Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Penglihatan Malda dan Satria


__ADS_3

Semua yang mendengar ucapan Satria tersentak kaget. "Apa maksudmu Bang?" tanya Papi Lana begitu marah padanya.


Satria menunduk sendu lagi. Malda memegangi tangannya untuk menguatkannya.


"Katakan Satria!"


Deg!


Malda mendoleh pada Papi Lana yang kini masih terlihat sangat marah. "Kami tidak tahu siapa, Papi Lana!"


"Yang jelas, kami memiliki penglihatan itu. Kelahiran dua bayi mami Kinara memang sudah di tetapkan! Semua itu tidak bisa di ubah lagi. Termasuk papi sendiri! Kita bisa mengubahnya dengan berdoa yang baik-baik! Sendainya kami bisa menahan kejadian itu pastilah kami akan menahannya. Tapi tidak bisa! Semua itu sudah takdir papi! Papi paham takdir tidak sih?!"


Deg!


Papi Lana terkesiap melihat kekesalan Malda padanya. Satria memegang lembut tangan Malda dan Menggeleng.


"Sayang.. Nggak baik ngomong gitu sama Papi Istigfar sayang. Astagfirullahal'adhim.." ucap Satria yang di ikuti oleh Malda dan menghembuskan nafas berulang kali.


Mami Maura memegangi tangan Papi Lana yang kini bergetar. "Sabar Bang. Dengar dulu penjelasan kakak. Kita tidak tahu yang sebenarnya loh.. Jangan tegang urat! Abang lupa? Jika selama ini Abang mengajari kami agar tidak tegang urat jika ingin menyelesaikan masalah?" Ucap mami Maura yang membuat papi Lana menghela nafasnya berulang kali.

__ADS_1


"Jelaskan kak!" titah papi Ali pada Malda.


Malda menetap mereka semua setelah dirasa tenang.


"Kami berdua tidak tahu ini benar atau tidak. Yang jelas penglihatan kami tidak lah jelas. Di dalam penglihatan itu terlihat ada dua orang yang akan pergi setelah kedua bayi kembar mami Kinara terlahir kedunia. Mereka berdua pasangan yang saling mencintai dari dulu hingga saat ini.


Keduanya memiliki kemiripan yang sama dalam masalah cinta. Mereka bersatu karena takdir yang mengikat mereka.


Dan saat mereka pergi pun, keduanya pergi karena keinginan takdir! Bukan keinginan keduanya.." lirih Malda sudah meneteskan air matanya.


Ke empat orang itu tertegun dnegan ucapan Malda. Satria sudah memeluk Malda dengan erat. Karena ia tidak sanggup melihat dan memberitahu kenyataan yang sebenarnya.


Terlihat jelas jika ke empat orang itu kini sedang melamun. Mereka berdua melihat pangeran Salim dan Pangeran Salman begitu betah berada dipangkuan Mami Kinara yang kini terdiam dengan mata menganak sungai.


Mami Kinara menoleh pada Malda. Malda mentapnya dengan sendu. Air mata itu semakin bercucuran.


"Setiap yang bernyawa pasti akan mati..."


"Sesungguhnya kita ini milik Allah maka kepada Nya lah kita kembali.."

__ADS_1


Kata-kata ini terngiang di telinga mereka berempat. Kata-kata yang selalu kedua orang tuanya katakan kepada mereka semua.


Mami Kinara menangis dalam diam. Ia memejamkan matanya saat kilasan memori tentang kedua orang tuanya.


Senyumnya, candanya, tawanya sangat membuat mami Kinara terhibur. Tapi kali ini. Akankah ia mampu menerima kenyataan jika keduanya yang akan pergi?


Maaf mami..


Kenapa Nak?


Malda menggeleng. Satria semakin erat memeluknya.


Kenapa harus mereka?


Karena mereka memang sudah cukup takdirnya sampai disana.. Ikhlaskan Mi.. Maafkan kakak..


Batin Malda membalas pertanyaan mami Kinara yang terdengar ke telinganya.


Satria pun ikut tersedu melihat sang istri tersedu dengan kuat. Papi Lana menatap figura di dinding.

__ADS_1


Foto dimana saat terakhir kali Malda pergi dan sempat berfoto bersama dengan mereka semua.


__ADS_2