
"Maaf" Ucap Arsyad sambil memajukan tangannya kearah bibir Nada. Dengan cepat Arsyad mengambil satu butir nasi yang masih tertinggal di sudut bibir Nada sebelum Nada menampik tangan Arsyad. nada terdiam dengan apa yang dilakukan Arsyad iterhadapnya. ia mengusap bekas tangan Arsyad di sudut bibirnya.
"Kenapa nggak bilang aja sih mas, kan Nada bisa ambil sendiri? " Nada terlihat memanjangkan bibirnya dengan perlakuan Arsyad yang begitu manis. Namun hal itu malah membuat Arsyad tersenyum dan memandang ke arah Nada.
"Nada, kamu pikirkan dulu ya yang tadi aku bilang" Sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, Arsyad berkata kepada Nada.
"Mas tidak bisakah menunggu lebih lama lagi. Tahu kan kalau aku masih sekolah. Ini saja baru masuk semester 2. Bagaimana mungkin aku bisa menikah?" Nada pun dengan pelan mengungkapkan apa yang iya pikirkan.
"Jangan khawatir untuk masalah itu, kamu bersekolah di tempat yang tepat. Tidak akan ada yang bisa mengeluarkan kamu meskipun kamu sudah menikah denganku" Arsyad berkata dengan pelan namun meyakinkan Nada.
"Beri aku waktu. Biar aku bisa meyakinkan diri. dan Mas Arsyad juga harus meluangkan waktu untuk meyakinkan aku. Ini adalah sebuah komitmen besar, aku tidak mungkin mengambil keputusan tanpa meminta petunjuk" Jawab Nada. Mendengar hal itu Arsyad pun tersenyum. Iya merasa Nada tidak menolak ajakan nya untuk menikah.
"Sudah selesai? Ayo mas antar kamu pulang" Setelah mereka makan siang Arsyad pun membayar tagihannya lalu pergi mengantarkan Nada.
"Aku menunggu kabar baik darimu. Tolong jangan membuat hatiku patah. Aku akan membuktikan jika aku bersungguh-sungguh dengan apa yang aku katakan" Arsyad berpesan kepada nada sebelum ia turun dari mobil. Iya sendiri pun langsung turun dan menuju ke pintu samping untuk membukakan pintu Nada. Terlihat seseorang telah menunggu mereka.
"Tuan muda..." Sapa sopir Arsyad yang sudah menunggu sejak tadi di rumah nada.
"Hati-hati di rumah sendiri. Jaga diri baik-baik. Jika ada apa-apa segera kabari aku ya" Sebelum pergi Arsyad berkata kepada Nada. Iya Pun segera masuk ke dalam mobil. Dan sopir yang sejak tadi menunggunya telah siap untuk mengemudikan mobil itu. Di dalam mobil, Arsya terlihat sibuk dengan ponselnya. Tak lama berselang suara panggilan telepon terdengar.
"Tambahkan beberapa orang untuk menjaga Nada. Aku tidak ingin Gadisku kenapa-napa" ucap Arsyad di saat panggilan teleponnya telah tersambung. Dan tanpa menunggu jawaban apapun, iya mematikan sepihak panggilan tersebut.
"Maaf tuan muda kita mau ke mana? " Tanya seseorang di balik kursi kemudi.
__ADS_1
"Kita ke kantor" Arsyad menjawab tanpa menoleh sedikitpun.
"Kamu sudah makan?" Tanpa lupa kepada seseorang yang di depannya, Arsyad menanyakan hal itu.
"Belum tuan muda" jawab Pak sopir dengan pelan.
"Kalau begitu setelah aku tiba di kantor turunkan aku di lobby kamu pergilah cari makan" Arsyad menyuruh kepada sopirnya. Dan sopirnya itu pun mengangguk. Tiba-tiba ponsel Arsyad pun berdering. Panggilan dari Daffa.
"Iya Pa Assalamualaikum" Jawab Arsyad.
"Kamu di mana, ini sebentar lagi meeting mau dimulai" ucap Dafa dari seberang telepon.
"Ini sebentar lagi Arsyad sampai kok pah, tadi lagi keluar sebentar" Arsyad pun menjawab.
"Oke cepat jangan lama-lama. Kasihan client kita kalau mau nunggu kelamaan. Kita juga nggak enakan sama mereka" Daffa pun berkata setelah itu ia mematikan sambungan teleponnya.
~Nada~
"Apa sih sebenarnya maunya Mas Arsyad itu. Kenapa tiba-tiba dia minta aku nikah sama dia. Dia juga tahu kalau aku masih sekolah. Kalau kayak gini mana bisa aku lanjutin sekolah aku" Nada bergumam sambil meletakkan tas sekolahnya di atas meja belajar. Iya segera menuju ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di sana. Sambil menatap langit-langit kamar, Nada menghembuskan nafas panjang.
"Ayah ibu... Apa yang harus dilakukan. Nada bingung dengan semua ini ini" ucap Nada dalam hati. Iya bimbang dengan segala hal. Sebenarnya dia belum ingin menikah. Namun di sisi lain ia tak ingin merasakan sakit hati atas kesedihannya nya yang ditinggalkan oleh Gus Zidan yang lebih memilih ih wanita lain.
"Kata orang, kalau ingin sembuh dari patah hati... harus bertemu dengan orang yang sedang patah hati pula. Apa mungkin Allah nunjukin Kalau Mas Arsyad adalah obat dari patah hati itu? " Nada berpikir entah apa yang menjadi di bebannya saat ini. Tiba-tiba ia mendengar ponselnya pun berdering. Fian dan kawan-kawan menghubunginya.
__ADS_1
"Assalamualaikum Bang... Apa kabar hari ini?" Nada menjawab sebuah video call dari Fian dan teman-temannya.
"Susah amat neng dihubungi beberapa hari ini. sibuk...? " Tanya Fian yang wajahnya memenuhi layar ponsel Nada.
"Enggak ah sibuk apaan?" Nada menjawab sambil tersenyum ke arah teman-teman timnya.
"Ada tugas nih, lumayan sulit... Kita angkat tangan nada. Mungkin saja kamu bisa menyelesaikannya" ucap Hendi di belakang Vian.
"Ada apa Bang? " Nada bertanya kembali. Iya tidak tahu duduk persoalan yang belum bisa diselesaikan oleh timnya.
"Kalau kita berbicara lewat telepon sulit nada, kita harus ketemu... Kamu sibuk?" Tanya Hendra. Nada pun menjawab dengan gelengan kepala.
"Mau ketemu di mana... Jangan di luar terlalu berbahaya" Nada pun mulai serius.
"Gimana kalau di rumah kamu aja. Lebih aman... Atau di kantor. Kita yang ke sana atau kamu yang ke sini?" Fian tiba-tiba menyahut.
"Aku aja lah yang kesana... Tapi bentar lagi ya Aku belum salat Dhuhur. Ini aja baru pulang"? Nada menjawab dengan suara lemah.
"Kamu tunggu di rumah aja lah biar kita yang kesana. Istirahat aja di rumah, tunggu kita. Jangan lupa siapin camilan... hahahahaha" Hendra yang sejak tadi mendengar tertawa. disusul oleh suara tawa oleh Ardi dan Fian.
"Oke Bang aku tunggu ya" Nada pun merasa ada tugas yang harus diselesaikan ia segera mengganti bajunya dan melaksanakan kewajiban. Tak lama setelah Nada selesai melaksanakan kewajibannya, tim kerja telah sampai di rumah. Nada pun mempersilahkan masuk. Namun kali ini ada yang terlihat berbeda, yaitu Tuan Voltus mendatangi rumah nada Tidak seperti biasanya. nada yang terkejut pun hanya terdiam.
" Assalamualaikum..?" ucap Hendra yang masih berada di luar.
__ADS_1
"Tuan Voltus ikut ke sini... Sebenarnya ada apa?" Nada masih bingung karena tak biasanya tuan Voltus mendatangi rumahnya.
"lTadi sudah dijelaskan sama Vian dan Hendra serta Ardi. Kalau kita ada masalah yang belum bisa dipecahkan. Kita menunggu kamu" Tuan Voltus berkata pelan. Akhirnya Nada pun mempersilahkan mereka semua untuk masuk dan duduk di dalam. Sementara mereka masih menunggu, Nada ke belakang untuk membuatkan minuman.