepada ibu. Beliau dipanggil oleh Allah untuk menghadap-Nya. Setelah lulus MI, saya dibawa kesini sama bapak. Namun, Baru saya menginjak usia MTS, bapak menyusul ibu karena kecelakaan. Bapak meninggalkan semua ini" Nada berkata sambil menunduk, air matanya menetes ketika bercerita. Hana langsung berdiri dan memeluk Nada.
"Nada, kamu akan menjadi penolong untuk orang tuamu kelak Nak. Jadilah anak yang baik. Yang selalu mendo'akan kepada orang tua" Hana mengerti apa yang dirasakan Nada. Dulu dirinya pernah berada di posisi itu.
"Terimakasih bu" Nada dengan cepat mengusap air matanya. Lalu menatap Hana yang sedang memegang kedua bahunya. Iya tersenyum. Daffa tersenyum. Iya tahu rasanya kehilangan.
Jatuh bangun dalam perjalan hidup bukanlah suatu hal yang tak biasa.
Disana, kita diajarkan untuk menjadi kuat, menjadi seseorang yang selalu berdiri diantara kedua kakinya sendiri.
Ketika luka dihatimu membuatmu terpuruk,
Basuhlah dengan do'a-do'a.
__ADS_1
Agar hatimu tidak gersang, agar jiwamu tidak retak.
dan akhirnya, kamu akan tumbuh menjadi jiwa yang tangguh.