Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Rencana kembali ke Medan


__ADS_3

Lima bulan berlalu.


Hari-hari yang dilewati Malda dan Satria selalu penuh warna. Ada saja tingkah kedua pangerannya yang baru bisa belajar tengkurap dan berjalan dengan dadanya itu.


Kadang terjatuh, menangis, tertawa semuanya jadi satu. Malda dan Satria tidak pernah lelah.


Seperti pagi ini, keduanya sedang di hebon dengan pangeran Salim yang amsuk ke bawah kolong tempat tidur.


Bisa masuk tidak bisa keluar hingga satu istana dibuat heboh olehnya. Satria segera mencari akal untuk mengeluarkan putra sulungnya itu dari sana.


Ia terpaksa meminta Panglima dani dan beberapa pengawal istana untuk membongkar tempat tiodurnya bersama Malda demi bisa menyelamatkan putra sulungnya yang semakin kuat menangis.


Dengan bantuan pengawal dan Panglima Dani, kini putra sulung Malda itu selamat walau kepalanya sedikit memar akibat salah satu dari besi ranjang itu menimpa kepalanya saat besi ranjang itu dibongkar.


Satria dan malda tidak bisa marah. Karena itu murni keteledoran keduanya. Keduanya merasa bersalah terhadap putra sulungnya yang kini sedang terlelap dengan kepala membiru itu.


Kakek Filips dan nenek Kinanti segera mengunjungi keduanya saat mendengar kabar jika putra Malda dan Satria mendapat musibah kecil.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Salim? Apakah lukanya sangat parah??" tanya Nenek Kinanti sembari mendekat ke ranjang baru Malda dan Satria yang sudah diganti dengan yang baru.


Malda mengangguk dan tersenyum walau terlihat sendu. "Udah mendingan Nek. Tadi udah sempat di periksa dokter. Terjadi pembengkakan di kepala Salim. Dan katanya harus di operasi agar tidak terjadi masalah ke depannya. Tapi.. Salim masihlah kecil. Maka dari itu kami berat untuk mengambil keputusan ini.." lirih Malda yang diangguki Oleh Satria.


Kakek Filips menghela nafasnya. "Lalu, bagaimana dengan rencana kalian yang akan pulang ke Medan setelah ini? Sanggupkah kalian berdua meninggalkan Salim dan Salman begitu saja?"


Malda dan Satria tercenung. Keduanya menunduk. Tidak tahu harus berbuat apa untuk saat ini.


Musibah ini sungguh membuatnya berat untuk meninggalkan kedua pangeran nya begitu saja.


"Maaf.. Bukan maksud kakek ingin menghasut ataupun menggoyahkan pendirian kalian hanya saja.."


"Kami akan membawa serta kedua pangeran kami ke Indonesia. Nenek Kinanti dan Dayang As harus ikut dengan kami. Serta beberapa pengawal lainnya."


Deg!


"Apa? Nenek, Nak?" tanya nenek Kinanti pada Satria yang dibalas anggukan oleh Satria.

__ADS_1


Malda pun demikian. "Untuk kerajaan. Akan kami serahkan kepada ayahanda Burhan, Kakek serta panglima Dani. Karena hanya kalian bertiga yang bisa mengelola kerajaan ini dengan baik. Sudah terlihat buktinya." Tambah Malda yang membuat kedua orang beda usia itu tertegun.


Keduanya menatap Malda dengan wajah yang tersirat ingin menolak, tapi tak bisa. Malda terkekeh, "Tenanglah kakek.. Kakek bisa kok. Selama ini aku sudah melihatnya sendiri. Di bawah tangan kalian bertiga, kerajaan datok telaga Biru ini sudah berkembang dengan pesat. Kerajaan kita sudah sama seperti kerajaan diluar sana yang sudah modern. Semua itu berkat kalian semua."


"Dan ya, kami pergi untuk kembali. Hanya beberapa tahun. Abang akan sering bolak balik Malaya dan Indonesia nantinya untuk melihat kalian semua. Percayalah. Kami akan kembali lagi. Bukankah tempat kami itu disini??" ujar Malda yang diangguki oleh Satria dan Ayahanda Burhan.


"Benar yang Malda katakan Paman. Paman bisa bersama kami. Selama ini kita bertiga selalu berbagi tugas dalama mengembangkan kerajaan ini. Dan ya, seperti yang Malda bilang tadi jika kerajaan kita ini sudah banyak yang tahu. Dan pastinya akan banya yang datang berkunjung kesini nantinya. Kalaupaun Paman merindukan BIbi, Paman bisa menyusul mereka ke indonesia bukan?" Imbuh Ayah Burhan yang diangguki oleh sepasang orang tua muda itu.


Kakek Filips menghela nafasnya. "Baiklah.. Jika itu yang sudah kalian putuskan. Tapi kakek mohon.. Bawa serta Fino dan Filona bersama kalian. Kasihan keduanya jika terpisah dari Bunda nya."


Malda tersenyum, "tentu Kenda. Kakek tenang saja. Semua itu sudah kami pikirkan. Termasuk putri Dayang as!" katanya pada Dayang as yang kini terharu melihatnya mengizinkan membawa putri kecilnya ikut bersamanya ke Indonesia.


Tanah dimana belum pernah mereka pijak sama sekali. Tetapi mereka semua seakan semiliki tepat istimewa disana. Satria segera menghubungi Tuan kasmir untuk pembuatan paspor keduanya. Sedang Satria dan Malda masih punya. Hanya kedua pangerannya saja yang harus dibuatkan.


Segala sesuatunya harus disiapkan dengan matang. Namun, jika nanti terjadi sesutu saat persiapan itu sudah siap maka serahkan saja pada Allah.


Karena Allah lah yang berhak memutuskan. Kita boleh berencana, tetapi Allah lah yang punya kuasa berjkkehendak menentukan jalan hidup kita.

__ADS_1


Inilah yang Satria katakan kepada rakyatnya saat perpisahan terakhir kalinya seminggu kemudian ketika mereka akan berangkat pulang ke Indonesia.


__ADS_2