Kekasih Halal Ceo Tampan S2

Kekasih Halal Ceo Tampan S2
Cincin Prioritas


__ADS_3

Haidar berangkat ke kantor dengan kondisi masih sedikit mengantuk. Semalam iya sulit memejamkan mata dengan cepat. Karena fikirannya terus melayang memikirkan kekasih hati.


"Sayang, nanti setelah makan siang ikut aku ya" Haidar mengirimkan pesan kepada Arsyida lewat aplikasi hijau. setelah terlihat pesan tercentang 2, iya tersenyum. Memandang ke arah ponselnya dalam diam dan senyum mengembang di bibirnya. Haidar menunggu beberapa saat untuk memastikan pesannya segera dibaca. setelah itu, begitu layar ponselnya mati, Haidar kembali memasukkan kedalam saku jas nya.


"Mau kemana kak? " Pesan masuk dari Arsyida sesaat setelah Haidar meletakkan tangannya ke pangkuan. Haidar segera merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya kembali. Iya tersenyum sendiri. Entah mengapa, rasanya seperti ribuan kebahagiaan menghampiri saat membaca pesan tersebut. Diusianya yang sudah kepala 3, dirinya sangat berharap bisa memperistri Arsyi dengan cepat.


"Ke rumah ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜" Balas Haidar disertai 2 emoticon penuh cinta. Dirinya merasa benar-benar terbang diantara jutaan cinta yang membawanya ke dalam lembah keyakinan.


"Loh... Mau ngapain kak? " Arsyida membalas dnegan cepat. Dirinya benar-benar gugup mendapati pesan terakhir yang kini dituliskan oleh Haidar.


"Nanti kamu juga tahu" Haidar enggan untuk memberitahu. Dan Arsyida pun sungkan untuk bertanya lebih banyak. Akhirnya, gadis itu menyanggupi ajakan Haidar.


"Iya... Arsyi ngikut kakak aja" Tulisnya lalu menekan tombol kirim. Entah mengapa detak jantungnya berdetak lebih cepat hanya dengan memikirkan Haidar. Dan semakin cepat tatkala mengingat jika nanti akan bertemu lagi.


"Nanti akan ada yang menjemput. Kamu dirumah atau ikut ke kantor? " Tanya Haidar lagi.


"Aku dirumah saja kak, nanti langsung kerumah aja" Arsyida menjawab dengan gugup. Entah apa yang membuatnya segugup ini. Tak seperti hari-hari biasa sebelum Haidar melamarnya.


"Oke sayang... I love you forever๐Ÿ˜˜" Haidar membalas pesan Arsyida. Setelah itu iya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Sedangkan Arsyida bingung mau menjawab apa. Akhirnya iya hanya tersenyum dan membiarkan pesan tersebut bercentang biru. Iya kembali meletakkan ponselnya kembali lalu turun menuju ruang makan untuk sarapan.


Sesampainya di bawah, Arsyi melihat seluruh keluarganya sudah berkumpul. Terlihat Arsyad yang sudah rapi mengenakan setelah jas kerjanya sedang megambil nasi dengan centong ditangannya. Sedangkan mama dan papanya sudah mulai makan.


"Baru bangun Syi? " Tanya Daffa sebelum menyendokkan nasi kedalam mulutnya.


"Sudah dari tadi pah" Jawab Arsyi sambil duduk di kursi disamping Arsyad. Melihat Arsyad yang lahap dengan makanannya, iya pun menoleh.

__ADS_1


"Kenapa? " Arsyad bertanya sambil melirik tanpa menoleh kearah saudara kembarnya.


"Kamu lahap banget makannya. Kelaperan apa doyan? " Tanya Arsyi sambil meraih nasi didepannya.


"Doyan iya, laper banget. Masakan mama aku emang selalu juara" Jawab Arsyad santai.


"Gadis jam segini baru bangun. Jangan malas. Bentar lagi udah mau nikah juga" Arsyad menabahkan lagi.


"Dih... Males aku. Semalam ngga bisa tidur" Jawab Arsyi santai.


"Udah udah... Baru ketemu aja ribut mulu perasaan. Makan dulu lanjut nanti ngobrolnya" Hana akhirnya menengahi. Iya selalu heran dengan anak-anaknya, selalu ada saja hal yang dibahas untuk menggoda satu sama lain.


"Dih... Cincin baru" Tiba-tiba Arsyad berkata. Iya memandangi jari jemari Arsyida yang terpasang sebuah cincin permata pemberian Haidar.


"Arsyi... Darimana kamu dapat cincin ini? " Tanya Arsyad penuh selidik. Sedangkan Daffa dan Hana hanya tersenyum. Ingin mendengar jawaban dari putrinya.


"Emmm... Itu... Kak Haidar ngasih cincin ini ke aku" Ucapnya santai namun didalam hati sebenarnya sangat gugup.


"Itu artinya, orang special yang dimaksud kak Haidar dalam meeting itu kamu? " Arsyad berkata dengan santai pula.


"Cepetan nikah aja deh. Aku dah tahu semuanya" Arsyad berkata.


"Ya ngga usah cepet-cepet dong Syad. Semua butuh waktu" Jawab Arsyi.


"Ah kamu ini. orang-orang kita itu bisa banget diandalkan. Kamu mau nikah besok juga kalau kita mau bergerak semua selesai dalam hitungan jam" Arsyad berkata.

__ADS_1


"Syad... Selesaikan dulu makannya" Ucap Hana.


"Iya mah... Maaf" Akhirnya mereka semua makan dengan tenang tanpa ada suara. Hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. Setelah mereka selesai makan, Arsyad berangkat ke kantor.


"Nanti aku tunggu penjelasannya" Bisik Arsyad kepada Arsyi sambil berdiri. Iya meraih jas nya di sandaran kursi meja makan lalu mengenakannya.


"Mah, pah.. Arsyad berangkat dulu ya" Ucap Arsyad sambil meraih tangan ke dua orang tuanya. Setelah selesai iya langsung keluar. Dan di halaman rumah, ternyata sopir sudah menunggu. Iya segera membukakan pi tu mobil di jok penumpang untuk Arsyad.


"Selamat pagi tuan muda" Sopir tersebut menyapa Arsyad.


"Pagi. Kita langsung ke kantor saja ya" Arsyad menjawab sapaan sopir tersebut sambil tersenyum.


" baik Tuan..." setelahnya Mereka pun melajukan mobil menuju ke kantor utama.


~ Haidar~


Di tengah meeting yang sedang berjalan. Haidar merasa tidak sabar karena waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. Iya tidak sabar untuk segera mengajukan waktu ke jam makan siang. Karena Entah mengapa dia benar-benar merindukan sosok seorang gadis yang mengganggu pikirannya selama ini.


"Bagaimana tuan Haidar? " Tanya seseorang yang tiba-tiba membuyarkan lamunanya. namun Haidar terlihat terperanjat karena suara itu.


" Maaf... Bisa diulangi penjelasannya sekali lagi. Maaf tadi saya sedang memikirkan hal lain" Haidar berkata dengan jujur. Hal itu tidak membuat klien merasa heran. Karena di usianya yang sudah memasuki kepala tiga, Haidar mengurus perusahaan dengan sangat baik. Dan Baru kali ini ia memikirkan hal lain selain pekerjaan yang membuatnya kehilangan fokus.


"Baik tuan kami akan mengulanginya sekali lagi" jawab seseorang yang berada di depan layar. Iya segera mengulangi apa yang baru saja jelaskan. Hampir setengah jam jam dan meeting itu selesai. Haidar segera bergegas menuju ke ruangannya. Dengan cepat Haidar menyelesaikan pekerjaanya. Iya tak mau mengecewakan Arsyida. Saat melirik kearah jam, Haidar segera menutup document yang saat ini didepannya. Karena sudah selesai iya tanda tangani. Berdiri dari kursi dan meraih jasnya, Haidae berjalan dengan cepat menuju ke arah pintu keluar. Sambil meraih ponsel di sakunya, iya menghungi sopirnya untuk segera ke depan lobby. Haidar sendiripun segera memasuki lift dan turun. Banyak sapaan dari karyawan yang hanya dia jawab dengan anggukkan kepala. Begitu melihat mobil didepan lobby, dengan segera Haidar masuk tanpa menunggu sopir membukakan.


"Kita ke rumah utama" Ucapnya saat sudah duduk di kursi penumpang. Dan mobilpun melaju menembus panasnya jalanan di ibu kota.

__ADS_1


__ADS_2