
Setelah cukup menangis dan tertawa di gubuk hutan ilusi itu, kini semuanya sedang di dalam perjalanan menuju ke Isatna lagi.
Malda dan Satria membawa serta keluarganya. Sepanjang perjalanan mereka semua tertawa bersama.
Di tengah keheningan malam yang hampir subuh itu, mereka masih sempat-sempatnya membuat lelucon.
Terutama Malda dan Kakek Filips. Kedua orang itu ternyata sangatlah humoris. Dan Satria menyukai itu.
Sepanjang jalan kenangan eh salah. Maksudnya sepanjang jalan ke istana mereka terus saja berbicara.
Ke enam orang itu menaiki kereta kuda yang sudah di pesan oleh Panglima Dani saat mereka akan kembali.
Sekitar pukul lima pagi mereka tiba di istana. Dan para dayang dan juga pengawal sudah berbaris menunggu kedatangan raja dan ratu mereka.
"Yang mulia raja Satria dan yang mulia ratu sudah tiba...!!" teriak salah seorang pengawal yang berdiri di pintu gerbang istana.
Lagi, pengawal itu berlutut dengan satu kaki di hadapan Malda dan Satria yang membuat keduanya kembali menghela nafas panjang.
"Bangun!" sentak Malda dengan suara meninggi yang membuat semua pengawal dan dayang istana terjingkat kaget.
__ADS_1
Wajah Malda merah padam. "Bangun kataku! Atau kepala kalian ku penggal!!"
Deg!
"Yang mulia.. Ampuni kami.. Ampuni kami.." ucap mereka semua dengan bersujud di hadapan Malda.
Nafas Malda kembang kempis saat melihat semua pengawal dan dayangnya malah bersujud di hadapan mereka semua.
Malda berbalik dan menatap tajam pada sang Kakek yang kini tertegun melihat aura Malda yang sangat berbeda dari tadi.
Nenek Kinanti tersenyum, ia menyentuh tangan suaminya. "Lakukanlah Kanda. Mereka sampai saat ini masihlah rakyatmu. Kamu akan turun saat penobatan Satria dan Malda nantinya." Imbuh nya dengan suara yang begitu lembut.
Malda mengangguk tetapi masih dengan tatapan tajamnya. Kakek Filips menelan saliva nya. "Ba-baiklah. Ehem. Bangunlah kalian semua. Saya Raja Apilong memerintahkan kalian semua untuk berdiri dan tidak bersujud di hadapan kami! Hanya Tuhan Yang Maha Esa pantas kita sembah. Bukan sesama manusia!"
Deg!
Deg!
Mereka semua panik sendiri tetapi tidak bersuara. Satria yang tahu tentang gestur tubuh semua pengawalnya itu menghela nafas berat.
__ADS_1
Ia memejamkan kedua matanya dan memegang tangan Malda.
Splaasshh!!
"Aaaaa..." pekik semua orang itu.
Malda terkekeh. Ia terkekeh saat melihat semua orang itu dibuat melayang oleh Satria.
Satria berjalan melewati orang yang melayang itu. Kakek Filip dan Nemek Kinati dibuat menganga.
Panglima Dani tertawa terbahak melihat semua dayang dan pengawal nya mengambang di udara.
Ia tak menyangka dalam diam nya Satria bisa juga berbuat seperti itu. Ia tersenyum melihat Satria menggandeng Malda melewati mereka semua.
"Yang mulia.. Tolong turunkan kami.." lirih mereka dengan mengiba.
"Nanti! Setelah saya masuk dan tidur, baru saya turunkan!" tegas Satria yang di tertawakan oleh Malda.
"Hahaha.. rasain! Emang enak!" kata Malda sambil terus tertawa.
__ADS_1
Satria yang melihat sang ratu di hatinya itu tertawa ikut terkekeh. Ia merangkul bahu Malda dengan erat dan masuk ke dalam istana dimana dayang As menunggu mereka dengan mata berkaca-kaca.
Kakek Filips dan Nenek Kinanti tersenyum melihat itu. Mereka bahagia saat melihat keduanya bahagia seperti itu.