
Pukul delapan tiga puluh pagi Malda dan Satria sudah tiba dirumah sakit. Kedua nya berdiri dilaur karena pintu masuk masih ditutup karena para dokter dan perawatnya sedang piket dan apel pagi.
Malda dan Satria menunggu dengan sabar. Hingga pintu terbuka barulah keduanya masuk. Sudah terlihat Papi Ali dan Kedua orang tua nya disana.
Deg, deg, deg..
Gerakan kaki Malda melemah seketika saat melihat senyum manis dari kedua orang yang kini berada disamping papi Ali.
"Baru datang Nak?" sapanya pada Malda yang kini sudah berderaian air mata dan sesegukan di pelukan Satria.
Satria pun demikian. Kedua orang itu memeluk Malda dan Satria dengan erat.
"Jangan Menangis.. Setiap yang bernyawa pasti akan mati.." bisik keduanya di telinga Malda dan Satria yang semakin membuatnya tersedu dan sesegukan.
Papi Ali jatuh terduduk saat menyadari jika yang Malda katakan itu adalah kedua orang yang sangat mereka sayangi.
"Ya Allah.." lirihnya dnegan dada yang begitu sesak. Ia bangkit dan memeluk kedua orang itu. Ia pun menangis.
"Jangan menangis! Ih, malu euuy!" celutuk Oma Alisa pada Ali yang kini luruh ke lantai dengan Opa Gilang memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Pemuda paruh baya yang masih tampan itu tertawa melihat menaantunya menangis sampai sesegukan seperti itu.
Mami Kinara menatapnya dengan nanar melalui pintu yang terbuka itu. Buliran bening terus mengalir di pipinya dengan deras hingga ia terisak.
Papi Ali yang tahu jika sang istri menangis, melepas pelukannya dari Opa Gilang. Sebelumnya ia memeluk erat sekali lagi sang papi kebanggan mereka semua itu.
Walau mereka sering adu mulut, apalagi dengan papi Lana. Tetap saja beliau sangat menyayangi mereka semua.
Opa Gilang tersenyum teduh. Tampan sekali. Lagi dan lagi papi Ali tersedu. Beliau mengusap air mata papi Ali dan memeluknya kembali.
"Sudah.. Jangan menangis. Papi tahu kalian itu sedang bahagia bukan?"
Papi Ali mengangguk. Ia pun segera masuk dan menemui mami Kinara yang semakin tersedu kala melihat wajah papi Ali yang basah dengan air mata.
Malda dan Satria mengurai pelukannya dari tubuh Oma Alisa yang kini tersenyum begitu cantik. Walau wajah keduanya terlihat kuyu dan pucat. Tetap saja sangat terlihat cantik dan tampan.
Malda bisa melihat jika sudah ada dua orang pengawal kini mengikuti keduanya.
"Ayo masuk. Jangan menangis lagi. Masa' iya baru bertemu Oma udah nangis saja sih?"
__ADS_1
Malda tidak menjawab. Ia lagi dan lagi memeluk tubuh yang sudah tercium wangi aroma mawar dan melati itu.
Satria tidak sanggup melihat pengawal itu. Ia memilih menunduk. Opa Gilang merangkulnya dan membawanya masuk kedalam ruangan mami Kinara yang kini menatap keduanya dengan tersenyum tapi sangat sendu.
Mereka berempat berbicara bersama sambil menunggu papi Lana dan Mami Maura yang kini dalam perjalanan menuju kerumah sakit.
Uwak Ira dan Uwak Raga pun sedang dalam perjalanan. Mereka menyuruh semua untuk datang kerumah sakit karena ada hal yang ingin Opa dan Oma katakan kepada mereka semua.
Bersangkutan dengan harta keduanya yang saat ini sedang berkembang pesat. Kedua anak mereka yang di Bandung pun sudah dalam perjalanan menuju kerumah sakit dimana mami Kinara berada.
Kedua orang itu mengadakan pertemuan mendadak yang membuat semua anaknya jadi was was dan khawatir.
Malda tidak kuasa untuk tidak menangis ketika melihat senyum teduh dan lembut tapi bercahaya dari kedua pasangan beda usia itu.
Satria memeluk Malda untuk menguatkannya.
...****************...
Beberapa bab lagi tamat ye?
__ADS_1