
Dua minggu berlalu.
Pagi ini sehabis subuh, Malda merasakan mulas yang tiada tara di perutnya. Ia tidak mengatakan apapun pada Satria.
Seperti biasa, ia tetap juga bergerak lincah kesana kemari mengurusi keperluan Satria yang belum lagi bangun dan masih bergelung dalam selimut setelah sarapan paginya bersama Malda.
Mengingat itu, wajah Malda bersemu merah. Pipinya memanas seketika. Ia terus bergerak walau sesekali menahan mulas di perutnya.
Satria yang sudah bangun sedari tadi sengaja berdiam diri sambil memandangi Malda yang kesana kemari dengan perut buncitnya.
Ia mengukir senyum manis di bibir tipisnya. Bibir tipis kesukaan Malda. Satria terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
Ia menyibak selimut dan bangkit untuk mendekati Malda yang kini sedang berdiri di depan lemari pakaian mereka berdua.
Satria mendekati Malda dan menelusupkan tangannya di celah perut Malda yang semakin turun ke bawah itu.
"Eh?" Malda terkejut saat merasakan elusan hangat serta hembusan nafas yang sangat ia sukai dan sangat ia kenal.
Malda tersenyum. Ia pun ikut memegangi tangan Satria dengan erat.
__ADS_1
"Hem.. Nggak kerasa ya Bang? Udah mau lahiran aja nih anak kita??" ucap Malda yang dijawab senyum tampan oleh Satria.
"Ya, Abang pun tidak menyangka jika kamu hamil secepat ini. Padahal pada saat itu kita cuma sekali melakukannya." Satria tergelak saat tangan Malda mencubit perutnya.
"Apanya yang sekali? Abang itu udah menggempur aku berkali-kali tau! Satu malam itu, itu saja yang Abang kerjakan. Nggak ada yang lain lagi. Belum lagi saat aku lemah, Abang sengaja memberikan aku amunisi seperti itu kan?" ketus Malda yang membuat Satria tertawa lagi.
"Hahaha.. Jangan marah lah sayang.. Lagian kan waktu itu kamu pun mau? Bukankah cara alami untuk menyatukan kekuatan kita berdua melalui itu?? Bukankah itu yang tertulis disana? Dan ya. Buah dari Cinta dan kekuatan kita saat ini sudah bersemayam di perutmu." Ucap Satria sambil mengelus perut Malda yang semakin kencang.
Hening.
Malda tidak menyahuti ucapan Satria karena saat ini mulas itu sedang mendera perutnya. Sakit sekali hingga buliran keringat mengalir di dahinya yang masih terbuka.
Deg!
Deg!
"Sayang! Kamu kenapa?! Mau melahirkan kah? Dayang as!!!" teriak Satria yang membuat dayang As sedang bersiap ingin mengetuk pintu pun terkejut bukan main.
Dengan perasaan terkejut, Dayang As segera mendorong pintu kamar sang raja. Ia tergopoh-gopoh masuk ke dalam di ikuti panglima Dani juga masuk kedalam.
__ADS_1
Tiba di dalam, Satria sedang mengenakan baju panjang serta hijab untuk Malda.
Keduanya tertegun saat melihat Malda yang begitu kesakitan sambil memegangi perutnya. Dayang as mendekati Malda.
"Yang mulia sudah merasakan mulas yang sangat?" Malda mengangguk dengan keringat dingin mencuat di dahinya.
"Segera panggilkan dokter yang kemarin kesini. Katakan pada mereka jika ratu kita akan segera melahirkan kanda!"
Panglima Dani mengangguk dan segera berlari keruangan lain yang masih berada di istana itu juga.
Malda dibaringkan di tempat khusus yang sudah mereka sediakan untuk ia melahirkan. Satria tidak mengizinkan jika Malda dikeluarkan dari kamar mereka.
Makanya Satria menyuruh perawat itu untuk menyiapkan sebuah ranjang berukuran kecil khusus untuk Malda melahirkan.
Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit? Karena rumah sakit istana saat ini sedang dibangun. Berada tepat di hadapan gerbang istana hanya berjarak lema belas meter dari gerbang istana saja.
Dan bisa terlihat dari jendela kamar keduanya.
Para dokter dan suster segera bersiap untuk menyambut kedatangan dua pangeran di kerajaan telaga biru itu. Karena saat ini ratu mereka akan segera melahirkan.
__ADS_1