
Di lokasi kejadian.
Sudah pukul sembilan malam, para pemadam kebakaran yang berjumlah dua puluh orang, sudah terjun ke bawah sana.
Selesai sholat maghrib dan sholat isya, Papi Lana dan papi Ali yang lebih dulu turun hanya menggunakan tali tanpa pengaman apapun.
Mereka berdua tidak bisa dilarang oleh damkar karena mereka tahu siapa kedua orang itu dan sangat mengenal mereka.
Keduanya nekad turun hanya menggunakan senter berukuran besar yang terikat di tubuh keduanya untuk penunjuk jalan.
Jalanan yang terjal dan licin akibat siraman air damkar tadi supaya mobil yang meledak itu bisa cepat berhenti terbakar. Membuat keduanya sangat kepayahan ketika turun ke bawah.
Dan ya, semua usaha mereka tidak sia-sia. Hanya saja perjalanan untuk tiba kesana sangat berbahaya.
Papi Lana dan papi Ali berulang kali terpeleset hingga berguling-guling ke arah lain karena tanah yang mereka jadikan pijakan sangatlah licin.
Sedang keduanya tidak memiliki alat apapun untuk mereka bawa kesana. Hanya berbekal sepatu kat berwarna putih dan abu-abu yang kini sudah berubah warna.
Menjadi warna lumpur akibat siraman air itu.
Sudah sekitar lima puluh meter keduanya turun ke bawah jurang, belum juga terlihat mobil itu. Mereka mencarinya menggunakan cahaya senter berukuran raksasa yang kini mereka pegangi berdua.
__ADS_1
Keduanya masih meyisir tepi jurang nan gelap itu. Jangan tanyakan seperti apa hawa dibawah sana. Yang pastinya sangat dingin.
Saking dinginnya menusuk ke tulang hingga merontokkan seluruh sendi keduanya. Tetapi keduanya tidak mau mundur.
Keduanya terus maju untuk menuju lahan itu. Papi Lana menghentikan gerak kakinya yang menuruni lereng berbukit yang curam itu.
"Kamu cium bau sesuatu nggak Li?" tanya papi Lana pada papi Ali yang kini juga tertegun dengan bau harum yang sangat harum dan memabukkan itu.
"Iya Bang. Seperti bau harum mawar? Tetapi bukan mawar? Baunya sangat harum melebihi bunga kasturi."
Papi Lana berdecak. "Memangnya kamu pernah tahu baunya bunga Kasturi jaman nabi itu?" tanya nya kesal dengan kaki terus berjalan menyisir tepi jurang nan licin itu.
"Hehehe.. Nggak sih bang. Hanya dengar nama saja. Bunga kasturi. Itu aja sih," jawab Papi Ali yang memang benar adanya.
Mereka terus melanjutkan untuk turun ke bawah sana. Hingga sambungan tali itu terhenti sejarak dua ratus lima puluh meter, kaki keduanya berhenti melihat setumpuk benda gosong dibawah sana yang hanya berjarak lima meter saja dari keduanya saat ini.
Deg!
Deg!
Deg!
__ADS_1
Jantung keduanya berdegup kencang dengan kaki terpaku melihat dengan jelas siapa sosok berdua yang kini sedang berpelukan dengan bibir keduanya tersenyum begitu manis.
Bau harus terus tercium seiring semilir angin berhembus membawa pergi bau harum itu.
Beberapa orang yang sudah turun dan mengikuti papi Lana dan papi Ali, pun terkejut bukan main dengan bau harum itu.
Begitu pun dengan orang yang ada diatas sana. Komanda Polisi kenalan papi Lana itu tertegun ketika melihat layar di laptopnya yang menunjukkan kedua pasang suami istri itu jasadnya masih utuh dan berbau harum.
Bahkan sangat harum. Semua warga yang berada disana ikut tertegun dengan bau itu. Mereka semua melihat layar laptop itu dengan jantung berdegup kencang kala melihat jasad itu utuh dan sempurna.
Tidak hangus dan terbakar. Bahkan wajah keduanya begitu berseri dengan pakaian berwarna putih mereka.
"Bawa mereka naik ke atas Lana, Ali. Biar segera kita bawa pulang. Semua keluarga kalian pastilah menunggu keduanya saat ini. Turunlah. Dan lepaskan pengait tali di tubuh kalian. Sudah ada dua puluh orang turun ke bawah dan membawa kantung jenazah." Ucap komandan Polisi yang bernama Prasetya itu.
"Baik," jawab keduanya kompak dengan mata terus menatap pada kedua orang tuanya yang kini masih berpelukan dengan bibir terus menyunggingkan senyum manis yang sangat teduh terlihat.
Hingga mereka pun ikut hanyut saat melihat jasad itu. Keduanya turun dengan perlahan masih dengan memegang senter itu.
Tiba di depan kerangka mobil yang sudah hangus tetapi keduanya tidak hangus itu, papi Lana dan papi Ali lagi dan lagi tertegun.
"Mak.. Papi..." keduanya berseru bersamaan dan menyentuh jasad itu yang masih utuh dan tidak hangus sedikitpun.
__ADS_1
Serta wangi harum yang menguar dari tubuh keduanya membuat anak dan menantunya itu memeluk kedua jasad itu dengan suara teriakan dan tangisan yang sangat pilu.