
Satria menyipitkan matanya saat melihat cahaya yang amsuk dari jendela kamarnya. Ia bangkit dan duduk menyender di kepalaranjang.
Ia memijit pelipisnya dengan pelan. Dirasa cukup, mata nya berpendar mencari keberadaan Malda yang tidak terlihat di mana pun.
Satria mengambil ponselnya dan melihat sudah pukul sepuluh Pagi. Ia Terkejut.
"Itu artinya aku sudah pingsan selama satu malam setengah hari? Lalu, siapa yang mengangkat ku kesini? Malda kemana? Kenapa dia tidak terlihat dimana pun?" lirihnya amsih dengan memijit pelipisnya.
Seseorang yang sedari tadi memperhatikannya menjawab, "saya yang mengangkat paduka Raja untuk dibaringkan di ranjang karena yang mulai Malda tidak sanggup."
Deg!
"Panglima?? Sudah berapa lama kamu disini? Dimana Malda?" tanya Satria yang membuat pangliam Dani tersenyum hangat padanya.
"Paduka ratu sedang bersama dayang As di dapur istana Yang mulia. Beliau meminta saya untuk tidak mengganggu nya yang sedang masak dan juga paduka tidak di izinkan turun dari ranjang. Jika yang mulia butuh sesuatu, katakan saja ada saya." Jelasnya yang membuat Satria menghela nafas panjang.
"Jangan berbohong, Panglima!"
Deg!
"Katakan yang sejujurnya. Kemana istri saya pergi bersama dayan As dan juga pengawal saya yang lainnya! Tidak perlu berbohong! Saya tahu segalanya!"
Deg!
Deg!
Glek.
__ADS_1
Panglima Dani menelan ludahnya. Ia tidak bisa berkutik sekarang. Ternyata Satria, rajanya tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Flashback
Brruukkk..
"Astaghfirullah! Apa itu?" seru dayang As yang kebetulan lewat di kamar keduanya.
Ia mendekati kamar keduanya dan menempelkan telinga di pintu yang tertutup rapat itu.
Hening.
Tidak ada apapun. "Terus, tadi itu suara apa? Yang kayak benda jatuh begitu bukan ya?" gumamnya masih dengan telinga menempel di pintu kamar Malda.
Karena tidak mendengar apapun, daang As ingin pergi. "Ya sudahlah. Bukan apa-apa kok. Lagi pun kami dilarang mendekat ke kamar ini? Hem." Ucapnya sambil berlalu.
*
*
Malda yang baru saja selesai di kamar mandi segera keluar. Dan saat ia mendorong pintu kamar mandi, sedikit tertahan.
"Lah, kenapa pula tertahan kayak begini?? Ih, ini ada apa di depan pintu?" kata Malda masih berusaha mendorong pintu yang tidak bisa terbuka itu.
"Ihh.. Apaan sih? Ah ku lihat dulu lah. Pasti ada sesuatu yang menghalangi. Kalau nggak mana mungkin pintu kamar mandi ku bisa bertahan kayak begini??"ucapnya lagi masih berusaha mendorong sedikit agar bisa mengulurkan kepalanya.
Saat kepala itu bisa tersulur keluar, mata Malda meotot seketika.
__ADS_1
"Aaaaaaaaa... Abbaaanggg!!! Kamu kenapa?!!" pekik Malda begitu terkejut.
Dayang As yang memang belum jauh dari pintu kamar Malda segera mendobraknya.
Braakk.
"Kenapa Yang mulia?? Kenapa- astaghfirullah!! Yang mulia raja!!" pekiknya pun begitu terkejut melihat Satria jatuh terkapar dilantai.
Dayang As yang panik pun segera memnaggil Panglima Dani untuk segera membantu Satria. Setelah Satria diangkat dan dibaringkan di ranjang, kinimalda mentapa dayang As dan panglima Dani bersamaan.
"Aku ingin bertemu penasehat istana sekarang! Tak ada bantahan!" tegasnya pada Panglima dan dayang As yang kini keheranan melihat Malda sangat ingin bertemu penasehat kerajaan.
Keduanya pun mengangguk. Malda segera memejamkan matanya dan mengirimkan sinyal ke uadara untuk mengirim pesan kepada Tuan Kasmir.
Beliau yang tahu itu pesan dari Malda dengan segera izin untuk pulang kerumahnya.
Malda menatap dalam pada Satria. "Aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan Bang Satria. Daripada aku kehilangan mu, lebih baik aku kehilangan kerajaan ini. Aku akan berkoban demi kamu. Karena kamu segalanya untukku. Tak apa jika aku tidak mendapatkan istana ini. Yang penting aku bisa bersama kamu. Itu yang aku mau bukan istana ini. Untuk apa aku memiliki istana luas ini jika aku tidak memiliki suami dan pendamping di sisiku?" ucap Malda yang membuat Pangliam dan dayang As membantu seketika.
"Yang mulia.." lirih mereka berdua dengan air mata yang sudah menganak sungai.
Malda menatap mereka berdua. "Jangan halangi aku Panglima, dayang As. Yang aku mau suamiku. Bukan istana ini. Aku akan melakukan apapun untuk hubungan kami berdua. Walau harus berkorban dengan meyerahkan istana ini kepada yang berhak tetapi bukan raja Apilong. Kakek sialan ku itu!" ketus Malda di akhir kalimatnya yang membuat dayang As dan Panglima terkekeh kecil.
"Baiklah yang mulia. Saya yang akan menemani yang mulia raja disini. Pergilah." ucap Panglima Dani dan diangguki Malda beserta dayang AS.
Mereka pun segera pergi meninggalkan Satria yang terbaring dan tidak tahu kapan akan sadarnya.
Panglima dani menghela nafasnya. "anda sangat beruntung yang mulia.. Yang mulia ratu rela kehilangan tahta nya daripada suaminya. Semoga dikabulkan oleh Tuhan yang Maha Esa, amiiin.." lirihnya dengan duduk di sudut ruangan kamar Satria dan Malda.
__ADS_1
Flashback off.