Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Penyatuan dua kekuatan


__ADS_3

Acara pernikhan yang la kadaranya itu selesai, tepat pada tengah malam. Kini waktunya untuk sepasang pengantin itu melakukan penyatuan kekuatan mereka berdua.


Malda terlihat sangat tenagn saat ini. Berbeda sat waktu pertama kali ia menginjakkan kakinya di pesawat.


Sangat terlihat ketakutan dan juga sangat cemas. Tapi lihatlah sekarang. Istrinya itu kini begitu tenang.


Ibarat air yang tenag, bahkan riak pun tak bergoyang. Tetapi siapa sangka jika arusnya di dalam sana begitu deras dan tajam?


Satria terus menmdangi sang istri sambil berjalan. "jangan terus memandangiku Bang Satria! Kita harus bersiap. Penyatuan kekuatan ini tidak boleh gagal!" ucapnya yang membuat Satria memeluknya dengan erat.


"Kamu tahu cara penyatuan kekuatan itu?" pancingnya yang membuat Malda menggeleng.


Satria tergelak hingga kepala itu mendongak ke atas. Malda manyun karena Satria menertawakannya.


"Ih, diam napa?!" sewotnya yang membuat Satriasemakin tergelak keras hingga di tempat tujuan mereka.


Satria menjentikkan jarinya.


Klik.


Pintu itu terbuka.


Malda mematung. Sedangkan Satria tersenyum lembut padanya. "Kenapa? Kamu kok yang kayak terkejut gitu sih?" tanya Satria sembari menarik lembut tangan Malda menuju ke ranjang mereka yang ditaburi penuh dengan bunga mawar merah jambu kesukaan Malda.


"I-ini.. Bu-buat a-apa??" tanya Malda terbata


Satria terkekeh lagi. "Bersiaplah. Penyatuan kita dilakukan tepat pada tengah malam!" ucapnya serius


"Tapi.. Ke-kenapa di kamar Bang? Emang nya mau ngapain?? Emang bisa ya penyatuan kekuatan kita dilakukan disini?" bantah Malda lagi yang masih belum mngerti dengan maksud dan tujuan Satria, suaminya.

__ADS_1


Satria yang tadinya serius kembali terkekeh-kekeh. Suara kekehan yang sangat tampanmenurut Malda.


"Ayo, wudhu dulu. Setelahnya kita sholat, baru dilanjut dengan hal itu," titahnya lembut pada Malda


Ia mengangguk dan segera masuk ke temap yang di tuntun oleh satria.


Selesai dengan berwudhu, mereka berdua melakukan sholat dua rakaat.


Ruangan di luar kamar itu semakin bersinar putih terang. Padahal mereka belum lagi menyatukan kedua kekuatan mereka.


Baru separuhnya. Penasehat istana tersenyum melihatnya.


"Ini baru permulaan. Bagaimana kalua mereka berdua menag bersatu dan melebur menjadi satu?" gumam nya dengan mata terus menatap pada menara yang kini edang di selimuti cahya putih dan sudah bercampur dengan warna kebiru-biruan itu.


Saat ini keduanya sednag duduk saling berhadapan dengan mata saling menatap satu sama lainnya.


Satria tersenyum manis padanya. "Sudah paham apa yang dimaksud dengan penyatuan kekuatan?"


"Ja-jadi.. Yang di-diributkan papi sama mami Kinara dulu tetang hal ini??" tanya nya dengan wajah semakin memerah.


Satria mengangguk dan tertawa. "Yes, dear! Bisa kita mulai?"


Malda mendonagk. "Dear? Abang tahu itu?"


"Tentu dong. Abang kan lumayan lama dan juga sekolah di Medan?"


Malda menganga. Satria tertawa lagi. Aura warna kebiru-biruan itu kini semakin terlihat jelas.


"Abang bukan hanya sekolah disana, tetapi juga bnyak belajar disana. Sedari umur kamu satu setengah tahun saat Komandan Lana membawa mu ke Medan, saat itu juga kami menyusulmu. Berkat informasi dari orang setia yang menemani Ibunda Maharani yang sekarang sudah tiada karena terbunuh saat berusaha menyembunyikan kami berdua. Beliau juga yang menolong kami untuk pengurusan paspor hingga kami bisa masuk ke indonesia dengan selamat walau tadinya kami penyusup ilegal."

__ADS_1


Malda tercenung sejenak. "Jadi Abang sudah tahu kalau aku tinggal bersama Papi Lana?"


"Ya, abang tahu. Tapi abang tidak bisa mencarimu saat itu karena informasi yang diberikan oleh penjaga setia Ibunda Maharani kurang. Jadi kami terpaksa mencari tahu sendiri," ujarnya dengan tangan terus bergerak membuka mukenah dan juga yang lainnya.


"Terus, darimana Abang tahu kalau kami tinggal di komplek itu?" tanya Malda yang kini juga tangannya sibuk bergerak membuka pakian Satria.


"Demi mendapatkan informasi tentang mu, kami berdua masuk ke dalam jajaran tentara yang terkenal di kota Mdan. Dari sanalh kami bisa mencari tahu tentang informasi komandan Lana yang saat itu akan menikah dengan Puan Maura."


Malda tidak mendengar lagi. Mata itu sudah terpejam saat ini. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan kini sedang ia nikmati.


Getaran-getaran kecil itu terus berdatanagn seiring cahaya kebiruan itu semakin bersianr terang.


"Sedikit lagi cahaya itu akan melebur dan menjadi satu. Jika sudah menyatu, maka akan hancurlah Raja Apilong!" gumam pensehat istana lagi yang masih mengawasi menara tinggi itu dari jauh.


Karena cahaya yang berdatangan itu akan meledak dan bersatu setelah keduanya bersatu.


Ia memejamkan matanya mulai bermediasi. Baru sebentar ia memejamkan matanya, sudah terdengar ledakan di belakang istana.


Lebih tepatnya di telaga biru belakang istana kerajaan.


Dumm!


Tuaarr!!


Cahaya di menara tinggi itu meledak dengan getaran yang datang dari dalam tanah terus berdatangan hingga...


Dddddduuuuaaaaarrrr


Splaassshhh..

__ADS_1


Terdengar suara ledakan dan juga cahaya kebiru-biruan itu terbang ke langit dengan dua orang berselimut selendang biru mengikuti cahaya itu.


Cahaya itu terus berputar-putar dilangit sana.


__ADS_2