
"Jangan menangis.. Kami tidak apa-apa. Lihat? Kami sehat loh.." katanya lagi yang semakin membuat semua yang berada diruangan itu menangis seketika.
Suara alunan merdu dari luar ruang inap Mmai Kinara begitu syahdu terdengar. Bagaimana tidak. Disaat mereka semua menagis, tiba-tiba saja suara alunan merdu itu semakin membuat mereka semua tersedu.
"Sallallahu'ala muhammad.. Shallallahu 'alahi wasallim.. Sallalahu 'ala muhammad.. Sallahu'alahi wasallam.."
Begitu syahdu dan merdu membuat bulu kuduk mereka semua berdiri. Malda dan Satria tertegun melihat sekitar mereka yang saat ini sedang menangis.
"B-bang.. I-itu.."
"Sssttt.. Malaikat sedang memberkati mereka semua. Mereka berdua merupakan orang pilihan di muka bumi ini. Kamu sedari tadi ada mendengar sholawat tidak?"
Malda mengangguk. "Sholaawat itu berasal dari suara malaikat itu sendiri. Tetapi bagi yang mendengarnya seperti suara kaset dan musik diluar sana."
"Ya Allah.. Berarti Opa dan Oma orang pilihan?"
"Ya, kedua orang itu orang-orang pilihan yang selalu dijaga dan di lindungi oleh malaikat. Entah karomah apa yang dimiliki oleh keduanya sampai di kelilingi malaikat di belakang mereka."
Deg!
__ADS_1
Satria terpaku saat salah satu yang bercahaya putih itu melihatnya.
Splaasshh..
Malda dan Satria mematung seketika. Seperti ada aliran listrik yang berkekuatan sejuta volt masuk ke tubuh keduanya.
Tidak panas. Melainkan dingin. "Sudah kebagian kan bang?" goda Opa Gilang pada Satria yang kini masih terpaku melihat cahaya putih itu yang ketika lamat diperhatikan..
"Opa..? Oma...?"
Kedua orang itu tersenyum, "Ya. Ini kami berdua. Kamu berdua pun merupakan orang pilihan. Tetapi tidak untuk keluarga kita. Kamu dan Malda merupakan orang pilihan di negara lain. Untuk itu, pergunakan ilmu yang kami berikan untuk kalian dengan baik. Gunakan itu untuk kebajikan. Opa dan Oma harus pergi. Waktu kami tersisa satu hari lagi disini. Besok, kami harus berangkat ke tempat yang seharusnya. Jaga keluarga kita Nak.. Jaga Malda dengan baik. Kedua anakmu. Dan juga cucu Opa yang akan menjadi pendamping anak mu kelak."
Satria tidak bisa berkata-kata. Lidahnya terasa kelu. Matanya tetap menatap sejurus ke depan dimana cahaya putih berkilauan itu masih mengelilingi Opa Gilang dan Oma Alisa.
Terakhir, cahaya putih kebiruan berpendar di tubuh kedua bayi kembar mami Kinara yang baru lahir itu. Malda dan Satria lagi dan lagi tertegun.
Kedua orang itu tersenyum manis pada semuanya. Sekejab mata semua cahaya itu menghilang bagai di telan bumi. Satria dan Malda tersentak saat melihat semua anak Oma dan Opa Gilang sedang memeluk mereka satu persatu.
"Jadilah istri yang baik.. Yang taat pada suami.. Yang berbakti padanya. Maka surga Allah untuk kami berdua." katanya pada Mami Kinara yang dibalas dengan suara sesegukan olehnya.
__ADS_1
Begitu pun dengan yang lainnya. Papi Tama dan Papi Lana yang paling lama memeluk Oma Alisa sampai wanita paruh baya yang sudah senja itu pun tertawa dengan air mata yang mengalir di pipi bersihnya.
"Sudah.. Jangan menangis. Kami harus bersiap. Besok kami ada perjalanan bisnis untuk yang terakhir kalinya keluar kota. Papi kalian ingin nyetir sendiri katanya!" Oma Alisa tergelak.
Cepat sekali berubahnya. Padahal tadi beliau menangis kuat. Begitu pun dengan Opa Gilang.
"Hooh, benar itu! Perjalanan yang terakhir kalinya sebelum kami pensiun dari dunia bisnis. Mami kalian sudah tidak sanggup. Maklum.. Dianya kan lebih tua dari papi?" ledeknya pada Oma Alisa yang dibalas tepukan kuat di bahu dan juga lengannya.
Malda tertawa melihat itu. Satria pun demikian. Itulah yang terjadi jika sampai Opa Gilang mengungkit tentang selisih umur keduanya.
Bagaimana tidak. Jika Opa Gilang masih berusia 52 tahun. Sedang Oma Alisa sudah hampir memasuki 70 tahun.
Timpang banget kan?
Tetapi usia keduanya tidak menjadi masalah. Dari umur yang berbeda itulah timbul kesenjangan bersama. Yang mana Oma Alisa mampu menginmabngi jiwa muda Opa Gilang, dan Opa Gilang pun mampu mengimbangi jiwa tua Oma Alisa.
Opa Gilang masih saja terus tertawa saat tubuhnya berulang kali di tepuk kuat oleh Oma Alisa. Cinta sejati yang merupakan cinta terakhirnya.
Begitu pun dengan Oma Alisa. Beliau pun demikian. Cinta terakhir yang tidak akan pernah mati walau mereka sudah tua sampai saat ini.
__ADS_1
Malda terharu melihat kebersamaan mereka semua yang hanya tinggal hitungan jam saja.
"Semoga Allah memberikan tempat yang layak untuk kalian nantinya. Kami salah satu dari kalian berdua. Kami pun terpaut usia yang lumayan jauh. Tetapi itu tidak akan menyurutkan cinta kami berdua. Kalian berdua inspirasi kami. Selamat jalan Opa.. Oma.. Semoga Allah memberikan tempat terindahnya di surga kelak. Amiiinn.." Batin Malda yang diangguki oleh Satria.