Kembalinya Ratu Telaga Biru

Kembalinya Ratu Telaga Biru
Pengorbanan Malda untuk Satria


__ADS_3

Satria yang sudah mendengar cerita dari Panglima Dani segera berlari menuju ke kudanya di depan rumah mereka deng tergesa.


Di ikuti Panglima Dani dan beberapa pengawal mengikutinya. Jangan tanya sepertiapa satriasaat ini. wajah itu kembali sembab dengan air mata saat mendengar cerita dari pangliam dani jika malda akan mengorbankan kerajaannya demi dirinya.


Ia akan lebih menenggelamkan istana itu ke dalam telaga biru dan ia ikut kesana bersamanya. Satria tidak bisa menerima semua itu.


Lebih baik ia menjauh dari Malda daripada harus melihat Malda tenggelam di dalam telaga biru bersama istananya.


Ia memacu kudanya dengan cepat menembus hutan ilusi dan kembali ke rumah penasehat istana dengan air mata yang terus bercucuran.


*


*


*


Sedangkan Malda saat ini sedang berhadapan dengan penasehat istana yaitu tuan Kasmir.


Air mata Malda bercucuran saat Tuan Kasmir mengatakan hanya satu jalan keluarnya.


"Apakah tidak ada jalan lain Paman Kasmir? Kenapa harus dengan dirinya pergi? Atau aku harus masuk kembali ke dalam telga biru yang belum tentu bisa bangkit lagi? Hiks.." isak Malda dengan terus menangis di pelukan dayang As yang kini juga ikut menangis.


Tuan Kasmir pun tidak kuasa untuk tidak menangis. "Maaf Nak. Inilah yang dulu ayahmu lakukan. Ini kitab itu coba kamu baca dan simak baik-baik. Jika kamu mengerti dan paham berarti kamu tahu jalan keluarnya. Cuma satu diantara kalian yang hanya bisa hidup dan salah satu dari kalian yang harus berkorban.." lirihnya dengan dada yang semakin sesak.


Malda mengambil kitab itu dan membacanya. Cukup lama ia membaca kitab itu hingga di akhir kitab itu ia tersenyum manis saat tahu dari maksud tulisan sang Ayah, Datok Amirullah syam. Penguasa kerajaan telaga Biru.


Tuan Kasmir dan dayang As keheranan melihat Malda tersenyum. "Ayo, kita kesana Tuan Kasmir! Aku akan menyelesaikan hari ini juga!" imbuhnya dengan semangat yang membara.

__ADS_1


"tapi Nak-,"


"Paman Percaya kan padaku jika aku tahu maksud dan tujuan dari kitab ini?"


Deg!


Penasehat istana tertegun. "Kamu tahu maksudnya? Apa? Coba katakan!"


Malda tersenyum, "setelah tugasku selesai, baru aku katakan! Ayo, sebentar lagi Bang Satria pun akan datang untuk menyusulku. Sebelum ia tiba di sini. Lebihbaik sekarang kita menuju ke telaga biru. Aku akan menutup akses raja apilong terlebih dahulu." imbuhnya dengan segera memejamkan matanya.


Aura kebiruan keluar dari tubuhnya dan berpendar ke seluruh rumah penasehat istana. Satria yang melihat nan jauh disana kekuatan Malda sudah mulai kelihatan itu tandanya Malda sedang memulai kegiatannya yang semakin membuat Satria semakin cepat memacu kudanya.


"Mari paman." katanya dengan senyum manis tersungging di bibirnya.


Malda bangkit dan di ikuti oleh dayang As dan tuan Kasmir menuju ke telaga Biru melalui jalan rahasia rumah penasehat istana itu.


Malda berlari mengikuti lorong rahasia itu di ikuti oleh kedua orang yang kini sedang mengikutinya.


Dum!


Satria terkejut. Ia melihat ke arah Kanan ternyata Malda sudah tiba di telaga biru. Kekuatan nya masih berpendar disana.


Satria semakin cepat memacu kudanya rasanya seperti ingin terbang kuda itu saking kencangnya.


Sementara Malda tersenyum saat melihat telaga biru yang masih sama terlihat. Hitam tetapi jernih dibawah sana. Pertanda jika telaga itu diselimuti kabut hitam yang membuat warna dari telaga itu menjadi hitam pekat.


Malda tersenyum lagi saat melihat pohon gaharu yang khasiatnya sangat banyak itu seolah membungkuk dan menghormatinya.

__ADS_1


Begitu pun dengan pohon yang tumbuh di sekitarnya mereka pun ikut membungkuk memberi hormat kepada Malda yang kini tersenyum lebar.


"Dia datang!" katanya saat mendengar suara telapak kaki kuda yang semakin mendekat kepadanya.


Satria yang sudah masuk ke dalam telaga Biru itu bisa melihat Malda yang saat ini sudah mulai mengeluarkan kekuatannya.


"Nggak! Hiks.. Kamu nggak boleh pergi sayang! Jika kamu pergi, maka Abang pun akan ikut pergi bersama mu! Apa gunanya aku hidup sendiri jika tidak ada kamu disamping ku! Tunggu Abang, Malda!" ucapnya dengan air mata yang terus bercucuran di pipi halusnya yang sangat Malda sukai.


Sedangkan Malda sudah bersiap dengan kekuatannya. "Selamat tinggal Bang Satria! Semoga kita betemu di ketujuh ke abadian.."


Blam!


Byuuurrr..


"Yang mulia!!!" pekik dayang As


"Malda.." lirih penasehat istana.


Satria semakin menangis.


"Nggak! Abang ikut bersama kamu! Tidaaakkk!! Maldaaaaa!!!" teriak Satria begitu kuat hingga burung yang ada disana beterbangan ke udara karena kerasnya teriakan Satria.


Ia semakin tersedu kala melihat cahaya dari atas telaga itu menghilang seiring dengan warna telaga yang berubah menjadi hitam kembali


"Tidaaaaakkk!! Malda kuu!!!" teriaknya dengan tiba-tiba ia menyentak kuda miliknya dan dirinya terlempar masuk ke dalam telaga biru itu.


Byuurrr!!

__ADS_1


"Tuanku!" pekik panglima Dani merasa bersalah.


Semua yang melihatnya ikut menangis dan mereka jatuh terduduk di rerumputan telaga biru itu.


__ADS_2