Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Bukan hanya kebetulan


__ADS_3

Malda dan Satria segera mengerahkan kekuatannya untuk menyembuh kan penyakit kulit yang diderita raja Apilong alias kakek Filips.


Malda merasakan hawa hitam masuk ke dalam tubuhnya begitu pun dengan Satria. Tetapi itu hanya sebentar. Keduanya tersenyum saat mendapat pertolongan dari si kembar yang belum tahu apa jenis kelaminnya itu.


Keduanya terkekeh saat merasakan perut Malda bergerak dengan lincah seperti sedang menendang sesuatu.


Bukannya kesakitan Malda dan Satria malah tertawa saat merasakan perutnya yang begitu kencang.


Cahaya putih dan biru berpendar mengelilingi Kakek Filips. Pria paruh baya yang sudah renta itu tersenyum merasakan hawa dingin mengalir ke setiap aliran darahnya.


Luka yang tadinya banyak belatung dan bulunya kini sudah mulus kembali. Perlahan tapi pasti kekuatan putih dari sang cucu Malda dan Satria kini sudah masuk ke dalam tubuhnya.


Beliau terus saja tersenyum saat melihat Malda dan Satria bekerja sama mengobatinya.


"Ya Tuhan.. Cucu ku sangat cantik dan tampan!" celutuknya yang membuat Malda dan Satria membuka kedua matanya dan melihat pada pria renta yang kini sudah berubah menjadi sosok tampan yang begitu Malda kenal.


Mulut itu menganga lebar dengan mata melebar. Tangan itu bergetar menunjuk Kakek Filips yang kini tersenyum hangat pada keduanya.


Satria pun tidak kalah kagetnya saat melihat jika seseorang itu benar seperti seseorang yang pernah ia lihat dari kejauhan saat memantau Malda dirumah Papi Lana dihari Malda akan pergi kembali bersama nya ke Malaya.


"Pa-pa-pa-pa-pa... Pi....."

__ADS_1


Brruuukk..


Satria melotot.


"Astaghfirullah! Sayang! Ishh.. Selalu saja begini! Nggak tahu apa jika di dalam ada si kembar?! Ishhh... Papi! Eh, maksudnya kakek! Harus tanggung jawab! Kalau terjadi sesuatu pada ratu ku, maka Kakek harus menanggung akibatnya!" Ancam Satria pada Kakek Filips yang membuat Pria tampan mirip Ali itu tertawa keras.


Sang istri mendekati Malda dan duduk disampingnya. Ia menunduk sedikit dan berbisik lirih di telinga Malda yang membuat Malda dengan Spontan membuka kedua matanya dan memeluk Istri Kakek FiIlips dengan erat sambil menangis.


"Bangun sayang.. Mami sama Papi udah datang ke Malaya untuk menemui mu. Bangunlah. Tidakkah kamu ingin bertemu dengan kami berdua?? Kami sangat merindukan mu? Belum juga dengan Papi kamu??" Bisik sang Nenek di telinga Malda.


Deg!


Deg!


Grep!


"Hahahaha.. Bangun juga ya akhirnya sayangku ini?? Hem?" ucapnya sambil tertawa begitu pun dengan kakek Filips.


Malda tersedu di pelukan Nenek yang belum ia tahu siapa namanya itu. Wanita cantik sebaya Kinara dan mirip Kinara itu mengelus lembut punggung Malda.


Satria masih terbengong melihat itu. Ia tidak bisa berkata apapun saat ini. Sungguh, bukan sebuah kebetulan belaka kenapa mereka berdua bisa melihat kedua orang yang saat ini sangat Malda rindukan.

__ADS_1


Pasti ada sesuatu, pikir Satria.


Jika dulu Dayang As dan Panglima Dani. Hari ini Kakek dan Nenek nya yang membuat keduanya terkejut bukan main.


"Kenapa?" tanya Satria pada Kakek Filips yang kini menatapnya dengan dalam.


Pria tampan miip Papi Ali itu tersenyum dan mendekati Satria. "Karena Malda yang menginginkan kami untuk ada disini. Makanya kami kesini. Semua ini bukan sebuah kebetualn belaka, Nak. Kami hadir disini untuk menjaga kalian berdua. Bukankah setelah urusan kerajaan selesai, kalian berdua akan pulang ke Medan lagi??"


Deg!


Deg!


Malda mengurai pelukannya dan menatap sang Nenek muda itu. Beliau tersenyum lembut. Beliau mengecup dahi Malda yang membuat Malda kembali tersedu lagi.


"Sssttt.. Jangan menangis. Kami berdua datang untuk mengurus bocah kembar kalian setelah kamu melahirkan nanti. Bukankah sekolah mu belum selesai nak? Masih harus dilanjutkan selama dua tahun lagi bukan??"


Malda tertegun. Begitupun dengan Satria. Kedua orang itu tersenyum. "Kami tahu apa yang ada di pikiran kalian berdua. Kehadiran kami disini bukan hanya kebetulan belaka. Tetapi kehadiran kami yang memang sudah di tetapkan ini tidak bisa kami tolak. Kami datang atas keinginanmu. Terimakasih nak jika kamu sangat mempercayai kami dalam mengurus kedua anak mu kelak. Dan ya, ada kabar baik untuk kalian berdua," Imbuhnya masih dengan senyum manis di bibirnya.


"Apa itu mami eh? Emm Neknda dan Yanda kali ya?" ucap Malda yang disambut gelak tawa kedua orang itu.


"Benar sayang. Neknda dan Yanda. Kami berdua memanglah nenek kalian. Tetapi karena masih muda dan terlihat cantik dan tampan?" Neknda mengedipkan matanya menggoda Malda yang membuat Malda tertawa. "Maka dari itu kalian tetap harus memanggil kami dengan sebutan Nenek. Nek nda yang berarti nenek muda. Kalau Yanda, Nggak mungkin dong dipanggil Panda dan Kenda??"

__ADS_1


Lagi, keduanya tertawa. Bukan sebuah kebetulan belaka. Dua orang yang sudah ditakdirkan itu memang harus ada disana saat Malda dan Satria nantinya kembali ke tanah air untuk melanjutkan sekolahnya setelah ia melahirkan si kembar.


__ADS_2