
"TUMPAS KEJAHATAN DI ISTANA DATOK AMIRULLAH SYAM DENGAN KEKUATAN KALIAN BERDUA. KAMI SELALU BERSAMA KALIAN BERDUA. BERSATULAH UNTUK SELAMANYA. TAKDIR AKAN MEMBAWA KALIAN KEMBALI KE TELAGA INI. DAN JADIKAN TELAGA INI SAKSI HIDUP KALIAN KELAK. TUJUH RUPA, TUJUH WARNA TUJUH SURGA DAN NERAKA DAN TUJUH PINTU KEAABADIAN. SEMOGA KALIAN KEKAL SELAMANYA SAMPAI MAUT MEMISAHKAN KALIAN BERDUA.."
"Penerus kerajaan datok Amirullah harus bisa berdiri sendiri dengan empat kaki, empat tangan dan empat kepala. Yang saya sendiri pun tidak paham maksudnya apa."
"Abang mencintaimu Maldalya.. Sangat mencintaimu.."
"Hahahha.. Abang lucu! Hahahha.."
Kilasan-kilasan suara itu terus berdengung di telinga Malda yang saat ini hampir menyentuh dasar telaga.
Dengan kekuatan yang Malda Miliki, ia bisa bertahan dibawah air yang kini bisa membunuhnya seperti kejadian yang dulu.
Malda tersenyum saat melihat Satria berenang kearahnya. Terlihat jika wajah itu begitu sembab karena baru saja menangis.
Kekuatan keduanya semakin bersinar terang dibawah sana. Mengelilingi keduanya. Satria tersenyum haru melihat Malda kini tersenyum padanya.
Blam!
"Astaghfirullah yang mulia!!!" pekik dayang As saat sadar jika terjadi ledakan di dalam air sana dan mengakibatkan genangan air itu menjadi berombak.
Duuuaaarrr!!!
__ADS_1
"Astaghfirullah ya allah yang mulia..." lirih dayang As lagi semakin tersedu.
Ia duduk tepekur di rumput nan hijau itu bersama pengawal lainnya. Tuan Kasmir, Dani dan juga pengawal lainnya pun ikut tersedu saat mendengar suara ledakan beruntun dari dalam telaga yang kini airnya semakin kuat terlihat riak dan bergelombang seiring dengan suara ledakan itu.
Sedangkan dibawah sana malda dan satria sedang menyatukan kekuatan keduanya. Kekuatan Cinta dan pengorbanan sedang bersatu di dasar telaga biru hingga efek dari pancaran kekuatan itu menimbulkan riak gelombang di permukaan air diatas sana.
Malda membuka matanya. Begitu pun dengan Satria. Keduanya menatap dengan tersenyum.
"Sudah paham sekarang?" tanya Malda pada Satria yang kini mengangguk melihatnya.
Binar cinta dan pengorbanan keduanya begitu kuat dan jelas terlihat dari pancaran mata yang berwarna biru milik keduanya.
Gelombang dan riak dipermukaan air semakin terlihat jelas saat ini. Seperti terjadi gempa lokal. Yang terjadi hanya di sekitar telaga biru saja.
Dayang As terkejut melihatnya. Ia mematung di tempat saat melihat ada sebuah mata aiar besar dan bergelombang sedang bergerak di tengah-tengah danau.
Semua yang melihat perubahan itu terkejut. Belum lag dengan suara air mendidih di dalam telaga itu membuat semuanya semakin takjub.
"Sudah siap?" tanya Malda pada Satria yang kini tersenyum haru padanya.
Malda terkekeh, "jangan mengangguk saja raja ku. Berbicaralah. Aku ingin mendengar suara merdu mu.." lirihnya dengan sangat lembut hingga menusuk ke hati Satria.
__ADS_1
Tes.
Tes.
"Sa-sayang.." ucapnya tergagap dengan air mata bercucuran jatuh di pipinya.
Malda tertawa. Ia tertawa dengan kepala mendongak ke atas. Satria semakin terharu. Ia memeluk erat tubuh kurus itu dan tertawa bersama.
Keduanya tertawa bersama sampai di mana tubuh keduanya keluar dari dalam telaga itu dan duduk tepat di sebuah daun teratai yang begitu besar seperti ambal beludru permadani berwarna hijau muda.
Keduanya masih saja tertawa bersama. mereka semua mematung melihat pemandangan itu. Semuanya semakin takjub saat melihat pohon yang membungkuk itu kembali tegak dan juga cahaya bias dari danau yang berwarna hitam itu kembali cerah seperti ketika raja terdahulu dan ratu terdahulu masih hidup.
Taman di sekita telaga biru kembali berbunga. Dan juga setiap pepohonan yang dulunya berbuah lebat tetapi tidak lagi, tiba-tiba saja berbuah lebat.
Dayang As terharu melihat itu. Ia mendekati pohon itu dan mulai memetik buah enak itu.
Ia menggigit buah itu. Dayang As memejamkan matanya dan menangis lagi. Buah yang sama saat Puan Maharani dulunya masih hidup ia rasakan masih sama rasanya. Bahkan lebih manis lagi.
Ia semakin tersedu saat melihat Satria dan Malda turun dari teratai itu dan mendekati dirinya dngan keadaan yang sehat tanpa terluka sedikitpun.
Grep.
__ADS_1
"Yang mulia ratu.. Hiks.. Hiks.." isaknya.
Malda tertawa. Begitupun dengan Satria. Tuan Kasmir mendekatinya. "Bagaiman ini bisa terjadi? Kenapa bisa? Apa yang sudah kalian lakukan hingga kutukan itu terlepas??" tanya tuan Kasmir pada Satria dan Malda yang di jawab dengan senyuman saja oleh keduanya.