
Sementara di dalam hutan ilusi sana, Raja Apilong dan orang-orang nya mendapat kabar bahwa taman telaga biru sudah kembali seperti semula.
Ia yang mendengar kabar tentang telaga biru kembali seperti semula, sangat marah saat ini.
"Kurang ajarr! Sialan!! Berani-berani nya mereka berdua melakukan hal itu di istana ku!" geramnya dengan wajah memerah.
Asam hitam keluar dari tubuhnya hingga tercium bau anyir seperti bangkai busuk. Beberapa orang mulai mual dengan bau itu.
Mereka yang tidak tahan segera meninggalkan raja Apilong yang kini sedangg mengeluarkan aura tubuhnya.
"Hueekkk!! Bau anyir darah yang sangat busuk! Seperti bangkai yang sudah membusuk! Hueeekkk!! Jika bukan karena ingin menyelamatkan keluargaku, maka aku tidak sudi menjadi pengikutnya! Huh! Lebih baik aku mengikuti Ratu Malda dan Paduka Raja Satria saja! Bukankah selama ini aku yang memberitahu Tuan Kasmir tentang keadaan di istana? Sudah semestinya kan aku meminta perlindungan darinya??" gumamnya sambil berjalan cepat menuju telaga biru itu dan ingin mengarunginya.
Raja Apilong yang tahu jik salah satu dari orangnya itu ingin menyeberangi telaga biru segera mengeluarkan kekutannya agar bisa memenggal kepla orang itu.
"Bang sat! Sialan!!!" teriaknya hingga membuat burung beterbangan di seluruh hutan ilusi dan memasuki kawasan taman telaga biru dimana Malda dan Satria sedang bercerita tentang kejadian mereka saat di bawah air sana.
"Yang mulia ratu!!! Tolong hamba!!!" teriaknya membuat semua yang melihat itu terkejut.
Tak terkecuali Malda. Ia menyipitkan matanya saat melihat di kejauhan sana ada seorang parajurit sednag menyeberangi telaga biru yang terkenal bisa mematikan dalam waktu lima belas menit jika sudah masuk kedalam danau itu.
Deg!
Deg!
__ADS_1
Mata Malda membulat sempurna saat melihat raja Apilong berdiri dengan wujud aslinya.
Malda sampai mual melihatnya. Tapi tidak dengan Satria. Secepat kilat ia mengerahkan kekutannya agar raja Apilong yang sebenarnya kakek Filip itu agar tidak masuk ke kawasan telaga biru dimana mereka berada.
Malda yang sudah bisa mengendalikan dirinya karena Satria sudah mengunci sekeliling telaga itu dengan kekuatan yang ia miliki, Malda pun mengerahkan kekuatannya untuk mengangkat salah satu prajurit yang kini sudah merasakan hawa air dari telaga biru itu.
Dalam sekali pejaman mata, prajurit itu sudah berada di daratan dengan tubuh menggigil. Panglima Dani yang tahu apa yang sebaiknya ia lakukan segera mendekatinya.
Ia memanggil salah satu prajurit lain untuk membantunya. Dayang As pun ikut membantu.
"Bawa dia ke pohon gaharu. Disana ia bisa pulih dengan keuatan yang dimiliki pohon gaharu itu." Ucap Malda pada Panglima Dani yang diangguki olehnya.
"Baik yang mulia." jawab Panglima Dani.
Satria mendekati Malda dan memeluknya karena melihat Malda yang sedikit sesak.
Deg!
Penasehat istana terkejut. "Gadis-gadis? Di mana?" tanya nya pada Malda yang kini bersandar di ceruk leher Satria.
"Ada di belakang kakek Filip, paman. Mereka meminta tolong padaku meminta untuk di lepaskan.. Hueekkk.." Malda mual saat mencium bau amis dari seberang sana.
Satria pun demikian.
__ADS_1
Sedangkan yang lainnya tidak merasakan itu. Termasuk Tuan Kasmir.
Tolong kami yang mulia raja.. Yang mulia ratu.. Kami tersiksa bersama nya.. Tolong bebaskan kami..
Suara lirih itu menyambangi kedua telinga Satria dan Malda.
"Iya, kami berdua akan melepaskan kalian semua. Tetapi kalian harus bersabar dulu. Kami harus menyempurnakan kekuatan kami terlebih dahulu untuk menolong kalian. Bersabarlah." jawab Satria sembari memejamkan matanya.
Begitu pun dengan Malda.
Mereka yang berjumlah banyak itu tersenyum,
Terimakasih yang mulia.. Kami akan datang jika anda memanggil kami nantinya. Kami akan mengatakan apa yang menjadi kelemahan raja iblis ini! Kami pamit. Maaf.. Kedatangan kami membuat yang mulai sedikit pusing.. Inilah kami. jasad kami sudah lama membusuk dan tidak di urus dengan layak. Maka dari itu kami berbau busuk seperti ini..
Lirih suara itu lagi.
"Tentu, pergilah. Kami akan memanggil kalian pada waktunya." Ucap Satria lagi dan diangguki oleh mereka semua.
Satria dan Malda membuka matanya. Terdengar suara teriakan yang sangat kuat dan dentuman kekuatan yang terpental.
"Ternyata kakek Filip semakin marah kepada kita, sayang."
"Biarkan saja bang. Ayo, kita kembali. Aku butuh istirahat." ucap Malda dengan lesu
__ADS_1
Satria mengangguk.
Mereka pun kembali menyusuri jalan yang dilewati Satria tadi. Berbeda jalur dari raja Apilong saat ini.