
Setelah selesai dengan bermediasi, kini keduanya sedang terlelap. Malda tidur di ranjang, sedang Satria di kursi panjang dekat dengan ranjangnya.
Lebih tepatnya di kaki Malda saat ini. Keduanya terlelap begitu lama hingga suara alaram dari ponsel Malda berdenging.
Kriiingggg..
"Astaghfirullah!" Pekiknya spontanm denmgan terlonjak kaget saat alaram itu berbunyi dengan kuat di telinganya.
Malda mengambil ponsel itu dan segera mematikan alram itu. Ia segera merenggangka otot-ototnya yang sedikit kaku.
Ternyata Satria belum juga bangun. Ia amsih saja terlelap. Ingin dibangunkan, tetapi tidak tega. Jadilah Malda masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya dan akan melaksanakn sholat ashar yang hampir habis waktunya.
Malda berdiri tepat disamping Satria yang saat ini masih terlelap. Aroma sabun yang begitu memabukkan membuat mata itu terbuka perlahan.
Terlihat seorang gadis cantik dalam balutan mukenah sedang mengangkat takbir kemudian sujud.
Satria tersenyum. Tetapi tak lama. Setelahnya ia bangkit dengan terburu-buru saat melihat diluar jenela matahari semakin turun.
Ia bergegas mandi sekalian membawa baju gantinya kesana. Cukup menit saja, Satria sudah selesai.
Malda sangat khusyu' dalam berzikir hingga tidak sadar jika Satria sudah berdiri dihadapannya dan mulai melakukan sholat ashar.
Mata itu terbuka saat Satria memanggilnya untuk melaksanakan sholat maghrib berjamaah sebelum acara pernikahan keduanya di gelar.
__ADS_1
Mereka pun mulai melaksanakan ibadah sholat maghrib dan disambung dengan sholat isya.
Selepas isya, rumah Tuan kasmir sudah ramai didatangi oleh orang-orang penting yang sengaja dipanggil untuk menyaksikan pernikahan keduanya.
Keduanya kini duduk denagn saling berhadaopan dengan Pakcik Burhan yang siap menajdi wali nikah untuk keponakannya.
Anak dari Abangnya.
Mereka semua sudah tahu, jika Malda ratu telaga Biru sudah kemabli seperti yang disebut di dalam sebuah kitab kuno.
Satria menjabat tangan Ayahnya dan mulai melafazdkan ijab Qobul atas nama Malda untuk mengesahkan keduanya.
Karena dengan keduanya bersatu, maka kekuatan mereka akan semakin bertambah. Kekuatan penyatuan mereka berdua baru terbuka separuhnya, maka dari itu Raja Apilong mengirimkan tiga orang pendekar untuk melenyapkan Malda dan juga keponakan serta cucunya itu.
Satria menggenggam erat tangan ayahanda nya. "Putraku, Satria!"
"Saya Ayahanda!"
"Ayah Nikahkan dan kawin kan Engkau dengan keponakan Ayah yang bernama Maldalya binti datok Amirullah Syam dengan mas kawin seperangkat alat sholat, satu buah mushaf AlQur'an dan perhiasan emas seberat sepuluh gram dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Maldalya untuk saya dengan mas kawin seperangkat alat sholat, satu buah mushaf Alqur'an dan perhiasan emas seberat sepuluh gram dibayar tunai!" jawab Satria dengan lantang.
Hingga terdengar sedikit gemuruh dilangit sana. Dan juga istana raja Apilong saat ini.
__ADS_1
Ia mengepalkan tangannya dengan erat saat merasakan getaran yang hadir itu merupakan getaran kecil dari kekuatan Malda dan Satria.
"Eeerrgggttthh.. Jahannam! Kau sudah kemabli dan bersatu rupanya? akan saya tunggu kedatangan kalian berdua keistana ini. Dan saat itu terjadi, kalian berdua akan mati di tangan raja Apilong yang paling kuat dan perkasa!" ia menyeringai jahat saat merasakn getran kecil itu semakin terasa.
Sementara Satria saat ini sedang memasangkan mahar pemberiannya pada Malda. Perhiasan emas yang sengaja dibelinya saat di Medan pernah berjalan-jalan kesebuah pusat perbelanjaan yang terkenal di kota Medan, ia membelinya karena merasa tertarik dengan perhiasan itu.
Rencananya ingin ia berikan sebagai hadiah kepada Malda. Tetapi tidak jadi saat sang Ayah mengatakan jika mereka berdua harus bersatu dan menumpaskan kejahatan Raja Apilong.
"Sudah," ucapnya pada Malda yang kini tersenyum manis padanya.
satria mengecup keningnya dan muali berdoa. Doa yang menggetarklan kembali tempat mereka bernaung membuat raja Apilong lagi dan lagi semakin kesal kepada mereka berdua karena terganggu dengan getaran kecil tetapi berdenyut hingga ke jantung nya.
Malda tersenyum, ia mengecup tangan Satria yang kini tersulur padanya.
Keduanya pun kini sudah sah menjadi suami istri. Penyatuan kekuatan itu akan segera terjadi. Dan itu akan terjadi pada tengah malam nanti.
Tempat penyatuan itu sudah Satria siapakn sedari siang tadi melalui penasehat istana, Tuan Kasmir.
Kini mereka sedang berbincang hangat dengan semua tamu yang diundang oleh Tuan Kasmir. Mereka bertanya-tanya bagaimana keadaan Malda dan juga Satria saat berada di negeri lain selain mereka.
Satria dan Malda pun tidak segan untuk menceritakannya. Keduanya terlihat begitu kompak dan sanagt cocok.
Walau terpaut usia yang cukup jauh, tetapi keduanya bisa mengimbanginya.
__ADS_1