
Hana yang melihat sebuah senyuman tak biasa di bibir suaminya segera mendekati setelah anak-anaknya masuk ke dalam kamar masing-masing.
" Kayaknya aku mencium bau-bau yang mencurigakan" sebuah ucapan yang dikatakan oleh Hana di dekat telinga suaminya yang telah duduk di sofa dan Hana pun ikut Duduk di sampingnya.
" Bau apa sayang? " sebuah pertanyaan yang dilontarkan Daffa dengan sikap yang begitu tenang.
" Papa yakin nggak lagi nyembunyiin sesuatu. atau memang ada sesuatu yang nggak aku tahu? " Hana memandang mata Dafa dan menatapnya dalam dalam.
" sayang kamu nggak percaya... Maksudnya apa yang pernah aku sembunyikan dari kamu? " Daffa Berusaha tetap tenang dan belum mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mas... Kalau sampai aku tahu sesuatu, kamu tidur luar" Hana berbisik begitu lirih di dekat telinga sang suami. Tanpa sepengetahuan Hana, Daffa menelan ludah dengan susah payah.
" sebentar lagi sudah mau magrib, segera bersiap-siap dan cepat katakan pada anak-anak setelah akad nikah Gus Zidan mereka juga harus segera menikah... Apa yang dikatakan oleh Kyai Ayub tidak bisa kita tentang. Kita harus menghargai" Daffa mengatakan setelah Hana mengangkat tubuhnya dan berdiri lalu berjalan menuju ke kamar serta akan membuka pintu. Daffa sedikit was-was dengan ancaman sang istri.
Jam sudah menunjukkan pukul 18.20. Setelah melaksanakan sholat mahgrib, semua diharapkan berkumpul. Terutama para calon mempelai pengantin laki-laki. sudah ada Gus Zidan Haidar dan juga Arsyad yang kini sudah duduk di depan Kyai Ayub.
"Apa kalian sudah siap? " Tanya kyai Ayub
"Inysa Allah saya siap" Jawab gus Zidan.
"Siap" Jawab Haidar dan Arsyad bersamaan. Setelah yakin jika mereka telah siap, abah Ayub pun segera memulai prosesi akad nikah untuk gud Zidan.
"Saaaahhh" Semua yang hadir berteriak menjawab, jika pernikahan Gus Zidan dan ning Nazwa sudah sah. Mereka sudah sah menjadi suami istri. Terlihat Nada yang terdiam, iya tersenyum menatap sepasang suami istri yang baru beberapa menit itu. Setelah semuanya telah selesai, Gus Zidan dan istrinya bangkit, iya menatap ke arah Haidar, dilihatnya Haidar yang menunduk, namun tak mengurangi aura kewibawaannya.
__ADS_1
"Saudara Satya Haidar Mandala, apakah anda sudah siap? " Tanya seorang penghulu.
"Insya Allah siap pak" Jawaban Haidar dengan penuh percaya diri.
"Apa mahar yang akan saudara berikan kepada calon mempelai wanita? " Tanya penghulu itu lagi.
"Anu... Satu perangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 500.000.000 juta rupiah" Haidar yang menjawab dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya.
"Masya Allah" Semua orang yang mendengar begitu takjub dibuatnya.
"Baiklah... Jika begitu bisa kita mulai" Tuan Daffa mengulurkan tangannya kearah Haidar, dan dengan ringan Haidar menerima uluran tangan itu.
"Saudara Satya Haidar Mandala bin.... Dsterusnyaa" Ucap Daffa dengan lantang.
"Bagaimana saksi? Sah?" Ucap penghulu.
"Saaahhh..." Sahutan dari seluruh orang yang hadir disana menggema memenuhi masjid pesantren.
"Alhamdulillah..." Ucap semuanya. Dan setelah itu Haidar dan Arsyida dinyatakan sudah sah menjadi sepasang suami istri.
Dan yang terakhir, ini adalah saatnya untuk Arsyad dan Nada. Nada yang sedari tadi tertunduk lesu masih dengan mukanya yang syok. Iya tak percaya bajwa hari ini adalah hari dimana iya akan melepas masa lajangnya. Sebelum acara dimulai, Arsyad sudah menanyakan Nada ingin mahar apa. Namun Nada hanya diam dan menjawab terserah.
"Aku hanya ingin mahar yang tidak memberatkanmu dan juga tidak membuatku malu mas Arsyad. Apa saja itu pasti aku terima" Hanya itu yang diucapkan Nada. Akhirnya dengan putus asa, Arsyad menuju ke koperasi pesantren, membeli sebuah sajadah dan hijab. Iya juga masih bingung akan memberi mahar apa kepada Nada.
__ADS_1
"Apa Sadara Arsyad sudah siap? " tanya penghulu,
"Sudah, saya sudah siap" Jawab Arsyad dengan sedikit gemetar.
"baiklah, bisa kita mulai. Saudara Arsyad Abimana Utama, mahar apa yang akan saudara berikan kepada mempelai wanita? " Tanya penghulu kembali.
"1 buah sajadah, hijab dan uang tunai senilai 1000.000.000 rupiah" Jawab Arsyad dengan entengnya.
"Ma Sya Allah..." Gumaman kagum dari seluruh hadirin membuat riuh ruangan di masjid tersebut.
"Baiklah... Kita mulai sekarang. Saudara Arsyad Abimana utama bin Dst..." Ucap penghulu sekaligus wali dari Nada.
"Saya terima nikah dan kawinnya Annisa Qodrunnada binti ... Dst, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" Arsyad dengan jelas mengucapkan janjinya.
"Bagaimana saksi, sah? " sebuah pertanyaan yang semakin membuat Nada berdebar-debar.
"Saaahhh..." Semua bersamaan menjawab.Suara riuh di dalam masjid pun terulang lagi. Dan saat itu pula, terdengar suara adzan isya berkumandang. Akhirnya mereka melaksanakan sholat isya berjamaah.
"Lancar yaa pernikahan mereka... Tidak ada 1 jam, mereka sudah sah menjadi suami istri" Ucap seseorang yang menjadi santriwati dipesantren tersebut sbil menunggu giliran untuk berwudhu.
"Iya... Bahagianya menikah dengan orang yang di cintai" Jawab santriwati tersebut .
"Iya, tapi kita belum tahu mempelai perempuannya seperti apa" Sahut temannya lagi.
__ADS_1
"Pasti juga cantik, secara mempelai laki-laki juga tampan" Jawab seorang lagi. Dan semua percakapan mereka tidak luput dari pendengaran Nada yang saat ini sedang berdiri dibelakang mereka.