
Raja Apilong menatap nanar pada Malda dan Satria. Cucu yang selama enam belas tahun ini ia cari keberadaan nya kemana pun.
Ia rela menumbalkan banyak gadis perawan demi mendapatkan kesaktian agar bisa melawan kekuatan suci dari Malda dan Satria.
Tubuh renta itu tergolek tidak berdaya saat mata keduanya bertatapan. Tatapan memelasnya ia tujukan pada Maldadan Satria.
Malda melengos sedang Satria tersenyum lembut padanya. "Maafkan kami Kakek. Kami terpaksa mengambil semua kuasa mu. Karenakuasa mu itu hitam dan tidak murni. Selama belasan tahun ini sudah banyak gadis yang Kakek korbankan demi ilmu kanuragan iblis itu. Sudah cukup. Mereka sangat tersiksa saat ini. Setelah ini kami akan menguburkan mereka dengan layak. Dan untuk kakek, maaf.. Kami terpaksa meninggalkan kakek di hutan ilusi ini. Akan ada pengawal kami yang menemani kakek disana nanti. Jangan membuat ulah lagi Kek. Bertaubatlah sebelum ajal menjemput kakek. Kami permisi, ayo sayang. Kita harus menemui panglima Dani dan dayang As dulu sebelum kita pulang kerumah."
"Hem," sahut Malda
Tubuhnya tetap membelakangi raja Apilong yang kini menatapnya dengan memelas dan sendu.
"Malda..." lirihnya dengan air mata beruraian
Malda tidak peduli. Iatetap berjalan diatas permukaan air bening berwarna kebiruan telaga biru itu.
__ADS_1
Satria memeluknya dengan erat. Mereka menemui dayang As dan Panglima Dani yang kini tertegun melihat keduanya yang sudah berubah menjadi Malda dan Satria lagi di pandangan keduanya.
"Dayang As, Panglima Dani." Tegur Satria pada keduanya yang terkejut kemudian mengrjab.
Satria terkekeh, Malda sudah memejamkan kedua matanya.
"Obati mereka semua. Panggil Pengawal kita dan juga Penasehat istana. Katakan padanya jika banyak korban penumbalan yang dilakukan raja Apilong di gudang bawah tanah di sebelah kiri istana. Kemudian, bawa semua hewan ini ke tamat satwa istana yang berada di sebelah utara istana. Biarkan mereka semua menetap disana. Karena taman satwa itu yang akan menjadi rumah mereka."
"Panglima."
"Katakan pada penasehat istana, jika istana saat ini sudah bersih dari hawa hitam. Umumkan segera pada seluruh masyarakat diluar istana jika Ratu mereka yang asli sudah kembali. Dan juga mintalah bantuan dari masyarakat untuk menguburkan jasad ribuan gadis yang tidak berdosa itu. Kami harus kembali. Kekuatan kami sudah semakin melemah. Butuh waktu lama untuk kami kembali lagi."
"Kami harus bermediasi di bawah air telaga ini. Untuk itu, selalu jaga telaga ini agar tidak ada yang sengaja berbuat jahat atau apapun selama kami bersemedi untuk memulihkan kekuatan kami berdua. Jaga raga kami yang berada di rumah kita. Jika kalian sudah selesai, bawa raga kami ke istana. Karena saat kami bangun nanti kami sudah berada di sana."
"Dan ya, tempatkan pengawal terbaik serta dayang istana sekitar sepuluh orang untuk mengurus raja Apilong selama beliau tinggal di hutan ilusi. Bangunkan sebuah gubuk untuknya agar ia bisa dirawat disana."
__ADS_1
Panglima Dani mengangguk "Baik yang mulia. Titah paduka akan segera kami laksanakan!"
"Terimakasih Panglima. Dayang As.." ucap Satria lagi pada dayang As yang kini menunduk siap menerima perintah.
"Selama kami belum bangkit dari semedi kami, kalian berdua yang bertugas untuk mengurus raga kami. Serahkan tugas kerajaan pada penasehat istana. Beliau tahu apa yang harus ia perbuat nantinya. Kalian berdua harus menjaga kami. Tempatkan pengawal terbaik kita untuk menjaga raga kami. Selalu basahi tubuh kami dengan air wudhu setiap sholat lima waktu tiba. Dan.. Jadikan pohon gaharu ini untuk obat bagi semua orang termasuk kami berdua. Cukup dengan di tumbuk dan di oleskan pada tubuh kami setiap pagi. Setelah satu jam bersihkan."
"Lakukan sampai kami terbangun dari semedi. Kami harus pergi sekarang. Kekuatan kami sudah semakin memudar. Pulanglah ke rumah dan urus raga kami. Serahkan tugas kalian yang disini kepada pengawal lain." Imbuh Satria dan diangguki oleh kedua orang itu.
"Baik yang mulia.."
"Hem, jaga istana sampai kami kembali."
"Tentu yang mulia. Anda tidak perlu khawatir. Tetap fokus bersemedi saja." Balas Panglima Dani.
"Ya, kami pergi.." ucap Satria dengan tubuh yang tinggal seperti bayangan.
__ADS_1
Keduanya pun turun ke telaga biru dan menghilang disana seiring gelombang dan raiak kecil di telaga itu berhenti dan tenang kembali.