
Di dalam sebuah mobil yang dikemudikan oleh Arsyad, Haidar terdiam. entah apa yang sedang berkelana di dalam pikirannya. Terlihat Arsyad yang sedang mengemudikan mobil dengan fokus tanpa memandang ke arah Haidar.
" kamu yakin, Papa Mengenali wanita yang berada di dalam foto ini? " Haidar masih ragu jika harapannya untuk segera menemukan siapa dalang dibalik semua kejadian ini.
" kita kan sedang berusaha Kak, aku juga sudah mengetahui semua identitas wanita itu dari sistem yang sudah aku retas. kalau memang benar wanita itu adalah Alisa, orang yang dulu pernah mencelakai keluarga kita. maka aku akan membuat perhitungan dengannya. aku tak peduli Jika dia adalah orang yang lebih tua dariku. Jika dia berani mengusir keluarga kita, berarti dia juga harus siap menghadapi konsekuensinya" jawab Arsyad dengan pandangan lurus ke depan.
" Aku hanya ingin memastikan wanita ini benar-benar Alisa yang dulu pernah kita temui" Arsyad masih teguh dalam pendiriannya. Dulu sewaktu keluarga Daffa berpura-pura disekap oleh orang-orang suruhan Alisa, Haidar sedang berada di luar negeri untuk melanjutkan studinya. jadi dia tak begitu memahami siapa Alisa tersebut.
" Oke... Kakak percaya kita akan mampu menyelesaikan semua permasalahan ini" Haidar tersenyum Ia pun memantapkan hati untuk mengetahui siapa sebenarnya wanita tersebut.
Pov Nada
Panas yang kering tak menyurutkan semangat Nada untuk pulang ke rumahnya. Dia mengendarai sepeda motor matic nya dan melaju menembus panasnya Kota Jakarta. Menyusuri aspal dan jalanan berdebu. Tak memakan waktu lama Nada pun telah sampai di depan rumahnya. Terlihat seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Setelah itu iya segera turun dari motornya lalu membuka pintu gerbang. Umi Nafi yang baru keluar pun menyambut Nada dengan sebuah senyuman hangat dan sapaan yang sangat ramah.
__ADS_1
" Assalamualaikum Umi..." nada meraih tangan Umi Nafi dan menciumnya mengucapkan salam.
" Waalaikumsalam Nduk nada" jawaban salam dari Umi Nafi membuat nada merasa Ia memiliki orang tua secara utuh. Sudah lama rumah itu terasa sepi setelah kepergian ayahnya. bahkan dari kecil Ia pun tak bisa menatap ibunya secara langsung. betapa senangnya nada saat ini, sepulang sekolah tanpa harus memasak makanan sudah terhidang. dan rumah telah bersih. dipandangnya seluruh penjuru rumah yang telah ditinggalinya selama ini. Umi Nafi tak mau diam diri. Iya menyediakan makanan untuk nada yang baru pulang sekolah.
" sudah salat? " Umi Nafi bertanya sambil berjalan masuk bersama nada. terlihat Abah yang sedang duduk di atas sofa. nada pun segera menghampiri dan meraih punggung tangan pada Ayub lalu menciumnya pula.
" Assalamualaikum..." Ucap Nada. Abah Ayub pun menjawab.
"Sudah pulang Nad? " Abah Ayub sambil memandang ke arah nada.
"Kan jadi ngrepotin ummi" Gumam Nada sendiri sambil melepaskan tas punggungnya. Setelah selesai, iya bergegas menuju kamar mandi. Begitu masuk iya segera mengambil wudhu lalu keluar lagi untuk melaksanakan sholat dzuhur. Begitu selesai, Nada keluar kamar dan menemui tamu yang sudah dia anggap sebagai keluarganya itu.
"Abah, ummi" Sambil duduk Nada memanggil keduanya. Terilhat abah Ayub dan umi Nafi menoleh dengan senyum ramahnya.
__ADS_1
"Sini nduk, abah mau bicara sama kamu" Umi Nafi menepuk sofa kosong di sebelahnya supaya Nada duduk di sampingnya.
"Kita sambil makan saja ya" Abah Ayub berkata. Dan kedua wanita beda generasi di depannya itupun mengangguk dan tersenyum. Merekapun segera menuju ke ruang makan. Dan ternyata makanan sudah disediakan oleh umi Nafi.
"Umi, kenapa repot-repot memasak. Umi pasti capek menyiapkan semua ini" Ucap Nada merasa tak enak hati.
"Kalau ngga masak, kamu sama abah makan apa to nduk? " Pertanyaan umi hanya dijawab senyuman oleh Nada. Setelahnya mereka makan dalam hening. Tak ada suara apapun kecuali denting sendong dan garpu. Selesai makan, abah ayub melanjutkan pembicaraan.
"Nada... Nanti abah sama umi mau kembal ke Ponorogo" Abah Ayub memulai lagi. Hati Nada merasa sedih karena mereka akan kembali. Itu artinya Nada akan sendiri lagi.
" Kenapa nggak di sini lebih lama lagi Abah umi" nada berkata dengan lemah lembut.
" di pesantren, Gus Zidan belum bisa memimpin sendirian Nduk. Jadi kami harus segera pulang. dan ini, ada titipan dari Gus Zidane" Umi Nafi memberikan sebuah amplop putih kepada nada. yang nada sendiri pun tak tahu apa isi dari amplop itu.
__ADS_1
" ini apa to Umi? " nada tersenyum sambil mengambil amplop di depannya. tak ingin menunggu lama, Ia pun membuka amplop tersebut. namun Alangkah terkejutnya setelah mengetahui isi dari amplop putih tersebut. nada menunduk, air mata seakan-akan jatuh membasahi pipinya. namun nada tetap berusaha membendungnya.