Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Usut sampai tuntas!


__ADS_3

"Ck. Kenapa harus banyak gini sih lembaran suratnya?? Nggak pegal apa nulisnya? Ck. 'Kan ada ponsel untuk merekam?? Kenapa mesti di tulis? Hingga berlembar-lembar pula begini! Ck!" gerutu Papi Lana saat melihat lembaran surat itu yang berjumlah dua belas lembar.


Semua yang melihat itu hanya mampu terdiam. Tidak ada yang terkekeh, kecuali mami Kinara dan Papi Ali yang paham maksud dari lembaran-lembaran itu.


"Itu memang tujuan papi, Bang Lana. Mereka ingin meninggalkan berkas dan tulisan mereka sebagai barang bukti untuk kita bisa lapor polisi!"


Deg!


Papi Lana melihat adik dan adik iparnya yang kini mengangguk pada mereka berdua. Ia menghela nafas panjang.


"Hem.. Kita liat dulu apa lagi isinya selain tulisan tangan mak dan papi. Pasti ada hal lai yang ingin beliau katakan disini. Flashdisk pun ada kok. bahkan ponsel mereka pun katanya ada dan tersimpan di dalam berangkas di kamar ini. Ali!"


"Iya Bang?"


"Cari dan buka brangkas itu. Kamu tahu kan sandinya apa?"


"Hem, tahu lah. Kan papi udah kasi tahu kita waktu itu? Iya kan sayang?" jawabnya sambil mencari pembenaran dari mami Kinara yang kini mengangguk sambil tersenyum lirih padanya.


"Sambil Ali membuka brangkas milik almarhum Mak dan Papi, kita teruskan lagi isi surat ini apa. Ehem.


Jangan marah jika lembaran nya banyak bang!" Papi lana meringis, yang disambut gelak tawa mereka semua.

__ADS_1


"Ck. Bisa-bisanya ngancam disaat udah nggak ada!" ketus papi Lana tetapi terkekeh, "Kalau nggak dibilangin, kamu bakalan protes kayak mobil truk yang kepanjangan nggak ada tempat duduknya! Haisshh.."


Lagi mereka semua tertawa mendengar bacaan papi Lana yang merupakan tulisan Opa Gilang itu.


"Ada saja si papi! Kapan pula Abang kayak gitu! Protes 'kan ada sebab nya?" ucapnya lagi masih memegang lembaran surat yang sudah di jepit rapat itu.


"Jangan membantah bang! Ya Allah papi!!!" geramnya yang di tertawakan lagi oleh mereka semua. "Haisshh.. Iya, iya, Abang nggak akan protes! Puas??!" kesalnya, kemudian kembali melototkam matanya saat melihat, "Sangat puas! Tulisannya?? Ya Allah.. Papiii!!!" lagi dan lagi ia dibuat kesal dengan tulisan itu.


Jadilah kamar itu dipenuhi gelak tawa mereka yang kini sedang melihat wajah kesal Papi Lana pada surat yang saat ini. Papi Ali pun ikut tertawa saat melihat wajah kesal Abang iparnya itu.


Malda segera memeluknya dengan erat. Papi Lana menghembuskan nafas panjang.


Semuanya terkekeh lagi. "Di lembaran surat yang banyak ini, sudah dirangkum oleh mak kamu semua untuk mengusut sampai tuntas tentang kematian kami berdua. Papi bangga sekali dengan ingatan mak kalian yang sangat tajam dan juga cerdas! I love you sayang!!" Papi Lana membacanya dengan malas.


Mami Kinara tertawa pelan, "I love you more Darling!" balas mami Kinara yang membuat Papi Lana melotot pada surat yang ada di tangannya itu. Yang memang benar itu jawaban dari sang Oma untuk Opa Gilang.


"Haisshh.. Keduanya kolaborasi ya ternyata menulis surat ini! Ck!" decaknya kesal.


Mereka terkekeh-kekeh melihat Papi Lana sangat kesal dengan surat itu.


"Ini brangkas nya Bang. Sudah terbuka!" katanya pada Papi Lana yang kini mengangguk padanya.

__ADS_1


"Di dalam brangkas itu tersimpan ponsel. Berkas-berkas penting semua perusahaan kita dan juga surat warisan yang asli untuk kalian semua. Kami sudah membaginya dengan adil menurut hukum syariat kita. Semuanya sama rata dan adil! Berkas yang papi berikan waktu itu, hanya salinan nya saja.


Buka ponsel kami berdua maka kalian akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan kalian semua tentang kasus pembunuhan berencana untuk kami berdua. Disana lengkap dan jelas. Karena mak kalian yang sendiri yang mengumpulkannya. Papi akui mak kalian sangat cerdas! Hingga hal terkecil pun tidak terlewat olehnya.


Di Malaya. Tepatnya di kerajaan Malda, Opa udah menulusupkan dua orang kepercayaan Opa disana. Mereka lah yang melaporkan segala perkembangan kerjaan kalian disana.


Satria??"


"Iya Opa?" sahut Satria seolah bicara dengan Opa Gilang saat ini.


"Untuk sementara biarkan kedua pangeran mu berada di Indonesia bersama mami Kinara dan Papi Ali. Mereka bisa mengurus keduanya hingga mereka siap dan pantas untuk kembali ke Malaya.


Saat ini kerajaan mu sedikit goyang lantaran salah satu orang kepercayaan mu jatuh sakit. Bukan begitu??"


Satria menganguk, "benar. Panglima Dani tiba-tiba saja jatuh sakit yang entah karena apa. Abang sendiri pun belum tahu karena masih disini dan kita sedang berduka. Setelah masa berkabung selesai, maka Abang akan kembali ke Malaya bersama Malda." Jawabnya yang diangguki oleh semuanya tetapi tidak dengan Papi Lana.


"Tidak boleh seperti itu! Kamu harus balik kesana setelah kasus kematian Opa dan Oma terungkap siapa pembunuh kami berdua dan sudah ditahan! Kalian harus kembali! Tampuk kerajaan akan kosong, karena kakek Filips juga sedang sakit-sakitan saat ini! Maka dari itu, papi berpesan untuk kalian berdua.


Terutama Satria dan Malda yang memiliki ilmu kanuragan tinggi, coba terawang siapa saja dan apa yang terjadi saat ini disana, kemudian cepat ambil keputusan sebelum semuanya terlambat. Sedikit saja terlambat, maka apa yang kalian usahakan selama setahun ini akan hancur begitu saja!" Ujar Papi Lana masih membaca surat itu yang membuat Malda dan Satria kini saling pandang dan mengangguk patuh.


Walau hanya selembar surat, tetapi itu tulisan tangan Opa Gilang dan Oma Alisa. Yang memang harus mereka kerjakan. Apa yang mereka katakan itu adalah perintah untuk keduanya.

__ADS_1


__ADS_2