Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Surat Opa Gilang dan Oma Alisa


__ADS_3

Setelah selesai menguburkan kedua orang itu dilanjut dengan doa, kini semuanya sudah meninggalakn tempat pemakaman umum itu.


Para pelayat yang tadinya mengantar mereka ke kuburan, kini sudah pulang kerumah masing-masing. Tinggallah keluarag inti saja.


Mami annisa dan Uwak Ira sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Tubuh keduanya lemas lunglai.


Uwak raga dan putra sulungnya Arga, segera membawa sang Ummi menuju mobil mereka. Begitu pun dnegan mami Annisa.


Papi Tama menggendongnya hingga tiba di mobil mereka. Masing-masing masuk ke mobil dengan istri mereka yang kelelahan karena menangis sampai tidak sadarkan diri lagi.


Semuanya kembali pulang ke kediaman almarhum Oma Alisa dan Opa Gilang, karena mereka akan bermalam disana selama empat puluh hari.


Demi mendoakan kedua almarhum yang kini sudah tenang di sisi-Nya.


Mereka semua tiba di kediaman itu dan segera beristirahat. Begitu pun dengan Malda dan Satria. Keduanya langsung menuju kamar mereka yang sudah di siapkan oleh mami Tiara yang tidak ikut ke pemakaman demi menjaga Mami Kinara yang saat ini baru saja melahirkan dan kembali mengalamai pendarahan.


Hanya Papi Ali yang ikut kesana. Satria yang sangat kelelahan segera berbaring dengan memeluk tubuh Malda yang terlebih dahulu menuju ke alam mimpi.


Sementara di dalam kamar Oma dan opa, kini semua anaknya sednga berkumpul dimana mami Kinara sednag terlelap setelah disuntik penenang agar tidak histeris dan perutnya kembali mengeluarkan darah lagi.


Papi Lana mengambil kertas putih yang tadi mereka temukan di dalam ranjang itu saat mami Kinara dibawa masuk kesana.


Beserta kain putih untuk membungkus jasad keduanya. Yaitu kain kafan yang sudah keduanya siapkan untuk membalut jasad mereka.


Papi Lana duduk dihadapan semuanya dengan beregtar lagi saat akan membaca isi surat terakhir dari kedua orang tuanya itu.

__ADS_1


"Medan.. 20 februari 20xx.


Hah.. Ya Allah.. Sudah lama ternyata.. Baik. Ehem!


Assalamu'alaikum Wr. Wb.


Maaf.. Hanya surat yang bisa kami tinggalkan untuk kalian semua anak cucu mak dan papi. Sesuai tanggal, surat ini sudah tertulis sejak dua bulan yang lalu.


Dan ketika kalian membaca surat ini pastilah sudah tiga bulan. Lama juga ya Pi?"


Leher Papi lana tercekat saat membacanya. Semua yang mendengarnya pun kembali bersedih dengan surat tulisan tangan almarhum Oma dan Opa Gilang itu. Yang sangat Papi Lana kenal.


"Kami berdua sudah menyiapakan ini jauh-jauh hari sebelum kami tahu, jika ada musuh di dalam keluarga kita. Mereka sengaja ingin membunuh kami sedari dulu, tetapi tidak berhasil. Mungkin saat inilah waktunya bagi mereka.


Tetapi tak apa. Kami ikhlas, karena kami tahu hidup kami cukup sampai disana. Untuk itu, sebelum kami pergi, kami meninggalkan beberapa berkas tentang kasus korupsi yang terjadi di perusahaan kita yang berada di Kliamantan dan juga di.. Malaya. Malaysia tempat dimana Malda dan Satria saat ini bernaung."


Deg!


Deg!


"Saat kalian membaca suart ini, berati Mak dan Papi sudah tiada. Karena kami tahu kapan mereka berencana untuk membunuh kami. Mereka menyuruh orang bayaran untuk mensabotase mobil milik papi Kalian hingga rem nya blong dan terjadi kecelakan hingga mobil itu jatuh ke jurang dan menabrak pohon hingga hangus terbakar!"


Dduuaarr!!


"Astaghfirullah!"

__ADS_1


"Allahu akbar!"


Deg!


Papi Lana menoleh pada pintu kamar dimana Malda dan Satria yang kini sedang terpaku dan terkejut dengan ucapannya.


"Masuk sayang, sini Nak. Surat Oma ini berkaitan dengan kalian berdua!" Ucap Papi Lana pada Malda dan Satria yang kini mengangguk setuju.


Keduanya pun masuk dan duduk di samping Mmai kinara yang kini sudha terjaga baru saja karena suara lengkingan Malda dan Satria.


"Maaf mami.. Kakak terkejut.." lirih Malda merasa bersalah.


Mami Kinara tersenyum, ia mengelus wajah pucat Malda dengan sayang. "Tak apa, nanti mami bisa istirahat lagi kok." Malda mengangguk.


Kemudian papi Lana kembali melanjutkan membaca surat dari kedua orang tuanya untuk mereka semua.


"Mak dan Papi sudah tahu akan rencana pembunuhan ini. Tetapi tidak memiliki bukti. Bukan tidak punya. Ada, tetapi terjatuh saat kami menyelamatkan diri dari kejaran mereka semua yang berjumlah dua puluh orang.


Untung saja papi kalian cekatan menyelamatkan nyawa kami berdua. Jika tidak, hingga saat ini mungkin jasad kami tidak kalian temukan karena di buang ke laut.


Bukti itu jatuh di sebuah selokan di dekat bandara saat kami berlari menyelamatkan ditri dua bulan yang lalu.


Dan saat ini, kami sudha tahu siapa pembunuh dan otak dibalik kecelakaan untuk kami berdua saat ini.


Benar kata mak kalian. Papi sendiri sudah melihat siapa orang itu. Maka dengar kan papi baik-baik!"

__ADS_1


Papi Lana menghentikan bacaannya dan membuka lipatan satunya lagi. Mereka melihat itu dan menunggu dnegna jantung berdegup kencang tentang sambungan surat itu.


__ADS_2