Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Lebih baik tidak memiliki sama sekali!


__ADS_3

Malda mengelus lembut kepala Satria.


Apa yang membuat mu sampai menangis sesegukan seperti ini Bang? Ada apa denganku? Kenapa kamu harus pergi disaat umurku tujuh belas tahun? Apakah semua ini pensehat istana yang mengatakannya? Tetapi kenapa? Ketentuan apa yang kamu maksud? Jangan membuatku berpikir hal buruk terhadap hubungan kita! Batin Malda masih saja dengan tangan mengusap kepal Satria yang baru saja terlelap setelah terlalu lelah menangis.


Buliran bening kembali menetes di pipi Satria. Ia terisak kembali.


Jawab Bang Satria! Sebenarnya ini ada apa? Kenapa kamu lebih memilih diam?! Aku tahu kamu mendengarku Bang! Jawab aku Bang! Sentak Malda di dalam hatinya.


Deg, deg, deg..


Jantung Satria berdegup tidak karuan saat ini. Air mata itu terus berlelehan di pipinya yang saat ini sedang berada di perut Malda.


Satria tersedu. Tubuhnya berguncang. Seiring dengan suara tangisannya yang terus terdengar. Malda pun demikian.


Ia pun ikut mennagis. "Jawab Bang. Ada apa dengan mu? Kenapa kamu menangis seperti ini?ketentuan? Ketentuan apa yang dibuat oleh pensehat istana? Tidak bisakah di hentikan? Haruskah kamu berkorban untukku Bang satria? Bukankah kamu juga orang malaya sama sepertiku! Lantas kenapa kamu yang harus pergi?? Hiks.. Jawab Bang Satria!" seru Malda dengan suara rendahnya.

__ADS_1


Satria tidak bisamenjawabnya karena ia pun berat untuk menjelaskan hal ini. "Dengarkan aku Bnag Satria! Daripada aku harus kehilangan mu, lebih baik aku kehilangan kerajaan ini!"


Ddduuuaaarrr!!!


Petir menyambar dilaur rumah mereka dengan kuatnya hingga membakar salah satu pohon di dekat rumah itu hingga terbelah dua.


Malda tidak peduli. Yang ia inginkan hanya Satria. Satria yang mendengarnya pun terlonjak kaget dan segera duduk.


"Apa yang kamu katakan sayang! Jangan katakan hal seperti itu! Kamu tidak boleh kehilangan kerajaan ini. Karena kerajaan ini salah satu amnah dari ayahanda untukmu." Ujar Satria yang membuat malda tertawa sumbang padanya.


Tatapan matanya begitu sendu saat ini. "Nggak kan Bang? Kamu tidak akan sanggup kehilanganku, begitu juga dengan mu. Daripada aku harus kehilangan mu lebih baik aku tidak memiliki istana kerajaan ini sama sekali!"


Ddduuuaaarr!!


"Buat apa aku memiliki istana ini sementara Kamu tidak disamping ku untk mendampingiku? Jangan berbohong lagi padaku Bnag Satria! Aku tahu semua isis hatimu.." lirih Malda dengans segera berlari masuk ke kamar mandi dan mengunci diri disana.

__ADS_1


Satria yang terkejut langsung saja mengejarnya. Dengan air mata yang sudah beruraian satria mencoba untuk kuat berbicara.


"Sayang, buka dulu pintunya. Abang mau ngomong sama kamu. Please.." pintanya degan sangat.


Malda tidak peduli. Ia terus menangis seorang diri di dalam kamar mandi. Ia tergugu saat mengetahui yang sebenarnya.


Satria pun ikut tersedu. "Hiks.. Sayang. Buka dulu pintunya. Abang mau ngomong.." lirih Satria dengan tersendat karena sesegukan.


Tetapi Malda tetap pada pendiriannya. Sakit sekali hatinya saat menyadari ketentuan yang sudah sedari duu ayahnda nya tuliskan sampai-sampai Ibunda nya pun pergi karena ketentuan itu.


Ketentuan yang sangat menyiksa bagi mereka pasangan yang saling mencintai, saling terikat dan saling membutuhkan satu sama lain.


"Hiks.. Aku tidak mau perturan itu! Buat apa aku dipersatukan jika harus dipisahkan? Pengorbanan? Tidak! Aku akan mematahakn ketentuan ini! Apapun resikonya, aku akan hadapi. Sekalipun aku kehilangn istana ini. Lebih baik kau kehilangan istana ini yang tenggelam ke tanah daripada aku hars kehilang suamiku!" tekad malda di dalam hatinya.


Sementara Satria masih sesegukan di depan pintu kamar mandi. Ia terus berusaha menggedor pintu itu hingga tangannya melemah dan terjatuh di lantai dengan mata terpejam erat.

__ADS_1


Sedangkan Malda tidak menyadari itu.


__ADS_2