
"Assalamu'alaikum" Ucap Hana dan Arsyad bersamaan. Dan di dalam semua juga menjawab.
"Wa'alaikumsalam" Mereka bertiga serentak. Dan tiba-tiba masuk satu orang laki-laki lagi di belakang Hana dan Arsyad yang tak dikenali Haidar, arsida dan kakek Wira. Namun mereka tidak asing dengan laki-laki itu. laki-laki itu terlihat menunduk sambil berjalan.
"Mama... Arsyad" Haidar pun segera bangkit dari duduknya. Disusul Arsyi dari belakangnya.
"Mama kok kesini lagi? " Haidar bertanya karena tahu jika mamanya juga lelah.
"Tadi Arsyad nelpon biar bantuin kak" Jawab Arsyad. Lalu keduanya mendekati kakek Wira.
"Tuan... Bagaimana keadaan tuan sekarang? " Tanya Hana.
"Alhamdulillah, Saya masih diberi kesempatan untuk bernafas kembali" Jawab sang kakek.
"Kakek pasti akan sembuh seperti semula" Arsyad pun ikut berkata.
__ADS_1
"Aamiin... senoga saja tuan muda" Kakek menatap keluarga Daffa dengan penuh haru.
"Ma... Kenapa kesini lagi. Harusnya istirahat" Hana tersenyum mendengar ucapan Putra sulungnya.
"Kakek, boleh kita ajak kak Haidar dulu sebentar?" Arsyad bertanya.
" Boleh... ajaklah kakakmu keluar" kakek Wira menjawab dengan penuh kelembutan. akhirnya, Arsyad pun menarik lengan Haidar dan segera keluar dari ruangan kakek. Iya tidak ingin jika sang kakek mendengar apa yang ingin dia katakan. Arsyad tidak ingin kakek memikirkan semua permasalahan yang saat ini sedang dihadapinya.
Setibanya di luar ruangan, Haidar pun merasakan jika Adik angkatnya itu ingin mengatakan hal yang begitu penting.
" ini, pemilik ponsel yang tertukar sama Arsyad. Tapi Kakak jangan emosi dulu, kita ke ruangan" Arsyad dengan cepat mengajak Haidar untuk mengikutinya ke ruangan.
" Arsyad, Maksudnya bagaimana Kakak nggak ngerti" Haidar yang masih belum paham pun kembali bertanya.
" kita duduk dulu kak, silakan Anda juga duduk" Arsyad menunjuk sofa kosong yang berada di dalam ruangan itu.
__ADS_1
" Kakak tenang dulu ya, jangan sampai semua ini gagal karena emosi kita" sebelum mengatakan apa-apa Arsyad sudah memberitahukan.
" Iya Kakak nggak akan marah" Haidar mengangguk sambil menatap ke Arsyad dan seorang laki-laki yang tidak dikenalinya dan saat ini duduk di depannya.
" ini pemilik ponsel Yang Tertukar semalam dengan ponsel Arsyad. Dan Dia juga orang yang sudah melakukan penyuntikan terhadap kakek" Arsyad berkata dengan pelan sambil memperhatikan ekspresi Haidar. Arsya takut jika Haidar akan terbawa emosi lalu orang tersebut akan dihajarnya habis-habisan. dan ternyata benar, Arsyad melihat Kakak angkatnya itu merasa geram. Iya menyentuh lengan Haidar lalu mengangguk Dan Tersenyum.
" cepat katakan semuanya, sebelum aku benar-benar kehabisan kesabaranku! " Haidar mengatakan dengan nada dingin. Iya terus menahan diri agar tidak menghajar orang di depannya tersebut.
" anu tuan... saya... saya hanya disuruh dan saya tidak tahu apa motif orang tersebut menyuruh saya. Saya hanya sedang kekurangan uang dan mencari pekerjaan sangat sulit. jadi saya terima saja" jawab orang tersebut dengan suara terbata-bata.
" Siapa orangnya? " Haidar terus bertanya dengan suara yang begitu menakutkan.
" maaf tuan..." jawab orang tersebut terus menunduk.
" katakan dan aku akan menjamin kamu dan keluargamu tetap aman, tapi kalau kamu tidak mau, maka kamu pun akan merasakan semuanya, termasuk keluargamu juga akan menanggung akibat dari apa yang telah kamu lakukan" sekali berbicara orang tersebut langsung mendongak dan menatap Haidar dengan penuh rasa heran serta ketakutan. Akhirnya dengan penuh ketakutan, orang tersebut mneyerahkan sebuah amplop putih kepada Haidar.
__ADS_1
" Ii...ini tuan..." Ucap orang tersebut menyerahkan amplop dengan tangan gemetar dan suara bergetar.