
"Batu mutiara biru?? Bagaimana bisa? Bukankah batu itu sudah menghilang saat Ibunda dulu tiada?" ucap Satria sambil melirik sang istri yang kini sedang menatap rubah hewan peliharaan ibunda nya itu.
Rubah itu tersenyum lagi. "Tidak yang mulia. Yang tertulis di dalam sebuah buku itu benar adanya. Dan lihatlah. Batu Mutiara biru kini sudah kembali ke pemilik asalnya seperti yang sudah tertulis bahwa akan datang suatu saat nanti keturunan yang mulia datok Amirullah untuk membasmi kemurkaan di istana ini. Dan saat itu terjadi, kami akan bertemu dengan kalian disini. Dan semua anak-anakku sudah menyatu dengan kalian berdua."
"Batu mutiara biru ini, merupakan batu mutiara milik yang mulai Puan maharani saat menikah dengan Datok dulu. Beliau sengaja memberikan itu padanya agar sang istri bisa terlindungi. Melalui saya, yang sebenarnya seorang manusia sama seperti kalian di ubah wujud oleh yang Mulai ratu menjadi rubah berekor sembilan. Karena untuk melindungi mutiara itu, beliau sengaja mengutusku untuk menyimpan mutiara itu dalam wujud kesembilan rubah kecil seperti yang kalian lihat tadi."
"Karena beliau yakin dengan kalian berdua. Suatu saat kalian pasti akan menemukan ku disini. Dan benar. Kalian berdua menemukan ku disini yang mulai Ratu Maldalya pewaris sah dari Datok Amirullah dan yang mulia Ratu puan Maharani. Dan juga Yang mulia paduka Raja Satria. Seseorang yang memang sudah ditakdirkan untuk mendampingi yang mulia sedari dulu. Sudah tertulis kok. Aduhh.. Sssttt." lirihnya menahan rasa sakit yang taida tara di akki yang terluka akibat tertusuk duri tetapi bekas luak itu terlihat.
Malda dan Satria bisa melihatnya. "Kamu harus ikut kami. Emm.. Nama kamu?" tanya Malda.
"Hah maaf yang mulia. Nama saya dayang Kaswari. Dayang pilihan Ibu ratu saat beliau masih hidup dulu. Yang mulai bisa memanggil saya dengan dayang As."
Malda tersenyum, "baiklah. Karena waktu kami terbatas, maka kami akan mengobati kamu saat sampai ditempat persembunyian kita. Hutan ilusi ini tidak ada yang tahu. Kalaupun ia tahu, ia tidak bisa menembus pagar yang sudah kami buat sedari pertama kami menginjakkan kaki disini." Imbuh Malda yang membuat dayang As mengangguk tersenyum.
"Emm.. Yang mulia?"
__ADS_1
"Iya As? Ada yang kamu butuhkan?" jawab Malda masih dengan menggendong nya.
"Yang mulai bisa mengembalikan wujud asliku menjadi manusia lagi?"
"Kenapa?"
"Aku rindu ingin menjadi manusia lagi. Tubuhku rasanya kaku jika harus menjadi rubah terus menerus. Mana jalannya kaki empat lagi? Habis lecet semua tanganku yang mulai." Adunya pada Malda yang kini masih memangkunya.
Saat ini ia duduk bersama Satria disatu tunggangan yang sama lantaran ia menggendong dayang As.
Malda tertawa mendengar ucapan dayang As. "Tentu bisa. Kami berdua akan mengembalikan wujud aslimu. Bersabarlah. Sedikit lagi. Bang?" panggia Maldaada Satria yang kini tersenyum dan mengangguk.
"Sabar sayang.. Abang tahu kalau mereka mengikuti kita. Pagar yang kita buat hampir tembus saat ini. Bertahanlah.
Tentu, lebih cepat sedikit. Oh, kalau tidak aku gunakan kekuatan saja boleh ya?
__ADS_1
Jangan! Berbahaya! Mereka akan tahu dimana keberadaan kita. Kamu lihat di sisi kiri kita, mereka seperti sedang mengikuti asap yang timbul akibat ledakan yang kamu buat tadi.
Hemm.. Musuh dalam selimut ini Bang.
Ya, abang tahu. Nanti saat tiba di markas, kita tinggalkan dia diluar!"
Oke!
Batin keduanya saling bersahutan sama lainnya. Membicarakan seorang penyusup yang saat ini bersama mereka.
Tiba di depan pintu markas, seorang musuh dalam selimut yang menyelinap masuk itu segera Malda alihkan untuk mengikuti orang-orang itu. Orang-orang yang ditugaskan untuk mengikutinya.
Satria tersenyum puas melihat itu. Dayang As pun demikian. Sedari tadi ia terus menatap salah satu pengawal mereka yang ternyata musuh Malda dan Satria.
Pintu rahasia itu terbuka dari dalam saat tangan Satria menempel disalah satu dinding disana.
__ADS_1
Mereka semua masuk. Tiba di dalam markas itu semua pengikut setia penasehat istana membungkuk hormat menyambut Malda dan Satria di markas mereka.