
Setelah menempuh berapa jam perjalanan, kini Malda dan Satria sudah tiba di Malaya. Mereka sudah di jemput oleh orang suruhan kakek Filips.
Mereka berlima langsung dibawa kembali ke istana kerajaan telaga biru untuk menemui kakek Filips dan juga Panglima Dani yang kini sedang menunggu kedatangan mereka berdua.
Cukup satu jam saja perjalanan itu, kini mereka berlima sudah tiba di kerajaan mereka yang sedikit berbeda.
Malda menghela napas panjang dengan tangan mengepal erat. Ia segera memegangi tangan Satria dan mulai membersihkan hawa negatif yang tersebar di seluruh penjuru kerajaan telaga biru itu.
Hawa hitam pekat itu begitu terlihat dimata keduanya yang memiliki mata batin yang terbuka. Satria dan Malda kembali harus menguras tenaga dalam untuk membersihkan semua hawa negatif yang saat ini menyerang kerajaan nya.
Keduanya turun dan mulai melakukan pembersihan masih dengan mata terpejam. Panglima Dani yang sedikit kurus dan terlihat pucat itu mengikuti mereka yang kini menuju ke belakang istana dimana telaga biru berada.
Tiba disana, keduanya langsung menuju pohon obat itu. Malda dan Satria kembali mengerahkan kekuatan mereka untuk menyembuhkan pohon obat yang tercemar racun hitam milik raja seberang. Raja Butyan Kunu.
Raja yang sebenarnya menyukai Malda sejak pertama kali bertemu. Ia yang sudah tertarik dengan Malda tidak peduli jika Malda merupakan istri orang.
__ADS_1
Ia tetap keukeuh ingin mengambil hati Malda yang ditolak Malda mentah-mentah. Untungnya Malda itu cerdik. Ia sangat tahu siapa raja Butyan Kunu itu hingga menolak semua pemberiannya.
Hingga terjadilah hal seperti yang sudah di duga oleh Malda dulunya. Hal yang pernah ia katakan kepada Satria dan juga Panglima Dani saat semua ini belum terjadi.
Malda dan Satria membuka matanya dan melihat ke sekitar. Keduanya bernapas lega setelah melihat hawa negatif yang menyebar di seluruh penjuru kini sudah menghilang bersama tiupan angin yang berhembus lembut.
Malda tersenyum saat melihat Panglima Dani dan Kakek Filips tertegun dengan tubuhnya yang kembali sehat seperti sedia kala. Sehat seperti saat Malda dan Satria tinggalkan.
Malda mendekati kakek Filips serta memeluknya. Ia menekan sedikit sisi kiri dada kakek Filips yang membuat pemuda paruh baya itu menahan napas hingga satu menit lamanya.
"Terimakasih sayang. Kamu sudah kembali dan mengembalikan semua kerjaan kita seperti dulu lagi.." lirihnya di telinga Malda yang kini mengangguk padanya.
Satria pun ikut tersenyum. Ia mendekati panglima Dani dan melakukan hal yang sama.
Trak.
__ADS_1
"Ughh.. Hufftt.." lenguh Panglima Dani saat Satria menekan sedikit tulang belakang sisi kanan nya saat rajanya itu memeluk dirinya sedikit erat.
Dirasa cukup, Satria mengurai pelukannya dan menepuk pundak panglima Dani. "Sudah, Panglima sudah sehat kembali. Hawa hitam yang menempel di tubuh serta menginap di tubuh kalian berdua sudah kami bersihkan. Tidak akan sakit lagi setelah ini. Cobalah!" katanya pada Panglima Dani dan juga Kakek Filips yang diangguki oleh Malda dengan tersenyum lebar hingga gigi putihnya terlihat.
"Hu'um, coba aja kek. Benar kata Bang Satria. Gerakkan kembali tangan kalian berdua." Titahnya yang diangguki oleh kedua pemuda berbeda usia itu.
Nenek Kinanti mendekati kakek Filips dan memegangi lengannya. Begitu pun dengan dayang As yang berdiri di sisi kiri panglima Dani yang kini mencoba menggendong anaknya.
Keduanya tertawa bersama saat merasakan tidak lagi sakit saat menarik napas. Biasanya sangat sakit dan sukar digerakkan jika ingin mengangkat sesuatu.
Bahkan menarik napas pun sangat sakit. Malda dan Satria saling berpelukan. Keduanya tersenyum melihat kedua keluarga kecil itu kembali bersatu dan sudah sehat kembali.
"Akhirnya.. Kita sudah berhasil menghilangkan hawa buruk itu. Pantas saja mereka berdua saklit? Lah wong raja seberang si panu itu sengaja memberikan hawa negatif di kerajaan kita. Ia mampu menembus pelindung yang kita buat selama kita pergi dulunya sampai-sampai kedua orang yang kita percaya mengelola kerajaan kita harus tumbang dan sakit karena ulahnya." Ucap Malda yang diangguki oleh Satria.
"Kamu benar Sayang. Kita sudah kembali. Dan kerajaan kita sudah seperti sedia kala. Mungkin, setelah ini hanya salah satu yang pulang ke Medan untuk mengikuti acara aqiqahan calon mantu kita!" Satria tergelak saat Malda mencubit pinggangnya.
__ADS_1
"Apanya calon mantu? Potong kulit aja belum putra kamu, Bang!" ketus Malda yang ditertawakan lagi oleh Satria sambil berlalu masuk ke dalam istana kerajaan nya.