
Selepas subuh, kediaman itu semakin ramai dengan para pelayat. Jenazah kedua pengusaha itu sudah di mandikan saat ini.
Dengan semua anak dan menantunya yang memangku mereka. Terkecuali mami Kinara yang baru saja melahirkan. Maka ia tidak diperbolehkan.
Untuk Opa Gilang sendiri ada Uwak Raga, Papi lana, Papi Ali, Papi Rayyan dan Papi Algi. Dan untuk Oma Alisa, ada Uwak Ira, Mami Annisa, Mami Cinta serta Mami Tiara dan terakhir sepupu Oma Alisa yang baru tiba subuh tadi dari Aceh untuk melihat kedua orang yang sudah tiada itu.
Ia mewakili seluruh keluarganya di Aceh. Ia yang paling dekat rumahnya dengan bandara dan malam itu juga langsung terbang ke Medan demi bisa melihat sepupunya.
Beliau merupakan anak dari nenek Irma yang juga pernah dibantu masalah perekonomiannya oleh Oma Alisa dan Opa Gilang.
Saat jenazah dimandikan, bau harum itu tetap menguar ke seluruh penjuru. Sang pemandi mayat pun tertegun sejenak kala menghirup bau lain dari tubuh keduanya.
Ia melihat ke empat orang kini sedang memangku jenazah Oma Alisa, mereka berempat mengangguk dan tersenyum walau dengan air mata berlinangan.
Beliau merasa takjub dengan hal itu. Bahkan bau harum itu tidak berkurang sedikitpun dari tubuh keduanya saat mereka dimandikan hingga di kafankan.
Jenazah keduanya semakin bertambah harum saat sesudah mereka di sholatkan. Mereka semua menangis pilu lagi kala jenazah itu diangkat dnegan tandu dan dibawa masuk ke dalam mobil ambulan untuk dimakamkan di komplek Perumahan Griya M.
Dimana pemakaman khusus keluarga Bhaskara. Salah satunya istri Rayyan yang pertama pun ada disana. Kedua orang tua Opa Gilang serta kakek dan neneknya pun disana.
__ADS_1
Semua pelayat mengantar mereka kesana yang berjarak satu jam lebih perjalanan untuk tiba kesana.
Jalanan yang macet karena semua pelayat dari luar negeri pun ikut mengantar mereka ke tempat terakhir bagi mereka berdua.
Semuanya penuh sesak. Membludak. Acara pemakaman itu melebihi acara pemakaman Presiden ataupun orang terpenting lainnya.
Sepanjang jalan masuk komplek, karangan bunga begitu banyak berjejer. Ketika sholat jenazah tadi pun demikian.
Bahkan satu mesjid yang memuat seratus orang itu penuh sesak. Papi Lana, Uwak Ira, Papi Rayyan, Papi Algi serta Mami Annisa sampai tersedu-sedu melihat itu
Kebaikan yang keduanya sebarkan selama mereka hidup kini menunjukkan hasilnya. Opa Gilang dulu pernah berpesan kepada anak dan cucunya,
Papi Lana dan juga semua anaknya masih mengingat pesan itu dengan baik. Dan itulah hasil dari kebaikan yang mereka berdua lakukan selama mereka hidup di dunia.
Mereka memiliki harta yang lebih, tetapi tidak pelit pada yang membutuhkan dana bantuan dari mereka. Mereka berdua ikhlas uang itu tidak di kembalikan saat salah satu dari mereka meminjammnya.
"Ikhlaskan. Maka Allahakan menggantinya lebih banyak dari itu lagi. Toh, kami berdua tidak pernah kekurangan uang karena kehilangan satu Milyar itu!" katanya sambil tertawa saat melihat wajah semua anaknya merasa kesal padanya.
Dan inilah ucapannya sewaktu itu. Mana mereka yang merasa pernah hutang budi, uang serta nyawa, semuanya datang untuk melihat mereka.
__ADS_1
Semuanya ikut mengantar mereka ke pemakaman umum khusus keluarga Bhaskara hingga komplek perumahan itu ramai bukan main.
Oma Rani dan Opa Reza pun ada disana. Mereka pun begitu shock saat tahu saat mendengar kabar kematian mereka dari menantu mereka yang merupakan putri sulung Uwak Ira.
Mereka ikut mengantarkan jenazah kedua orang itu untuk dimakamkan di tempat terakhir kalinya.
Keduanya di kuburkan dalam satu liang lahat seperti permintaan Almarhum Opa Gilang dulu.
"Jika suatu saat kami tiada, maka satukan kami dalam satu liang lahat yang sama. Mak kalian di depan dan Papi di belakang. Tinggalkan sedikit pembatas tanah untuk Papi bisa dibaringkan dan menghadap kiblat. Kami berdua selalu bersama ketika di dunia. Maka saat tiada pun kami akan bersama-sama."
Sepintas ingatan kecil itu membuat Papi Lana dan Papi Algi lagi dan lagi tersedu saat keduanya mengumandangkan Adzan untuk terakhir kali nya sebelum keduanya di kuburkan.
Papi Lana berada di kepala Oma Alisa. Sedang papi Algi berada di kepala Opa Gilang. Keduanya mengadzankan dengan suara yang bergetar.
Membuat semua yang mendengarnya pun ikut menangis lagi. Kini kedua orang itu sudah di kuburkan.
Bau harum semerbak dari tubuh keduanya terus mengudara hingga memenuhi satu komplek itu. Bahkan ketika keduanya sudah tertutup tanah sekalipun, bau harum itu terus semerbak.
Keduanya sudah kembali ke tempat asalnya. Meninggalkan segudang rindu dan duka untuk keluarga yang di tinggalkan.
__ADS_1